MP-X MP-X tematik merahputih.com featuring komunitas. (MP/Fikri)

BANGUN pagi. Pakai masker. Pasang helmet. Atur seatpost, handlepost, dan handlebar. Cek tekanan angin di ban depan dan belakang. Pakai sarung tangan. Dan, siap gowes!

Baru 300 meter melaju, dari arah seberang pesepeda lain melambai tangan. Maju sedikit, rombongan sepeda mendahului sambil berkata "Ayo, Om". Di depan papasan rombongan kecil pesepeda memberi krangkring. Persis naik Vespa. Semua saling sapa.

Di jalan tak ada sekat jenis dan merek sepeda. Selama masih gowes semua pasti menyapa lewat bel, teriakan, lambaian tangan, dan anggukan kepala. Bersepeda menjadi marak bukan hanya karena menyenangkan, melainkan memecah kebekuan hubungan masyarakat nan selama beberapa bulan terakhir harus #dirumahaja karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) imbas pandemi COVID-19.

Tren bersepeda membuka pemandangan baru tentang tegur sapa secara langsung, antrean mengular di toko sepeda, dan viral video tentang kesalahan berkendara juga ketidaksopanan pesepeda di salah satu restoran.

Antrean mengular tentu mengingatkan kita tentang kegiatan ekonomi sedang berjalan begitu nyata. Padahal belanja leisure. Koar-koar kelas menengah tentang kesulitan hidup rasanya ambruk dengan kebingungan pihak toko menyanggupi permintaan sepeda.

Sementara, pesepeda bermasalah tentu akan berlaku umum pula di ranah lain. Pasti ada orang berkendara motor parkir di trotoar, menerobos lampu merah, dan membahayakan pengendara lain. Begitu pula misalnya ada pemain bola bermain memang untuk judi semata, jauh dari kata fairness. Apakah harus mendakwa sepeda, kendaraan bermotor, atau olahraga sepak bola? Ingat, orang brengsek memang selalu ada.

Perhatian besar warganet terhadap sepeda dengan segala sisi menandakan tren bersepeda sedang meluas atau booming. Selain sepeda, ada dua hobi lain juga sedang naik daun bahkan jadi perbincangan di media sosial; Ikan Cupang dan Layangan.

Banyak pesohor rela begadang untuk ikutan bid lelang Cupang di Instagram dengan latar belakang lagu Dangdut Koplo. Semua akan betta dan koplo pada waktunya! Cupang kini bukan lagi jadi ikan aduan, melainkan penghias mini aquascape. Setelah suntuk Work From Home (WFH), orang mula-mula butuh rehat mencari pemandangan alam dan dengan mudah bisa dibuat di rumah lewat mini aquascape dengan cupang.

Lama-lama, keasyikan melihat warna dan jenis lain menstimulasi orang untuk mengoleksi. Alhasil, tren cupang menjadi meningkat. Para pesohor semula sekadar hobi, kini tak sedikit malah jadi peternak.

Begitu pula layangan. Sekarang justru orang dewasa pelakunya. Dari mulai layangan biasa sampai dengan ukuran besar atau disebut koangan marak diterbangkan bukan anak-anak. Orang dewasa selama pandemi memang lebih banyak butuh hiburan ketimbang anak-anak.

Dari ketiga tren tersebut ada semacam garis merah, semua orang rindu berkegiatan bersama menjadi mahluk sosial seutuhnya. Orang saat ini ingin bertegur sapa secara langsung tidak di mal, kafe, atau pub, namun di jalan saat gowes bersama. Butuh memandang keelokan alam namun belum bisa bepergian, maka cukup dengan melihat aquascape dengan cupang. Kangen bermain di luar rumah, bisa sama-sama, tapi tetap berjarak, akhirnya main layangan.

Kebersamaan menjadi kunci penting di masa Kenormalam Baru (New Normal). Kenyatan itu memicu merahputih.com mengangkat tema MP-X di bulan Juli 2020. MP-X ejawantah merahputih.com featuring atau berkerjasama (X) dengan komunitas. Mengapa menggandeng komunitas menjadi penting?

Tren baru dan langsung booming tentu mengundang banyak pemain baru (newbie). Kejadian ada pesepeda tak taat aturan, penggemar ikan cupang semena-mena saat bidding, dan pemain layangan malah menyumbang sampah benang, lantaran kurangnya edukasi.

Komunitas tak mungkin bergerak sendirian mengedukasi masyarakat. Eksklusifitas tak akan melahirkan apa-apa kecuali gengsi. Sebagai media dengan tugas menyajikan informasi secara jernih kepada pembaca, merahputih.com merasa perlu berkerjasama dengan para komunitas dengan harapan edukasi terhadap hobinya berjalan baik, dan menjaga agar seluruhnya ikut secara aktif memutus rantai penyebaran COVID-19. Jangan sampai asyik menjalankan hobi tapi protokol kesehatan dilupakan.

Sepanjang Juli 2020, redaksi akan meluangkan kanal khusus bagi para komunitas untuk berkomunikasi dengan penghobi, bahkan disediakan jembatan agar para penghobi bisa saling tukar pengalaman, dan mengedukasi. Tentu informasi tersebut akan dikonfirmasi ulang redaksi sesuai kaidah jurnalistik.

Semangat kebersamaan, kolaborasi, dan bergerak berbarengan terus didorong di masa Kenormalan Baru. Sepakat? Mari berserikat. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH