Museum Kalimantan Barat, Menyimpan Alat Tenun hingga Perdukunan Museum Kalimantan Barat mengoleksi berbagai benda kebudayaan, meliputi unsur religi hingga teknologi dan peralatan. (Foto: ericopieter.blogspot)

Di Jl. Jenderal Ahmad Yani, Parit Tokaya, Pontianak, terdapat bangunan yang mengoleksi banyak benda kebudayaan Kalimantan Barat. Bangunan ini telah dibuka oleh Dirjen Kebudayaan Depdikbud sejak 4 Oktober 1983, dengan nama Museum Kalimantan Barat. Namun demikian, kelembagaan museum baru diresmikan lima tahun setelahnya, yakni 2 April 1988.

Dengan membayar Rp3.000 untuk orang dewasa, Rp2.000 untuk pelajar, dan Rp10.000 untuk wisatawan asing, Anda bisa memasuki kompleks museum. Pada halaman depan museum, Anda dapat melihat beberapa koleksi meriam. Masuk ke dalam, Anda akan bertemu dengan ruang pamer museum, yang terdiri atas dua lantai.

Miniatur rumah betang suku Dayak, rumah limas, dan tujuh istana raja ada di lantai bawah. Lanjut ke lantai atas, di Ruang Budaya Kalimantan Barat, Anda akan menemukan 7 unsur kebudayaan. Meliputi religi dan upacara kebudayaan, mata pencaharian, organisasi kemasyarakatan, teknologi dan peralatan, pengetahuan, kesenian, dan bahasa.

Alat tenun Suku Dayak (Foto: klikwisatamenarik.blogspot)

Ruangan tersebut kental dengan suasana mistis, terutama di sekitar koleksi yang berhubungan dengan kematian. Misalnya, Tiang Sandung tempat orang Dayak menaruh abu ataupun jenazah, kain kafan orang Melayu, dan alat-alat untuk melakukan perdukunan pada zaman dahulu.

Anda juga bisa menemukan lukisan yang bercerita tentang kondisi kehidupan masyarakat zaman dahulu. Ada pula beberapa benda tradisional, seperti alat tenun suku Dayak, permainan (congklak, gasing), dan koleksi Alquran. Ruangan tersebut juga menyimpan benda sejarah seperti uang logam Eropa, Indonesia, dan Asia; juga nekara (peninggalan Zaman Perunggu).

Koleksi Alquran di Museum Kalimantan Barat (Foto: mynewblodres.blogspot)

Di bagian belakang museum ada sebuah tempat yang dinamakan plaza museum. Di sana terdapat replika langkau kopra (tempat mengolah kelapa menjadi kopra) dan prasasti batu pahit; serta miniatur perahu lancang, perahu tambe, dan tungku pembakaran keramik.

Gazebo di area luar museum (Foto: homestaypontianak.wordpress)

Lansekap di bagian belakang museum ditata dengan asri seperti taman untuk bersantai. Gazebo pun tersedia, yang biasa digunakan para pelajar untuk berkumpul.

Museum ini kerap ramai pengunjung, terutama pada akhir pekan dan hari libur nasional. Selasa-Kamis museum dibuka pukul 08.00-15.00; sedangkan Jumat pukul 08.00-11.00, lalu dibuka kembali pukul 13.00-15.00. Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional, museum dibuka pukul 08.00-14.00. Museum tutup pada hari Senin.

Baca juga artikel Mengingat Bencana Tsunami Di Museum Tsunami.



Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH