Mutiara Terpendam di Tengah Tanah Papua Lembah Baliem, rumah suku Dani.(foto: Instagram @baliemfest2018)

KOTA Wamena berbeda dari kota-kota lain di Papua. Tak seperti kota besar lainnya, semisal Timika, Jayapura, Sorong, dan Merauke, Wamena bagaikan mutiara yang belum tersentuh di pedalaman pegunungan tengah Papua. Ibu kota Kabupaten Jayawijaya ini terletak di tengah Lembah Baliem yang indah.

Lembah luas tersebut menjadi rumah bagi suku Dani dan beberapa subsuku lainnya. Dalam bahasa Dani, Wamena yang terdiri dari dua kata Wa dan Mena berarti 'babi jinak'. Lembah Baliem dan sungai berliku yang mengalir di dalamnya memberikan penghidupan bagi suku-suku yang berdiam di sana. Keindahan alam dan kesuburan tanahnya membuat lembah berukuran panjang 72 km dan lebar 15 km sampai 31 km ini menghijau.

BACA JUGA: Di Balik Kerusuhan, Ini Dia Surga Tersembunyi di Manokwari

lembah baliem
Lembah Baliem tampak menghijau dari kejauhan. (foto: Instagram @jelajah_negeriku)

Sungai Baliem yang membelah lembah mengalir dari muaranya di Gunung Trikora Utara ke Grand Valley dan bermuara di Laut Arafura. Alirannya yang berliku-liku ke bawah menjadi sungai berlumpur besar yang perlahan bermuara di Laut Arafura. Itulah yang membuat Lembah Baliem hijau diwarnai ladang penduduk.

Dataran tinggi di pegunungan tengah Papua ini terletak di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Dinding gunung hijau yang curam mengelilingi sekitar wilayah ini. Lembah indah ini pertama kali ditemukan orang Amerika bernama Richard Archbold pada 23 Juni 1938. Dari pesawat amfibi, ia melihat lembah yang mengagumkan dihiasi dengan ladang hijau ubi jalar bertingkat yang rapi berlatar puncak gunung yang terjal.

sungai baliem
Sungai membelah Lembah Baliem. (foto: Instagram @big_fun_world)

Lembah Baliem dikenal sebagai rumah bagi suku Dani. Dengan alat-alat sederhana dari batu dan tulang, suku yang dijuluki 'pejuang yang lembut' itu membuat ladang-ladang hijau di sekitar bukit. Kehidupan mereka berpusat pada pertanian, bercocok tanam umbi-umbian dan memelihara babi. Selain itu, mereka pun membangun pos dan menara pengintai untuk mempertahankan lembah mereka dari suku musuh.

BACA JUGA: Liburan ke Makassar, Jangan Lupa Mampir ke Lima Wisata Kekinian Ini

Bersama suku-suku lainnya, Yali dan Lani, warga di Lembah Baliem hidup tersebar di komunitas kecil dekat kebun di lereng gunung terjal. Biasanya, mereka mengolah pisang, talas, ubi jalar, jahe, tembakau, dan mentimun.

honai
Honai menjadi rumah bagi penduduk Lembah Baliem. (foto: Instagram @adivinis)

Yang khas, warga di Lembah Baliem tinggal di rumah tradisional yang disebut honai. Honai laki-laki dan perempuan dipisahkan. Atap bangunan dari jerami tebal menjaga honai tetap sejuk di siang hari dan hangat di malam yang amat dingin.


Mumi dan Pasir Putih di Ketinggian

pasir putih lembah baliem
Pasir putih di Lembah Baliem. (foto: indonesiakaya)

Saat mengunjungi Lembah Baliem, kamu akan terkagum dengan bentang alamnya yang indah. Tak hanya indah, alam Papua yang ekstrem menyimpan anomali unik yang tak ada di daerah lain. Salah satunya ialah pasir putih di Lembah Baliem. Pasir putih nan halus biasanya ditemukan di pantai, tapi di Lembah Baliem yang jauh dari pesisir pantai terdapat pasir putih. Tekstur pasir putih yang ada di Lembah Baliem benar-benar mirip yang ada di pantai. Konon, pasir putih Lembah Baliem dulunya merupakan danau yang kini menjadi daratan.

Tak hanya alamnya yang akan membuat kamu terkesima, budaya suku Dani yang hidup di dalamnya pun mengundang decak kagum. Honai-honai mereka masih terlihat tradisional. Alat berburu dan bercocok tanam mereka pun masih sederhana, tak tersentuh modernisasi.

