Muhammadiyah Antara Melebur Atau Mengalur Bersama Waktu Peneliti LIPI Yang juga kader Muhammadiyah Ahmad Najib Burhani (MP/Fadhli)

MerahPutih.Com - Perkembangan zaman dewasa ini, turut membawa perubahan wajah bagi Ormas Islam Awal Muhammadiyah.

Sebagai salah satu ormas Islam besar di tanah air, Muhammadiyah juga turut andil dalam membangun infrastruktur fisik maupun psikologis bangsa ini.

Tercatat, banyak infrastruktur fisik yang sudah dibangun Muhammadiyah, terutama aspek pendidikan dan kesehatan.

Tak heran, jika Muhammadiyah disebut salah satu ormas yang memiliki aset besar dan kaya raya. Pasalnya, infrastruktur milik Muhammadiyah tersebar di seluruh tanah air bahkan hingga ke luar negeri.

Logo Muhammadiyah
Logo Muhammadiyah (Foto: Istimewa)

Dengan kesuksesan membangun berbagai infrastruktur tersebut, serta dibarengi dengan cara pandangan berdakwah yang tidak kaku dan cenderung mengikuti zaman, tak heran jika Muhammadiyah kerap disebut Islam modernis dan berkemajuan.

1. Kompetitor Muhammadiyah Adalah "Waktu"

Peneliti LIPI Yang juga kader Muhammadiyah Ahmad Najib Burhani menyebut kesuksesan Muhammadiyah merupakan dampak dari perjalanan sejarah panjang ormas ini.

Berawal dari kegelisahan rakyat yang minim mendapatkan pendidikan dan kesehatan, Muhamadiyah mulai bergerak menggalang itu.

Seiring perkembangan zaman, pergerakan Muhammadiyah samakin berkembang dan menyebar. Hingga pada waktunya, banyak ormas yang terinspirasi dari gerakan sosial Muhammadiyah tersebut.

Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan
Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan. (Merahputih.com)

Namun, bagi Muhammadiyah dalam berbuat baik tidak ada yang namanya lawan, semuanya bergerak atas dasar layanan sosial atau melayani masyarakat.

"Landasan teologis dari Islam Berkemajuan Muhammadiyah adalah ajaran KH Ahmad Dahlan tentang Surah al-Ashr (Waktu). Etos dari Surah al-Ashr bukan sekadar berbicara tentang kewajiban menyantuni orang-orang miskin, tetapi juga kewajiban berproses untuk membentuk peradaban utama, ini kompetitor Muhammadiyah dan tantangannya," kata Ahmad Najib Burhani saat mengisi diskusi tentang Pergerakan Muhammadiyah di LIPI Jakarta Selatan, Kamis (17/5).

Menurutnya, Dimensi waktu ini yang dibutuhkan ketika manusia hidup di suatu era di mana waktu menjadi sangat nisbi, terutama karena percepatan teknologi komunikasi dan transportasi.

"Perkembangan zaman itu yang menjadi tantangan, untuk terus melakukan pembaharuan," ujarnya.

Pimpinan Muhammadiyah
Ketum PP Muhamamdiyah Haedar Nashir (tengah) di Kantor Muhammadiyah Yogyakarta. (MP/Teresa Ika)

2. Muhammadiyah dan Politik

Muhammadiyah adalah salah satu ormas Islam yang turut mengambil jarak dengan politik, meskipun secara doktrin mengakui politik.

Hanya saja, Muhammadiyah tidak mau terlalu jauh dan tidak juga terlalu dekat dengan politik. Alhasil, kader Muhammadiyah pun banyak tersebar di berbagai parpol.

"Ibaratnya, seperti ada di mana-mana tapi tidak ada di mana-mana," kata Peneliti LIPI Ahmad Najib Burhani.

Tokoh Muhammadiyah Buya Syafii
Tokoh Muhammadiyah Buya Syafii Maarif (tengah) menjawab pertanyaan wartawan usai pertemuan konsultasi dengan Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta,. (Foto: Antara)

Seperti ormas besar lainnya, Muhammadiyah juga banyak terdapat perbedaan pandangan, baik teologis, politik, hingga budaya. Akan tetapi perbedaan itu tidak mencabut kader dari akar kepedulian sosial yang ditanamkan Muhammadiyah.

"Banyak perbedaannya juga, sebut saja perbedaan pandangan Buya Syafii dengan Pak Amien Rais, tapi di satu sisi dalam hal kesalehan atau layanan sosial mereka pasti ketemu," kata dia.

Itulah Muhammadiyah, bisa berbeda pandangan terkait teologis dan politik tapi dalam hal layanan sosial bisa menemukan kesamaan.(Fdi)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: KH Ahmad Dahlan, Ulama dan Cahaya Muhammadiyah

Kredit : fadhli


Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH