Momen Maaf-maafan Acara Api Unggun Bisa Berubah Tarung Bebas, Kok Bisa? Maaf-maafan saat acara api unggun bisa berubah bencana jika tidak dikelola dengan baik. (Unsplash-Georgina Avram)

SELURUH peserta duduk melingkar. Di atas kepala pemakai baju hangat, beanie hat, kaos kaki dengan sandal, serta berselimut bad cover tersebut, bulan bulat menyala terang. Sementara, di darat, tepat di hadapan mereka api menjilat-jilat potongan kayu. Berkobar-kobar.

Baca Juga:

Mpok Minah 'The Queen' of Minta Maaf

Seorang dari mereka berdiri, berbicara ditemani suara kepik dan jangkrik bergantian sementara beberapa sibuk membenahi duduk lantaran rumput basah dan terlalu dekat api. Ia meminta kepada teman satu kelas bergantian mengungkapkan unek-unek lalu sehabis itu maaf-maafan.

Orang pertama searah jarum jam lingkaran hanya berterimakasih kepada teman-teman karena telah menjadi sahabat terbaik selama tiga tahun di masa susah dan senang, serta meminta maaf apabila pernah salah ucap dan perbuatan.

Sampai orang keempat, inti pembicaraan masih senada terkait terima kasih, ditambah cerita sedikit tentang momen seru di sekolah dari mulai ketahuan mencontek sampai juara classmeeting.

maaf
Acara Api Unggun biasa dimulai dari tengah malam sampai mentari mulai terbit. (Unsplash-Kimson Doan)

Momen selama mengenakan seragam putih abu-abu memang susah dihapus dari kenangan. "Masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah," kata Obbie Messakh menggambarkan Kisah Kasih di Sekolah. Ada orang bilang 'Cinta Monyet' alias cinta anak muda masih belum mengerti sepenuhnya arti kehidupan.

Namun, justru momen 'Cinta Monyet' paling menempel di benak. Masa-masa pendekatan bak sinetron, cara-cara menyatakan perasaan paling picisan, berbunga-bunga sampai enggak bisa tidur, bahkan beitu pahit saat putus hubungan.

Enggak hanya soal asmara, di masa sekolah juga sedang sangat penasaran pada sesuatu sehingga semua hal ingin dicoba, mau jadi terdepan, atau kalau bisa orang pertama. Sosiolog menyebutnya perilaku menyimpang. Padahal cuma sebatas eksperimen menustaskan keingintahuan. Begitulah cerita kelima anak pertama di dalam lingkaran acara Api Unggun tersebut.

Orang kelima berdiri memulai dengan ucapan terima kasih karena bisa asyik-asyikan bareng selama sekolah. "Tapi, kalau boleh ada bete sih pernah. Ya gue enggak terima aja sepatu dibuang di tong sampah," keluhnya. Ia merasa bercandaan tersebut sudah kelewat parah sampai-sampai pulang sekolah tanpa alas kaki mengendarai sepeda motor.

maaf
Malam hari di dekat temaram nyala api pasti membuat suasana semakin intim. (Unsplash-Wade Lambert)

Di seberang sisi, pelakunya angkat tangan minta bicara, berdiri, dan mulai memberikan klarifikasi. Kejadian tersebut, menurutnya, bukan dirancang atas kehendaknya dan sama sekali enggak ada niat jahil. "Gue cuma disuruh".

"Lha kenapa mau," timpal orang kelima.

"Ya kan lagi lewat kebetulan disuruh buang tong sampah. Langsung aja gue buang".

"Lu emang mau cari masalah aja kan!".

"Sumpah enggak. Kok lu ngegas".

Keduanya naik amarah. Sama-sama ingin menyerang. Enggak peduli ada api besar di tengah. Namun teman-teman lain cepat melerai. Mereka dipisah berjauhan. Acara semula bertujuan untuk saling berterima kasih, meski boleh menyampaikan unek-unek, hampir berubah jadi arena tarung bebas.

Baca Juga:

Modus-Modus Orang Minta Maaf Palingan di Ujung Ada 'Maunya'

Setelah cukup lama ditenangkan, keduanya akhirnya sepakat enggak ingin memperpanjang kasus tersebut apalagi membuat pertemanan di kelas tiga hancur. Mereka saling bermaafan, berpelukan, dan nangis barengan di dekat Api Unggun nan udah mengecil.

Acara Api Unggun memang sering dijadikan momentum deeptalk teman di satu sirkel. Biasanya ketika malam, api digunakan sebagai penghangat sekaligus penerang, kemudian pengantar masing-masing orang mengeluarkan curahan hati. Persis seperti peristiwa di atas.

maaf
Api Unggun berfungsi sebagai penghangat di kala malam melakukan deeptalk. (Unsplash-Marko Horvat)

Namun, bila enggak lihai membuat memitigasi konflik, malahan acara berubah jadi panas membara membakar amarah. Di atas kertas, deeptalk mampu mengurai emosi terdalam setiap orang. Psikolog Matthias Mehl, dikutip Psychological Science, melakukan serangkaian penelitan terhadap mahasiswa aktif dengan mengambil percalapam 30 detik setipa 12,5 menit selama empat hari.

Hasilnya, orang paling bahagia diketahui memiliki percakapan subtantif dua kali lebih banyak ketimbang obrolan ringan. Jumlahnya hampir sekitar 46 persen.

Meski begitu, pengaplikasiannya enggak melulu bisa dilakukan pada kegiatan apa saja melibatkan deeptalk. Perlu dipersiapkan momen terbaik, kondisi masing-masing orang, dan bagaimana mitigasi konflik. Bila salah satu syarat alpa, maka bencana muncul di depan mata.(*)

Baca Juga:

Alasan Minta Maaf Paling Basi Ketika Lupa Hari Ulang Tahun Pasangan

Kanal