Wisata Indonesia
Mumi Panglima Perang Suku Dani di Negeri Aing    Di Lembah Baliem, tersimpan mumu panglima perang suku Dani. (foto: indonesia kaya)

KISAH mumi tak hanya ada di gurun Mesir. Negeri aing juga punya mumi yang dihormati. Lembah Baliem yang menjadi rumah bagi suku Dani dan beberapa subsuku lainnya tersimpan mumi para panglima perang.

Lembah Baliem dikenal sebagai rumah bagi suku Dani. Dengan alat-alat sederhana dari batu dan tulang, suku yang dijuluki 'pejuang yang lembut' itu membuat ladang-ladang hijau di sekitar bukit. Kehidupan mereka berpusat pada pertanian, bercocok tanam umbi-umbian dan memelihara babi. Selain itu, mereka pun membangun pos dan menara pengintai untuk mempertahankan lembah mereka dari suku musuh.

Bersama suku-suku lainnya, Yali dan Lani, warga di Lembah Baliem hidup tersebar di komunitas kecil dekat kebun di lereng gunung terjal. Biasanya, mereka mengolah pisang, talas, ubi jalar, jahe, tembakau, dan mentimun.

BACA JUGA:

Di Negeri Aing Orang Berpelesir untuk Lihat Mayat

Budaya suku Dani yang hidup di dalamnya pun mengundang decak kagum. Warga di Lembah Baliem tinggal di rumah tradisional yang disebut honai. Honai laki-laki dan perempuan dipisahkan. Atap bangunan dari jerami tebal menjaga honai tetap sejuk di siang hari dan hangat di malam yang amat dingin.

Honai-honai mereka masih terlihat tradisional. Alat berburu dan bercocok tanam mereka pun masih sederhana, tak tersentuh modernisasi.

honai
Honai menjadi rumah bagi penduduk Lembah Baliem. (foto: Instagram @adivinis)

Yang paling unik, masyarakat suku Dani menyimpan mumi tetua mereka. Mumi panglima perang suku Dani yang berusia 370 tahun lebih masih tersimpan di daerah ini. Suku Dani, sang penguasa Lembah Baliem, memang punya tradisi memumikan jenazah. Mumi berusia 370 tahun lebih itu masih disimpan dan terawat di Desa Jiwika, Distrik Kurulu, Wamena, Papua. Sosok mumi tersebut berada dalam posisi duduk dengan kaki terlipat. Wajah berupa tengkorak menganga dan tengadah menatap langit. Pakaian lengkap khas pria Papua berupa koteka dan beberapa aksesoris pun masih melekat di tubuhnya. Mumi itu dulunya ialah seorang panglima perang suku Dani yang bernama Wimotok Mabel.

Seperti namanya yang berarti ‘perang terus’, sang panglima memang gemar berperang selama hidupnya. Ketika Wimotok berangsur tua dan sakit, sebelum ajal menjemput, ia berpesan agar setelah meninggal ia tidak dibakar seperti tradisi Dani pada umumnya. Ia minta untuk dimumikan. Menurut warga kampung itu, hal tersebut dilakukan agar jasad sang panglima menjadi sebuah peringatan yang akan menyejahterakan seluruh keturunannya di masa mendatang.

Salah satu mumi di Lembah Baliem. (foto: Instagram @dmitri.karmanov)

Mumufikasi suku Baliem terbilang rumit. Jasad diposisikan dalam keadaan duduk, lengkap dengan pakaian kebesarannya. Setelah itu, jasad diasapi di depan api unggung selama sebulan di Honai Pilamo, rumah khusus para laki-laki. Tahap selanjutnya ialah membungkus jasad dengan daun pisang hingga mengeras jadi mumi. Tentunya proses tersebut enggak singkat. Butuh waktu 5 tahun agar mumi benar-benar kering.

Kaum pria punya tugas merawat sang mumi. Kaum pria akan melumurinya dengan minyak babi dan menyimpannya setiap malam di depan api unggun dalam Pilamo. Hal itu akan membuat mumi semakin awet tanpa harus khawatir rusak karena rayap.

mumi baliem
Salah satu mumi di Desa Aikima. (foto: Instgram @dlosek)

Saat berkunjung ke kampung ini, kamu bisa kok melihat mumi si panglima perang. Tentunya dengan membayar sejumlah uang kepada warga. Selain di Desa Jiwika, kamu juga bisa menemukan mumi panglima perang lainnya di Kurulu, di Assologima, dan di Kurima. Selain itu, di Desa Aikima di Distrik Pisugi, dekat ibu kota Kabupaten Jayawijaya, ada sebuah mumi kepala suku yang kini tersimpan rapi. Jasad Kepala Suku Perang Mumi Aikima yang merupakan kerabat dari Mumi Agatmamente Mabel (Humomumi Wo’ogi) itu diperkirakan berusia sekitar 250 tahun. Mumi Aikima tersebut ialah Kepala Suku Perang Weropak Elosak.(dwi)

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
5 Desa Adat nan Cantik Destinasi Pelesir Negeri Aing
Travel
5 Desa Adat nan Cantik Destinasi Pelesir Negeri Aing

Keunikannya membuat desa-desa wisata ini tujuan seru untuk pelesiran.

Kota Solo, Kota Terpadat di Jawa Tengah, Kalahkan Semarang
Travel
Kota Solo, Kota Terpadat di Jawa Tengah, Kalahkan Semarang

kepadatan penduduk Solo sebesar 11.353 jiwa/km persegi.

Work from Toba, ini Destinasi yang Bisa Kamu Kunjungi
Travel
Work from Toba, ini Destinasi yang Bisa Kamu Kunjungi

Keindahan kawasan Danau Toba memang juara.

Festival Layang Lakbok 2020 Digelar secara Virtual
Travel
Festival Layang Lakbok 2020 Digelar secara Virtual

Kendati festival diselenggarakan tertutup, masyarakat dapat menyaksikan Festival Layang Lakbok 2020

Pedagang Keliling Ungkap Keberadaannya Lewat 'Jingle'
Kuliner
Pedagang Keliling Ungkap Keberadaannya Lewat 'Jingle'

Pedagang keliling memiliki 'jingle' untuk memikat hati pembeli.

Kelenteng Madiun Tak Buat Kegiatan di Imlek Tahun Ini
Tradisi
Kelenteng Madiun Tak Buat Kegiatan di Imlek Tahun Ini

Pihak mengurus sudah mengirimkan surat pemberitahuan pembatalan kegiatan ke Polres Madiun Kota.

Mengenal Pesona Pulau Laki dan Pulau Lancang, Lokasi Jatuhnya Sriwijaya Air
Kuliner
Mengenal Pesona Pulau Laki dan Pulau Lancang, Lokasi Jatuhnya Sriwijaya Air

Pulau Laki dan Pulau Lancang menawarkan pesona pantai nan indah.

Kemenparekraf Percepat Dana Hibah Pariwisata
Travel
Kemenparekraf Percepat Dana Hibah Pariwisata

Salah satu upaya mitigasi dan keberlangsungan para pelaku sektor pariwsata.

Candi Prambanan dan Sejumlah Candi di Kabupaten Sleman ditutup Sementara
Travel
Candi Prambanan dan Sejumlah Candi di Kabupaten Sleman ditutup Sementara

Candi yang ditutup sementara meliputi, Candi Sambisari, Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Barong, Candi Banyunibo, Candi Ijo, Candi Gebang, dan Candi Kedulan.

Gua Liang Bua, Rumah si Hobbit dari Flores
Travel
Gua Liang Bua, Rumah si Hobbit dari Flores

Arkeolog dari Belanda, Inggris, dan Indonesia menjadikan gua ini sebagai tempat penggalian dan penelitian sejak 1930-an.