BACA JUGA: Kota-Kota Paling Ramah di Dunia, Apakah Tempat Kamu Tinggal Masuk Daftar?

Yang paling unik, masyarakat suku Dani menyimpan mumi tetua mereka. Mumi panglima perang suku Dani yang berusia 370 tahun lebih masih tersimpan di daerah ini. Suku Dani, sang penguasa Lembah Baliem, memang punya tradisi memumikan jenazah. Mumi berusia 370 tahun lebih itu masih disimpan dan terawat di Desa Jiwika, Distrik Kurulu, Wamena, Papua.

Salah satu mumi di Lembah Baliem. (foto: Instagram @dmitri.karmanov)

Sosok mumi tersebut berada dalam posisi duduk dengan kaki terlipat. Wajah berupa tengkorak menganga dan tengadah menatap langit. Pakaian lengkap khas pria Papua berupa koteka dan beberapa aksesoris pun masih melekat di tubuhnya. Mumi itu dulunya ialah seorang panglima perang suku Dani yang bernama Wimotok Mabel. Seperti namanya yang berarti ‘perang terus’, sang panglima memang gemar berperang selama hidupnya. Ketika Wimotok berangsur tua dan sakit, sebelum ajal menjemput, ia berpesan agar setelah meninggal ia tidak dibakar seperti tradisi Dani pada umumnya. Ia minta untuk dimumikan. Menurut warga kampung itu, hal tersebut dilakukan agar jasad sang panglima menjadi sebuah peringatan yang akan menyejahterakan seluruh keturunannya di masa mendatang.

Mumufikasi suku Baliem terbilang rumit. Jasad diposisikan dalam keadaan duduk, lengkap dengan pakaian kebesarannya. Setelah itu, jasad diasapi di depan api unggung selama sebulan di Honai Pilamo, rumah khusus para laki-laki. Tahap selanjutnya ialah membungkus jasad dengan daun pisang hingga mengeras jadi mumi. Tentunya proses tersebut enggak singkat. Butuh waktu 5 tahun agar mumi benar-benar kering.

Kaum pria punya tugas merawat sang mumi. Kaum pria akan melumurinya dengan minyak babi dan menyimpannya setiap malam di depan api unggun dalam Pilamo. Hal itu akan membuat mumi semakin awet tanpa harus khawatir rusak karena rayap.

Saat berkunjung ke kampung ini, kamu bisa kok melihat mumi si panglima perang. Tentunya dengan membayar sejumlah uang kepada warga. Selain di Desa Jiwika, kamu juga bisa menemukan mumi panglima perang lainnya di Kurulu, di Assologima, dan di Kurima.

mumi baliem
Salah satu mumi di Desa Aikima. (foto: Instgram @dlosek)

Selain itu, di Desa Aikima di Distrik Pisugi, dekat ibu kota Kabupaten Jayawijaya, ada sebuah mumi kepala suku yang kini tersimpan rapi. Jasad Kepala Suku Perang Mumi Aikima yang merupakan kerabat dari Mumi Agatmamente Mabel (Humomumi Wo’ogi) itu diperkirakan berusia sekitar 250 tahun. Mumi Aikima tersebut ialah Kepala Suku Perang Weropak Elosak.


Bertualang hingga Lokasi

Jalur udara jadi satu-satunya cara mencapai Wamena. (foto: Instagram @petualang_sosmed)

Satu-satunya akses ke Lembah Baliem ialah dengan terbang ke Kota Wamena. Sejumlah operator dari menyediakan penerbangan harian ke Wamena.

Karena lembah ini amatlah luas, kamu mungkin akan butuh lebih dari beberapa hari untuk menjelajah dan menikmati keindahannya. Jika hendak menginap, pilihannya ialah menghabiskan malam di rumah penduduk lokal atau menginap di hotel di daerah Wamena. Di awal hingga pertengahan Agustus, biasanya digelar Festival Lembah Baliem yang menarik perhatian banyak wisatawan dalam dan luar negeri. Itulah saat terbaik untuk berkunjung ke lembah mahaluas ini.

Meskipun demikian, kamu memang harus merogoh kantung sedikit lebih dalam untuk fasilitas dan makan di daerah ini. Hal itu karena semua kebutuhan di Wamena dikirim lewat transportasi udara. Namun, itu semua akan terbayar dengan keindahan, keunikan, dan eksotisme Lembah Baliem.(dwi)

BACA JUGA: Dulunya Kuliner ini Bentuk Perlawanan, kini Malah Jadi Favorit



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH