Mereka yang Muda, Keren, dan Bertani Bertani keren ala anak muda Bali. (foto: Facebook/BOS-Bali Organik Subak)

TEPAT di Hari Sumpah Pemuda, kita semua diajak kembali mengingat bagaimana semangat kaum muda untuk mencapai kemerdekaan. Di masa itu, kaum muda mewujudkan perjuangan mereka lewat ikrar untuk sebuah tumpah darah, tanah air, dan bahasa yang satu.

Kini di era serba digital, kaum muda sudah menggenggam kemerdekaan di tangan. Namun, perjuangan untuk terus berbakti kepada tanah air yang satu pastinya tak boleh putus. Lewat kemerdekaan yang merekan bantu wujudkan, generasi muda kini bisa 'terbang' berkarya di belahan bumi mana saja dan dalam bidang apa saja.

BACA JUGA: Urban Farming, Cara Baru Menghasilkan Bahan Makanan

Kita tentu bangga melihat rapper Rich Brian yang menembus pasar internasional. Sama bangganya ketika Nadiem Makarim dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Indonesia Maju. Dari mereka generasi muda bisa melihat kekuatan keteguhan, keuletan, dan semangat muda.

Semangat muda seperti itulah yang kini bangkit di berbagai bidang. Tak terkecuali bidang pertanian. Memang selama ini menjadi petani bukanlah profesi yang diimpikan milennial. Padahal, seperti dilansir BBC Indonesia, sebanyak 80% kebutuhan pangan global dipasok petani. Namun, hanya 30% dari populasi dunia yang menjadi petani. Meskipun demikian, tak lantas para petani itu hidup makmur. Mereka bahkan tercatat sebagai kelompok penduduk yang rentan miskin dan mengalami kelaparan.

Fakta itulah yang membuat profesi petani tak lagi dilirik generasi milennial. Seperti halnya di Bali. Gemerlap industri pariwisata di era 80-an hingga 90-an membuat banyak penduduk Bali yang tadinya hidup dalam budaya tani malah beralih ke pariwisata. "Pertanian menjadi tak lagi menarik. Hal itu disebabkan adanya paradigma bahwa petani harus punya lahan. Selain itu, ada ketidakpastian harga di pasar. Belum lagi citra bahwa mereka yang bertani ialah mereka yang kalah bersaing di industri pariwisata Bali," jelas I Nengah Sumerta, seorang petani yang tergabung dalam Komunitas Petani Muda Keren (PMK), saat dihubungi Merahputih.com, beberapa waktu lalu.

aplikasi bos fresh
Pertanian menyediakan 80% kebutuhan pangan global. (foto: Facebook/BOS-Bali Organik Subak)

Banyak yang berpikir kepemilikan lahan terbatas membuat petani susah mengubah status ekonomi. Jeratan tengkulak yang membuat harga produk pertanian tak menentu atau bahkan jatuh pun sudah saatnya dieliminasi. Dengan tegas ia mengatakan bahawa paradigma itu sudah saatnya diubah. "Di komunitas ini, kami mencoba berinovasi untuk membuat pertanian dan bertani itu menarik," jelas pria yang mulai serius bertani pisang sejak 2017 ini.

Bersama Komunitas PMK yang dibentuk Anak Agung Wedhatama itu, ia kini ikut menggaungkan bahwa bertani merupakan suatu hal yang keren dan lebih daripada itu menjanjikan secara finansial. "Kami mencoba meluruskan persepsi berdasar dogma dan culture yang salah. Bahwa PNS itu keren, pegawai keren. Petani keren itu bukan masalah finansial, tapi lebih ke arah fungsinya dalam kehidupan," jelas Agung Wedhatama, pendiri Komunitas PMK, yang juga founder Bali Organik Subak (BOS), saat berbincang dengan Merahputih.com via sambungan telepon, beberapa waktu lalu.

Agung Wedha menekankan bahwa menjadi bertani merupakan salah pilar keberlangsungan hidup manusia. "Kekuatan kita ada di pangan karena pangan. Itulah mengapa pertanian jadi salah satu goal program pembangunan berkelanjutan (SDGs). Oleh karena itu, bertani juga bisa kok mampu secara finansial," ujarnya.

Dalam dua tahun perjalanan Komunitas PMK, Agung Wedha mengatakan ia ingin menyadarkan kawula muda bahawa bertani merupakan masa depan umat manusia. Atas kesadaran itulah, di komunitasnya, para petani yang tergabung dibagi ke dalam berbagai kelompok sesuai dengan komoditas yang mereka hasilkan. Setiap komunitas akan menjaring masalah yang mereka hadapi bersama lalu mencari solusi bersama-sama.

BACA JUGA: Rekayasa Genetik, Solusi atau Masalah untuk Ketahanan Pangan?


Membantu dari Hulu hingga Hilir

aplikasi bos fresh
Membantu petani lewat aplikasi. (foto: istimewa)

Komunitas PMK yang kini punya 1.000 lebih anggota petani juga berusaha membentuk pertanian menyeluruh dari hulu ke hilir. "Anak-anak muda Bali kini banyak yang mulai concern ke pertanian. Komunita kami ini bersedia menampung petani yang punya drive dan serius dalam bertani," jelas Agung Wedha yang mulai menekuni dunia pertanian sejak kembali ke Bali pada 2014 itu.

Untuk itulah, PMK memfasilitasi bantuan permodalan, ilmu, hingga pemasaran bagi para petani. Menurut Nengah Sumerta, ada mekanisme crowd funding untuk permodalan petani. "Ada nabung tani yang akan diluncurkan akhir tahun ini," kata Nengah.

Selain itu, untuk bagian hilir, para petani yang tergabung dalam Komunitas PMK disediakan aplikasi BOS Fresh. Aplikasi itu merupakan market untuk penjualan ritel produk petani. "Harga beli dan harga jual transparan di aplikasi ini. Petani bisa tahu berapa harga produk mereka dijual," ujar Nengah.

Dengan transparansi di aplikasi BOS Fresh itu, menurutnya, produk pertanian organik bisa didapat dengan harga terjangkau.

bidang pertanian
Fasilitas penjualan ritel lewat aplikasi BOS Fresh. (foto: istimewa)

Senada, Agung Wedha mengatakan lewat BOS, para petani bisa menjual produk mereka lebih tinggi dari harga pasaran. "Tentunya dengan standar yang kita tetapkan. Salah satunya ialah produknya haruslah organik," jelasnya.


Pertanian Organik yang Berkelanjutan

hari sumpah pemuda
Produk organik terstandar menjamin pertanian berkelanjutan. (foto: Istimewa)


Standar produk dan pertanian organik amatlah dipegang teguh. Hal itu, kata Agung Wedha, karena pertanian organik tanpa campur tangan kimia akan menjamin keberlangsungan produksi dan kelestarian lingkungan. "Di era 80-an, Indonesia bisa swasembada. Namun, itu semua dicapai karena pupuk kimia. Akibatnya, kini banyak lahan rusak. Jadi saatnya back to nature. Bagaimana kita bisa sehat kalau tanah enggak subur, enggak makmur. Jadi bertani harus berkelanjutan, yang organik, agar tak rawan panen," tegasnya.

Untuk mewujudkan hal itu, komunitas PMK rajin menggelar workshop untuk menyebarkan ilmu pertanian yang berkelanjutan. Agung Wedha menyebut banyak yang makin tertarik untuk ikut bertani. "Saya selalu menyebarkan ajakan untuk ikut bertani di setiap kesempatan. Bertani yang berkelanjutan," katanya.

bertani
Tak henti mengedukasi petani tentang pertanian berkelanjutan. (foto: Facebook/Agung Wedha)

Selain berbagi ilmu lewat workshop, fasilitas penjualan produk organik yang disediakan BOS ikut menyadarkan petani untuk bertani secara organik. Dengan menetapkan standar produk yang ketat, BOS berhasil menjual produk petani Bali lewat tiga kanal, yakni ritel melalui aplikasi, business to business (B to B), dan ekspor.

Penjualan ritel lewat aplikasi bisa dilakukan dengan mengunduh aplikasi BOS Fresh. Ada berbagai produk organik tersedia di sana. Mulai dari sayur-mayur hingga buah. Semua produk merupakan organil hasil petani Bali. Harga yang ditawarkan pun bersaing.

Untuk B to B, Agung Wedha menyebut produk BOS kini telah menjangkau kurang lebih 80 restoran dan hotel di Bali. Sementara itu, untuk ekspor, ia menyebut China sebagai salah satu pasar ekspor. Produk yang diekspor, yakni manggis, salak, dan yang akan diekspor saat musim panen ialah buah naga. "Semua dibeli dari petani dengan harga bersaing. Di atas harga pasar. Semuanya dengan sistem fair trade," jelas pria yang menginisiasi BOS setelah melihat permasalahan pemasaran produk saat panen itu.


Bertani Keren di Era 4.0

profesi petani
Agung Wedha (kiri) dan Nengah Sumerta (kiri), dua petani muda dari Bali. (foto: Facebook/Agung Wedhatama)

Menggaungkan profesi bertani di tengah gemerlapnya industri pariwisata bukanlah hal mudah. Agung Wedha menyayangkan ketika banyak anak muda Bali yang justru asyik bekerja sebagai pelayan di hotel atau bekerja di kapal pesiar, padahal punya lahan untuk bertani.

