Musik 'Ngak Ngik Ngok' Merajalela, Koes Bersaudara Masuk Penjara Koes Bersaudara. (maxres)

SUARA orang mengetuk pintu menggugah suasana santai pagi hari kediaman Koeswoyo, 29 Juni 1965. Dia dan sang istri, Atmini, lantas menyambut ketukan. Mereka terperanjat melihat sang tamu sepasukan aparat keamanan.

Seorang komandan lalu menyerahkan secarik surat berisi perintah penahanan kepada seluruh anggota Koes Bersaudara. Mereka tak percaya anaknya terlibat kasus kriminal.

Atmini, seturut lansiran majalah Femina, Juni 1991 bertajuk “Koes Bersaudara, Bung Karno & Penjara Glodok”, hanya bisa menangis melihat keempat anaknya, Toni, Koesnomo (Nomo), Koesyono (Yon), dan Koesroyo (Yok) digelandang petugas menuju mobil tahanan.

Penahan keempat personel Koes Bersaudara memang bukan perkara kriminal, tapi berkaitan dengan aksi panggung mereka.

Setelah RRI melarang memutar lagu-lagu Koes Bersaudara, penampilan mereka justru semakin ditunggu penggemar. Panggung mereka semakin laris manis lantaran gaya panggung serupa The Everly Brothers nan kalem berubah lebih liar dengan mengusung lagu The Beatles.

“Vokal Yon yang tinggi menyanyikan lagu-lagu ciptaan John Lennon dan Paul McCartney, Toni pada gitar, Yok pada bass, dan Nomo pada drum mengiringi suara Yon sambil berjingkrak-jingkrak, melompat-lompat seperti cacing kepanasan,” sebagaimana dikutip dari Femina.

Aksi memukau mereka tenyata menyisakan masalah. Kejaksaan Negeri Istimewa Jakarta memanggil pimpinan Koes Bersaudara, Toni dan Yon. Jaksa Tinggi, Aroen SH, memberikan peringatan lisan kepada mereka terkait larangan memainkan lagu 'ngak ngik ngok'.

Bila melanggar, maka tindakan tegas berupa pembubaran, dan penyitaan alat-alat musik akan dilakukan. Larangan memainkan atau menyebarluaskan lagu-lagu barat menjadi kampanye besar pemerintahan Orde Lama.

Bung Karno pada pidato peringatan hari kemerdekaan RI, 17 Agustus 1959, menegaskan agar para pemuda dan pemudi Indonesia meninggalkan musik barat karena bagian dari imperialisme barat.

“Mengapa di kalangan engkau masih banyak yang rock n roll, rock n rollan, dansa dansa ala cha-cha musik yang ngak ngik ngek,...” ungkap Bung Karno.

Usungan mengembangkan kebudayaan nasional, dan menolak pengaruh buruk budaya barat, dijadikan dasar bagi pemerintah dan pendukung Bung Karno untuk melakukan pencekalan terhadap musik barat.

Koes Bersaudara pun jadi korban. Setelah beroleh peringatan lisan, keempatnya kembali berpentas namun berusaha memagari agar tetap memainkan lagu sendiri.

Tapi, pada sebuah penampilan tertutup pesta pribadi di sebuah rumah Jalan Jati Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, dengan penonton tamu asing dari Kedutaan Inggris dan Amerika Serikat, Koes Bersaudara kemudian tak tahan menanggapi permintaan untuk memainkan tembang andalan The Beatles. Mereka pun ngak ngik ngok.

Belum genap Yon menghabiskan lirik lagu I Saw Her Standing There, sekelompok orang di luar rumah berteriak “Dasar antek Nekolim”, sambil melempar batu. Pesta pun berakhir. Kejadian tersebut tenyata berimbas pada penangkapan Koes Bersaudara di rumah mereka.

Koes Bersaudara mendekam di penjara Glodok. Mereka berada di sel isolasi berukuran 2x3 meter persegi dengan jeruji ganda. Seminggu pertama usai penahanan, keempatnya sama sekali tak boleh dijenguk, termasuk oleh keluarga.

“Kejadian-kejadian itu luar biasa. Mungkin baru sekali ini terjadi di negeri kita orang ditahan karena memainkan musik yang tidak karuan,” dikutip Kompas, 3 Juli 1965.

Koeswoyo dan Atmini mencari cara untuk membebaskan keempat anaknya. Keduanya mendatangi berbagai instansi terkait dan juga menulis surat kepada Presiden Sukarno. Tapi, semua usaha gagal.

“Pemerintah secara resmi mengumumkan tuduhan resmi terhadap Koes Bersaudara adalah subversif kebudayaan. Penahanan sementara dibutuhkan untuk kebutuhan penyelidikan apakah Koes Bersaudara ditunggangi oleh kelompok kontra revolusioner,” tulis harian Berita Yudha, 1 Juli 1965.

Keempatnya kemudian dilepas tanpa alasan jelas pada 29 September 1965. Kepulangan mereka ke rumah pun mengagetkan kedua orang tuanya, karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

Yok Koeswoyo, seturut Frans Hartono, Kompas, 2 Juli 2010, mengungkapkan penangkapan itu merupakan bagian dari rencana besar terkait dengan dinamika politik jelang masa akhir Bung Karno.

“Dibikin seolah-olah pemerintah yang ada tidak senang sama kami, lalu kami ditangkap. Dibentuk opini seolah-olah kami tidak suka pada Sukarno,” kata Yok.

Mereka berempat tidak pernah mendendam dengan Sukarno lantaran penangkapan tersebut. “Setelah mengalami itu semua, nasionalisme kami tambah tebal. Itu makanya ada lagu ‘Nusantara’,” tutup Yok. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH