Mudik Seru dan Bermakna bersama si Kecil, Mampirlah ke Wisata Sejarah di Subang Subang punya situs sejarah yang seru untuk disambangi. (foto: Instagram @exploresubang/@sibaturaspirman)

SAAT Lebaran, orangtua akan mengajak serta si buah hati untuk mudik bersama ke kampung halaman. Perjalanan yang cenderung panjang membuat anak-anak rentan bosan. Oleh karena itu, orangtua amat disarankan untuk berhenti beberapa kali demi menghindari kebosanan.

Nah, biar enggak sekadar mampir menghilangkan kebosanan, kamu bisa mengajak si kecil mampir ke destinasi bersejarah. Hal itu amat disarankan komunitas peduli sejarah dan budaya Indonesia Hidden Heritage (IHH).

Orangtua bisa memanfaatkan momentum mudik sebagai ajang mengenalkan sejarah kepada anak. “Orangtua dapat memanfaatkan momentum mudik untuk membawa anak-anak mereka mengunjungi destinasi wisata sejarah yang ada di sekitar jalur mudik,” kata Founder Komunitas Indonesia Hidden Heritage Nova Farida Lestari, dalam rilis yang diterima Merahputih.com.

Menurut Nova, pelesir ke destinasi wisata bersejarah dapat meningkatkan kemampuan literasi sejarah di kalangan anak-anak dan remaja yang kini minim. Salah satu jalur mudik yang berada di sekitar destinasi wisata sejarah ialah Subang. “Setidaknya ada empat destinasi wisata sejarah di sekitar Subang yang menarik untuk dikunjungi,” ujar Nova.

Berikut 4 situs bersejarah di Subang yang bisa kamu kunjungi, seperti rekomendasi IHH.

1. Situs Nay Subang Larang

situs nay subang larang
Situs Nay Subang Larang. (foto: ihategreenjello.com)


Dari penelusuran Komunitas Indonesia Hidden Heritage pada Maret 2019, situs Nay Subang Larang bisa jadi destinasi wisata sejarah yang menarik bagi keluarga. Situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Pajajaran yang sarat sejarah. Di Situs Nay Subang Larang, orangtua dapat mengajak anak mengenal sejarah dan budaya dengan melihat langsung peninggalan arkeologi Sunda zaman Kerajaan Pajajaran.

Situs Nay Subang Larang dahulu merupakan tempat tinggal Nay Subang Larang, istri raja Pajajaran Prabu Siliwangi. Untuk mencapai gerbang situs, pengunjung harus melalui hutan jati kemudian berjalan kaki melewati pohon-pohon bambu serta area persawahan.
Situs yang terletak di Teluk Agung, Desa Nagerang, Subang, ini ditemukan pada 1979. Baru pada 30 Juni 2011 situs ini diresmikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. Bagi kamu yang ingin berkunjung ke sana, IHH menyarankan mengenakan sepatu yang nyaman dan antiselip agar tidak tergelincir saat melalui jalanan yang basah.

2. Wisma Karya

wisma karya subang
Wisma Karya. (foto: istimewa)


Wisma Karya yang merupakan bangunan bersejarah peninggalan masa kolonial juga menarik dikunjungi. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 1 hektare itu pada masa pemerintahan Belanda menjadi simbol kejayaan perusahaan perkebunan bernama Pamanoekan & Tjiasem Landen (P&T Land) yang memonopoli lahan-lahan di Subang. P&T Land dimiliki warga negara Belanda sekaligus saudagar kopi bernama Peter Wellem Hofland. Hofland menandatangani kontrak kerja sama dalam bidang perdagangan kopi dengan pemerintah Hindia-Belanda pada 1840. Di 1858, ia berhasil mengambil alih seluruh tanah partikelir P&T Land menjadi milik pribadinya. Selain sukses berbisnis kopi, PW Hofland juga pernah ditunjuk menjadi demang oleh pemerintah Hindia-Belanda.
Untuk membuat dirinya eksklusif di tanah jajahannya, Hofland bersama delapan demang mendirikan gedung bernama Societe sebagai tempat berkumpul kelompok masyarakat eksklusif (societe). Gedung yang terletak di Jalan Ade Irma Suryani Nasution Nomoer 2, Karanganyar, Subang, tersebut kini dinamai Wisma Karya.


3. Museum Amerta Dirgantara Mandala Lanud Suryadarma

museum amerta subang
Museum Amerta Dirgantara Mandala Lanud Suryadarma. (foto: istimewa)

Selain gedung bersejarah, jejak kolonial di Subang juga bisa disaksikan di Museum Amerta Dirgantara Mandala Lanud Suryadarma. Di museum ini, kamu bisa melihat bangunan bersejarah yang dahulu merupakan sekolah penerbangan pertama di Indonesia. Di sana jugua ada pesawat-pesawat layang berusia lebih dari 100 tahun.

Pesawat-pesawat tua tersebut masih terpelihara dengan baik. Sejarah Lanud Suryadarma dimulai pada 30 Mei 1914. Ketika itu, Belanda membangun satuan udara bernama Proef Vlieg Afdeling (PVA) atau Bagian Penerbangan Percobaan sebagai bagian dari pasukan Belanda di Hindia-Belanda, KNIL.

Sejak saat itu, lapangan udara di Kalijati beroperasi dengan kondisi sederhana. Lapangan udara militer tertua di Indonesia tersebut masih berupa rumput dan bangsal-bangsal dari bambu.

Bangunan dan fasilitas, termasuk gedung markas pangkalan baru selesai dibangun pada 1917. Sementara itu, Museum Amerta Dirgantara Mandala diresmikan pada 1962.


4. Museum Rumah Sejarah Kalijati

rumah kalijati subang
Rumah Kalijati, Subang. (foto: Istimewa)

Saat mengunjungi kawasan Lanud Suryadarma, jangan lewatkan Museum Rumah Sejarah Kalijati. Museum ini merupakan saksi bisu penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang pada 8 Maret 1942. Rumah Sejarah Kalijati merupakan tempat penentu berakhirnya kekuasaan Belanda dan dimulainya pendudukan Jepang.

Setelah serangan tiba-tiba dari balatentara Jepang, Belanda yang tidak siap menghadapinya terpukul mundur hingga akhirnya mengalami kekalahan. Setelah itu, Panglima Ter Poorten mengajukan perundingan.

Dalam perundingan tersebut Jenderal Imamura meminta agar Panglima Ter Poorten menyerah tanpa syarat dan menyerahkan seluruh Tentara Hindia-Belanda.

Jepang mengancam akan menghujani Bandung dengan bom dari udara jika Poorten tidak bersedia memenuhi permintaan tersebut. Poorten akhirnya menyetujuinya dan menandatanganj perjanjian penyerahaan kekuasaan Hindia-Belanda tanpa syarat.(*)

Kredit : dwi

Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH