MUI: Yang Waras Tak Boleh Ngalah, Kaum Waras Harus Bekerja Aktif Pengaruhi Opini Publik Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdul Moqsith Ghazali (MP/Ponco Sulaksono)

MerahPutih.Com - Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdul Moqsith Ghazali mengungkapkan, bahwa radikalisme agama di Indonesia memang memiliki jejak yang cukup panjang.

Karena memiliki jejak masa lalu yang cukup panjang, kata Moqsith, maka kelompok radikal ini tidak pernah benar-benar bisa dihancurkan. Pasalnya, sebagai sebuah ideologi radikalisme akan tetap hidup.

Hal tersebut disampaikan Moqsith dalam diskusi bertajuk “Setelah Mako Brimob dan Bom Surabaya” yang digelar Wahid Foundation di Aula Rumah Pergerakan Gusdur, Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta Pusat, Selasa (15/5).

"Problemnya adalah kalau radikalisme berujung pada terorisme. Kalau sudah menjadi terorisme maka dia akan menggrogoti persendian negara. Kalau negara ini hancur kita semua menjadi rugi indonesia terancam menjadi negara gagal," kata Moqsith.

Diskusi di Wahid Foundation
Peserta diskusi bertajuk “Setelah Mako Brimob dan Bom Surabaya” yang digelar Wahid Foundation di Aula Rumah Pergerakan Gusdur (MP/Ponco Sulaksono)

Moqsith lantas mencontohkan, mayoritas negara-negara di Timur Tengah menjadi negara gagal karena tidak mampu mengelola keanekaragaman di dalam masyarakatnya.

"Afganistan negara yang seluruh penduduknya beragama Islam, hanya ada 7 suku tapi karena tidak mampu mengakomodasi keragaman pandangan, yang terjadi adalah egoisme sektoral primordial," ujarnya.

Indonesia, lanjut dia, beruntung karena memiliki akar pluralisme yang juga cukup panjang. Meski merupakan negara yang tergolong majemuk, Indonesia mampu mengelola keanekaragaman dengan baik.

"Organisasi-organisasi besar keagamaan bukan hanya ikut merawat negara Indonesia tapi ikut mendirikan negara Indonesia," ungkapnya.

Bahkan dalam konteks Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, kedua organisasi ini bukan hanya merawat tetapi juga ikut mendirikan negara Indonesia, merumuskan dasar negara dan merumuskan UUD 1945.

"Jadi negara ini jangan dianggap negara Thogut karena para ulama Islam sendiri terlibat di dalam proses perumusan dasar negara dan konstitusi," tegasnya.

Ibu Sinta Nuriah dan para panelis diskusi
Ibu Sinta Nuriah hadir dalam diskusi di Wahid Foundation (MP/Ponco Sulaksono)

Menurut Moqsith, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang toleran. Namun sayangnya, kelompok radikal lebih vokal dan lebih aktif melakukan gerakan-gerakan sehingga mengaburkan kelompok mayoritas yang moderat dan toleran.

"Kita berharap adagium lama yang menyatakan yang waras ngalah itu harus diubah. Yang waras tidak boleh ngalah, yang waras harus bekerja aktif mempengaruhi wacana publik," terang Moqsith.

Karena itu, dia berpendapat, saat ini yang penting dilakukan adalah mempengaruhi wacana publik. Sebab, diskursus percakapan masyarakat diruang publik sudah sangat buruk dan kotor lantaran sudah dipenuhi oleh ujaran kebencian.

"NU dalam Munas kemarin sudah mengeluarkan fatwa mengenai haramnya ujaran kebencian dan para pelaku ujaran kebencian harus ditindak secara hukum," tandasnya.

Sementara itu, Ketua Wahid Foundation Yenny Wahid berpendapat, upaya menanggulangi terorisme tak dapat dilakukan oleh pemerintah saja. Menurut dia, masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah aksi terorisme.

Yenny Wahid
Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid. (Foto Ist)

"Hasil riset Wahid Foundation mendapati, radikalisme berkaitan dengan intoleransi dan bisa berujung pada salah satu bentuk radikalisme yang ekstrem, yaitu terorisme yang kini masih jadi ancaman bagi bangsa," kata Yenny Wahid.

Karena itu, lanjut dia, Wahid Foundation mendorong peningkatan dukungan dan partisipasi masyarakat sipil, seperti ormas keagamaan, NGO, komunitas lokal, komunitas lainnya, dan sektor swasta dalam merespons radikalisme dan terorisme.

"Pemerintah dan masyarakat harus serius dalam upaya mengurangi peredaran materi-materi berisi kebencian," tuturnya.

Menurut Yenny, berdasarkan hasil survei Wahid Foundation materi berisi kebencian berkorelasi langsung dengan radikalisme. Karena itu, ia mendesak pengelola stasiun televisi, ormas-ormas keagamaan, dan para pengelola rumah ibadah untuk tidak memberi tempat bagi para penceramah yang sering menyampaikan materi-materi berisi kebencian.

"Kami juga menyampaikan desakan agar penyedia layanan platform konten online mendedikasikan upaya untuk mengatasi peredaran konten-konten sosmed yang berisi ujaran kebencian," ujarnya.

Lebih lanjut puteri dari Presiden RI ke 4 Abdurahman Wahid (Gus Dur) ini mengimbau kepada masyarakat agar tidak memberi tempat dan lingkungan yang nyaman bagi pihak-pihak yang mendukung ujaran kebencian dan aksi-aksi intoleransi.

"Kami mendesak partai politik dan para politisi untuk tidak menjadikan sentimen agama atau keyakinan sebagai alat politik yang dampaknya berbahaya bagi kehidupan dan persatuan bangsa Indonesia," pungkasnya.(Pon)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Gus Mus Ajak Umat Islam Indonesia Perbanyak Istighfar

Kredit : ponco


Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH