Mengenang Moenadjat Wiratmadja, Bapak Bedah Plastik Indonesia Ilustrasi Operasi Plastik. (Foto/idikotim.org)

PELATARAN gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) tampak puluhan orang dominan berpakaian hitam berkumpul. Dengan kepala tertunduk dan perasaan sedih, mereka melepas kepergian salah seorang Guru Besar.

Para pelayat meratap jenazah Dr R. Moenadjat Wiratmadja, ahli Ilmu Bedah Plastik pertama di Indonesia.

"Sebelum dimakamkan di Karet, Jakarta Pusat, jenazah Moenadjat dibaringkan sejenak untuk memberi penghormatan terakhir atas jasanya," dilansir dari harian Kompas terbitan 29 Juli 1980.

Surgeons got the shock of a lifetime when an ovary-removal operation turned into an emergency C-section. Photo courtesy of Shutterstock
Surgeons got the shock of a lifetime when an ovary-removal operation turned into an emergency C-section. Photo courtesy of Shutterstock

Semasa hidupnya, Moenadjat sangat fokus di bidang bedah plastik. Ia mulai menekuni bidang nan enggan orang geluti ketika menekuni studi di FK-UI.

Selepas mengantongi izajah FK-UI, Moenadjat langsung bertolak ke Amerika untuk melanjutkan studi kegemarannya, Ilmu Bedah Plastik, di Universitas Washington.

Di negeri 'Paman Sam', ia mulai berkenalan dengan para ahli dan langgam ilmu kodekteran nan berbeda dari kebanyakan di tanah air. Ia semakin Gandrung melakoni ilmunya hingga lulus pada tahun 1959.

Sepulang ke pangkuan Pertiwi, Moenadjat langsung mengabdikan diri di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Ia menginisiasi pendirian "Unit Luka Bakar", salah satu unit khusus untuk menangani pasien luka bakar di RSCM.

Moenadjat telah menangi beragam kasus luka bakar, mulai taraf ringan hingga luka bakar berat. Di kasus tersebut, keahlian Ilmu Bedah Plastiknya teruji. Ia bahkan digadang-gadang sebagai perintis Ilmu Bedah Plastik di Indonesia. Tak heran bila almamaternya menganugerahkan penghargaan penting bagi jasanya.

Guru Besar Ilmu Bedah

Air muka Moenadjat tampak semringah di usia 58 tahun. Di Aula FK-UI Salemba, Rektur UI, Mahar Mardjono, memberi mengukuhkannya sebagai Guru Besar Ilmu Bedah dan Rekontruksi. Turut hadir pula, Menkes, dr Suwardjana Surjaningrat dan bekas Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin.

Sejurus kemudian, Moenadjat naik podium. Ia menyampaikan pidato berjudul, "Mengamalkan Ilmu Bedah Plastik dan Rekontruktif di Indonesia".

Dalam pidatonya, Moenadjat berpendapat seorang ahli bedah selain harus memiliki bakat sebagai seorang seniman, juga harus memiliki faktor mental kuat.

"Faktor kejiwaan ini amat penting. Bukan hanya untuk mencapai hasil menjadi dokter idaman, maupun idaman penderitaan yang ditanganinya, tetapi juga pendirian dokter itu tak boleh goyah, walau kedatangan pasien dalam jam bicaranya identik dengan 'rejeki nomplok'," katanya dilansir Kompas, 29 Juli 1980.

Selain itu, ia berpesan kepada para ahli-ahli Bedah Plastik mendatang supaya mengedepankan prosedur perencanaan untuk penangan pasien. Tahap ini menentukan setelah ada diagnosa.

"Apa gunanya langsung bekerja tanpa perencanaan, kalau dalam proses pengobatan itu ahli tersebut sadar bahwa jalannya sesat hanya karena tidak ada perencanaan sejak awal," ungkapnya.

Petuah Ahli Bedah

Ilustrasi Operasi Plastik. (Foto/hellosehat.com)
Ilustrasi Operasi Plastik. (Foto/hellosehat.com)

Khusus dalam operasi plastik bersifat estetik, Moenadjat mengungkapkan diperlukan lagi satu syarat mutlak; persetujuan operasi. "Persetujuan itu bukan hanya kedatangan pasien saja, tapi lebih dari itu. Misalnya bagi seorang istri, persetujuan suaminya mutlak perlu," jelasnya.

Sebab, ada kalanya seorang ibu datang tanpa sepengetahuan suaminya. Pernah suatu ketika, Moenadjat beroleh pasien perempuan ingin melakukan operasi hidung. "Mumpung suami lagi bepergian," kata sang pasien.

Ia pun menolak lantaran restu pasangan sangat berpengaruh bagi kelangsungan rumah tangga.

"Karena kejutan yang semula diharapkan baik sering berbalik menjadi kejutan yang mengecewakan. Sebab suaminya sama sekali tak setuju," jelas Moenadjat.

Dampak Buruk

Ilustrasi Operasi Plastik. (Foto/discovermagazine)
Ilustrasi Operasi Plastik. (Foto/discovermagazine)

Seiring berkembangnya zaman, operasi bedah plastik menjadi populer. Terlebih, ilmu ini bisa menyulap seseorang berubah menjadi apa saja sesuai keinginannya.

Permintaan operasi bedah estetik melonjak. Para dokter bedah pun semakin banyak bermunculan. Beberapa di antaranya bahkan tak mengikuti prosedur pelaksanaan operasi bedah.

"Mereka datang dari dalam maupun luar negeri, dan ada yang sengaja mendatangkan dari luar negeri tanpa prosedur yang berlaku di negara kita," pesannya dalam pidato tersebut.

Pada kasus tersebut, Bapak Bedah Plastik Indonesia itu pun berpesan agar pembinaan ilmu bedah harus dicantumkan metode dasar atau prosedur bedah plastik di dalam kurikulum pendidikan ilmu kedokteran khusus bedah plastik. Baginya, keselamatan pasien lebih utama ketimbang estetika.(*)



Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH