Mohammed Bin Salman Ajak Prancis Bangun Wisata Sejarah Al-Ula Sebagian wilayah Al-Ula. (saudi-archaeology.com)

MerahPutih.com - Arab Saudi dan Prancis menyepakati pengembangan awal untuk menciptakan kegiatan pariwisata menampilkan sejarah negara beribu kota Riyadh Itu.

Kesepakatan itu, yang akan ditandatangani pada Selasa dalam kunjungan Putra Mahkota Saudi Mohammed Bin Salman ke Prancis, adalah bagian dari upaya kerajaan tersebut mengembangkan industri baru untuk menghentikan ketergantungan negaranya pada ekspor minyak.

Sementara Putra Mahkota Mohammed Bin Salman diperkirakan belum menandatangani kontrak besar tersebut selama perjalanan tiga harinya, pembangunan Al-Ula bertujuan memberi Prancis kesempatan menggunakan keahliannya dalam pariwisata untuk mendapatkan pijakan dalam kegiatan yang kemungkinan pengembangannya menelan biaya miliaran dolar.

Al-Ula adalah daerah seluas Belgia, yang mencakup sekitar 22.500 kilometer persegi, sekitar 1.000 kilometer dari arah barat ibu kota, Riyadh.

Daerah tersebut terkenal karena situs-situs bersejarah seperti Mada'in Saleh, sebuah kota Nabatean berusia 2.000 tahun yang diukir dalam bebatuan di padang pasir utara, yang telah digali para arkeolog Prancis selama lebih dari 15 tahun.

Daerah tersebut juga memiliki kamp-kamp Romawi, ukir-ukiran batu, situs warisan Islam dan sisa-sisa rel kereta api Hijaz Ottoman awal abad ke-20 yang membentang dari Damaskus ke Madinah.

"Al-Ula berdiri sebagai kanvas terbuka dan tergantung pada kami untuk menggambar sesuatu dengan menggunakan keunggulan Prancis," demikian Amr al-Madani, kepala eksekutif Komisi Kerajaan untuk Al-Ula, kepada wartawan di Paris, dilansir

Archbishop of Canterbury dari Inggris Justin Welby memperlihatkan kepada Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman sebuah tulisan awal dari keyakinan Kristen, Muslim dan Yahudi dari koleksi perpustakaan Lambeth Palace dalam sebuah pertemuan tertutup di Lambeth Palace, London, Inggris, Kamis (8/3). ANTARA FOTO/REUTERS/Yui Mok/Pool/cfo/18
Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman saat bersaman Archbishop of Canterbury dari Inggris Justin Welby yang memperlihatkan sebuah tulisan awal dari keyakinan Kristen, Muslim dan Yahudi dari koleksi perpustakaan Lambeth Palace dalam sebuah pertemuan tertutup di Lambeth Palace, London, Inggris, Kamis (8/3). (ANTARA FOTO/REUTERS/Yui Mok/Pool)

Kontrak antarpemerintah yang terbarukan selama 10 tahun akan menampilkan karya sebuah agensi yang dijalankan Prancis dan didanai Arab Saudi, yang akan bekerja pada penggalian arkeologi, mengembangkan konsep museum dan perencanaan induk yang akhirnya menuju pemberian proyek infrastruktur dan proyek-proyek hotel.

Prancis telah memiliki kesepakatan yang lebih kecil dengan Abu Dhabi, yang membuat negara tersebut membayar Museum Louvre 1 miliar euro untuk menggunakan mereknya selama 30 tahun.

Madani menolak memberikan rincian keuangan, tetapi mengatakan tujuannya adalah untuk menarik antara 1,5-2,5 juta wisatawan dalam setahun.

Rencana Saudi untuk menerima sejumlah besar wisatawan dari luar negeri yang telah dibicarakan selama bertahun-tahun, dihalangi begitu saja oleh opini konservatif dan birokrasi.

Kali ini, pemerintah tampaknya bertekad mendorong perubahan, sebagian karena tekanan keuangan. Pemerintah berharap mendapatkan miliaran dolar untuk menutupi defisit anggaran negara yang disebabkan oleh harga minyak yang rendah.

Reformasi ekonomi bertujuan untuk mengangkat total belanja pariwisata di negara tersebut - oleh warga setempat maupun asing - menjadi US$ 46,6 pada 2020 dari US$ 27,9 pada 2015.

"Misi saya adalah memastikan yang terbaik dari pengetahuan Prancis untuk digunakan dalam kegiatan itu," kata Gerard Mestrallet, mantan kepala eksekutif perusahaan energi Engie, yang ditunjuk Presiden Emmanuel Macron untuk memajukan kegiatan tersebut. (*)


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH