Museum Bayt Alquran, Rumah Bagi Alquran Bersejarah Salah satu koleksi Museum Bayt Alquran. (Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

BANGUNAN berwarna jingga beratap berbentuk limas tersebut tampak berbeda dengan kebanyakan bangunan di areal Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Berdiri di atas lahan 20.013 meter persegi, Museum Al Bayt, menjadi pesona lain untuk mengenal lebih jauh serba-serbi dan pemaknaan kitab suci Al Quran.

Pembangunan Museum Bayt Alquran memang tak terlepas dari sejarah Museum Istiqlal. Kedua lembaga tersebut merupakan rancangan budaya terkait pelaksanaan Festival Istiqlal I (1991) dan Festival Istiqlal II (1995) di Jakarta.

Pada Selasa, 5 Juli 1994, Menteri Agama Tarmizi Taher mendampingi Soeharto menerima mushaf Alquran berukuran jumbo (2 x 1,5 m), hasil tulisan tangan dari Pesantren Al Asy'ariyah Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah, Asuhan KH Muntoha. "Setahun kemudian, presiden meresmikan Mushaf Istiqlal yang telah dikerjakan sejak tahun 1991," ucap Nurdin (48) di Museum Al Bayt dan Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Mushaf Wonosoobo. (Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

Tak lama berselang, kata Nurdin, materi Bayt Alquran terkumpul dari koleksi Kementerian Agama dan Yayasan Festival Istiqlal, hasil kerja sama dengan Museum Nasional, Perpustakaan Nasional, dan museum-museum daerah.

Selain itu, sumbangan juga datang dari para kolektor dan pemilik benda bersejarah, baik lembaga maupun perorangan serta dari seniman di Indonesia, Singapura, Brunei, dan yang terpilih dari pameran seni rupa kontemporer. "Koleksi itu terus dilengkapi dan disempurnakan hingga kini," katanya.

Salah satu koleksi yang menarik adalah Alquran setebal 598 halaman. Koleksi itu berusia 200 tahun berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Mushaf Alquran tulisan tangan yang telah robek di sejumlah bagian itu digunakan oleh Sultan Bima terakhir, Muhammad Salahuddin. "Mushaf tersebut ia pakai sejak kecil belajar mengaji hingga menjadi sultan."

Salah satu koleksi Museum Bayt Alquran. (Merahputih.com/Noer Ardiansjah)

Mushaf tersebut diserahkan dengan sukarela oleh Siti Maryam Salahuddin SH ke Bayt Alquran. Baik Bayt Alquran ataupun Museum Istiqlal, secara filosofis memberi ruang gerak bagi interaksi sosial. Pada saat yang sama, keduanya menjadi benteng yang kukuh bagi pengembangan keimanan. "Museum Bayt Alquran sendiri memiliki arti rumah Alquran, sehingga berguna untuk tempat merenung dan mengenal Alquran lebih dalam," pungkasnya. (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH