Musik Metallica Meramaikan Perayaan Seren Taun di Cisungsang Abah Usep Sukatma, pemimpin adat warga Cisungsang. yang berkedudukan setara raja. (Foto MerahPutih/Sucitra)

MerahPutih Budaya - Masyarakat adat Cisungsang, yang tinggal di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak yang masih asri, dipimpin oleh ketua adat dengan sebutan Abah. Kedudukan Abah dianggap seperti seorang raja oleh masyarakatnya sendiri.

Setiap tahun, masyarakat adat ini melakukan ritual Seren Taun, yakni ritual untuk bersyukur, dan berbagi atas hasil panen yang diterima atas kerja keras mereka dan sebagai anugerah dari yang kuasa.

Di antara aktivitas dalam perayaan yang berlangsung selama tujuh hari tersebut, ada pertunjukan kesenian untuk menghibur seluruh warga adat, maupun tamu-tamu yang datang. 

Saat menghadiri perayaan Seren Taun untuk pertama kalinya pada tahun 2014, merahputih.com dikejutkan oleh penampilan grup musik organ tunggal, reggae, bahkan mereka yang memainkan lagu-lagu Metallica. 

Hal itu tentu mengejutkan, karena mengira bahwa pertunjukan kesenian yang ditampilkan dalam ritual Seren Taun adalah semua kesenian tradisional, terutama kesenian tatar Sunda.

Menanggapi keheranan merahputih.com, Sekretaris Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang Henriana Hatra mengatakan, semua keputusan terkait aktifitas Seren Taun berada ditangan Abah Usep Suyatma selaku pemegang keputusan tertinggi.

Keputusan tersebut berawal dari kenyataan, bahwa masyarakat adat Cisungsang terbuka terhadap modernitas, sementara ritual-ritual adat hanya dihadiri dan diminati warga adat generasi tua. Jika yang muda tidak berminat untuk menghadiri ritual-ritual adat, ada kekhawatiran jika generasi muda tidak mengenal dan mampu meneruskan adat yang dipegang teguh itu.

"Maka untuk untuk menyikapi kenyataan zaman Abah mengatakan, 'Kudu Bisa Ngigelan Jaman', dan memutuskan kesenian modern ditampilkan," ungkapnya, Sabtu (27/8).

Sekedar catatan, Kudu Bisa Ngigelan Jaman, dalam bahasa Indonesia berarti harus bisa menari dengan zaman yang bermakna, mampu menghadapi dan menaklukan tantangan zaman tanpa harus kehilangan jatidiri dan identitas sebagai warga adat.

Abah Usep Sukatma mengatakan, bahwa Putu Incu (anak cucu) Kasepuhan Cisungsang adalah warga yang memegang teguh adat istiadat, dan penampilan kesenian modern dalam ritual adat Seren Taun tidak akan mengubah jati diri masyarakat adat Sunda di selatan Banten tersebut.

"Zaman leluhur kita 700 tahun yang lalu, berbeda dengan zaman yang kita alami sekarang," ungkapnya. (Ctr)

BACA JUGA:

  1. Seren Taun Cigugur, Tradisi Syukuran Masyarakat Agraris
  2. Yuk, Nonton Seren Taun di Kampung Budaya Sindangbarang
  3. Seren Taun, Tradisi Kuno Masyarakat Sunda Ungkapan Rasa Syukur
  4. Mengungkap Makna Leluri Seren Taun
  5. Sisi Mistis Tradisi Seren Taun

 

 

 


Tags Artikel Ini

Luhung Sapto