Untuk itulah, pria yang pernah bekerja di bidang IT ini selalu mengajak anak-anak muda Bali untuk kembali ke alam, bertani. Menurutnya, bertani itu keren. "Bukan semata-mata ukuran finansial, tapi peran yang dijalankan untuk kehidupan," ujarnya.

Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa jadi petani di masa kini tak melulu berarti miskin. "Banyak kok petani muda yang setiap kumpul sudah bawa mobil sendiri," ujarnya.

Hal itu juga diamini Nengah Sumerta. Baginya, bertani membawa kenangan masa kecil dan keasyikan tersendiri. Ia bisa bertemu dengan banyak orang lewat komunitas PMK. "Aku juga punya lebih banyak waktu. Tak lagi dibangunkan alarm untuk 'dipaksa' bekerja pagi-pagi. Paling alarm untuk janji dengan investor atau buyer," ujarnya.

Untuk urusan penghasilan, Nengah menyebut selama dua tahun menekuni pertanian pisang, ia bisa mendapat penghasilan yang lebih besar daripada ketika ia mengurus sebuah sekolah asrama di Bali. Ia mencontohkan betapa pasar pisang di Bali masih sangat menjanjikan. Saat ini, Bali baru bisa memenuhi sekitar 24,7% kebutuhan pisang. Hampir setiap minggu didatangkan 32 truk pisang ke Bali. "Itu baru pisang. Belum kebutuhan produk pertanian yang lain. Jadi peluang pasarnya masih luas," ujar petani pisang ini.

Dengan melihat kenyataan itu, Nengah mengatakan amat penting dan potensial bagi kaum muda untuk kembali ke pertanian. Ia menyebut konsumsi pertanian di Bali mencapai empat kali lipat dari yang bisa diproduksi saat ini. Sayang sekali jika potensi pasar itu tak dimanfaatkan, sedangkan lahan nonproduktif di Bali sangat banyak.

Menurutnya, dengan mengembangkan pertanian, pengangguran terselubung akan terserap di sektor ini. Ia juga menekankan akan sangat sayang jika Bali yang punya warisan budaya dunia UNESCO berupa Subak malah hanya punya cerita sejarah tentang pertanian. "Maka dari itu, saatnya anak muda kembali bertani. Untuk melestarikan budaya Subak. Selain itu, bertani memberi lebih banyak waktu untuk berinovasi. Waktuku enggak habis untuk melakukan rutinitas," ujarnya.

Dalam hal inovasi, para petani yang tergabung dalam PMK memang aktif. Mereka menggelar workshop dan farmers camp bersama PMK. Dalam ajang itu, para petani akan berbagi ilmu, solusi, dan pengalaman. "Kami ingin mendorong petani jadi lebih modern. Dulu ada era petani 1.0, 2.0, 3.0, dan kini menuju ke pertanian 4.0," jelasnya.

Yang ia maksud dengan pertanian 4.0 ialah ketika petani sudah memanfaatkan aplikasi pertanian untuk micro controller. Nantinya petani tak lagi repot bolak-balik menyiram tanaman setiap hari. Hal itu bisa dilakukan dengan aplikasi dan teknologi micro controller tadi. "Aku kalau mau nyiram atau kasi pupuk, tinggal buat timeline schedule di aplikasi Android. Nanti akan dikirim pesan ke micro controller di kebun," jelas Nengah.

Baik Nengah maupun Agung Wedha berharap kolaborasi dengan pemerintah ikut membawa pertanian ke arah yang lebih modern. Nengah berharap pemerintah bisa membantu petani atau komunitas dalam keringanan permodalan. Dengan begitu, investasi awal tidak menjadi alasan sebagai penghambat usaha petani untuk naik tingkat ke perkebunan yang modern dan dengan hasil yang lebih menjanjikan.

Selain itu, perlu ada penambahan waduk/cubang di wilayah atas. "Yang tak kalah penting, melakukan reboisasi di dataran tinggi dan hutan untuk menjaga ketersediaan air tanah," ujarnya.

Di masa depan, Agung Wedha berharap makin banyak generasi muda yang tertarik untuk bertani. "Bertani ini sehat loh. Setiap hari bangun pagi, turun ke tanah, makan hasil alam sendiri, dan badan aktif bergerak. Ayo, jadilah petani karena petani itu keren," pungkasnya.(dwi)

BACA JUGA: 5 Makanan Pokok Lokal Pengganti Nasi yang Tak Kalah Bergizi

Kredit : dwi

Tags Artikel Ini

Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH