Mitos Pada Jam Tangan, Tak Sepenuhnya Betul Jam tangan memiliki anggapan-anggapan yang tidak benar. (Foto: wideinfo)

JAM tangan sebagai perhiasaan pada pria dilingkupi pula oleh berbagai mitos yang sedikit kebenarannya. Anggapan-anggapan yang beredar kemudian dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Alhasil para pria malah terjebak dalam aturan yang sebenarnya tidak pernah terbukti kebenarannya. Dibutuhkan logika untuk menerima semua itu.

Jam tangan memang masih mengacu pada para pembuat di Switzerland. Merk terkenal dari jaman dahulu tak pernah lekang dari ingatan semua orang. Namun bukan berarti jaman kemudian melibas mereka, pada kenyataannya banyak merk jam tangan yang berusaha mengerjar kualitas Swiss.

Merk Lawas

Tak berlebihan jika jam tangan bermerk lawas memang selalu hadir dengan kualitas terbaik dari Swiss. Namun bukan berarti merk-merk yang ada saat ini tidak memiliki kualitas Swiss. Beberapa butik terkenal memiliki produk jam tangannya sendiri. Mereka membangun pembuatannya di Swiss berikut tenaga ahlinya. Tapi harus hati-hati juga ada negara yang memiliki lisensi pembuatan dari butik tersebut mengeluarkan produk yang sama juga.


Jam Mahal

Pria sejati memakai jam otomatis, sepertinya anggapan yang salah. Yang benar orang kaya memakai jam otomatis. Sebab orang yang memiliki kelebihan uang bukan membeli jam tangan melainkan keahlian pembuat jam tangan menciptakan jam yang tepat waktu.

Jam otomatis diposisikan sebagai jam mahal karena desakan jam quartz yang memiliki pasar luas. Jadi jam mahal ini menjual kualitas ketimbang jam tangannya sendiri. Tapi jangan salah merk-merk terkenal itu juga membuat produk jam quartz yang kualitasnya sama baiknya.

Harga Tak Soal

Pada tahun 1980-an seorang pria dipandang karena jam tangan yang melilit di tangannya. Semakin mahal maka semakin dipandanglah pria itu. Namun saat ini sudah tidak diperdulikan lagi. Memang masih ada jam-jam mahal yang dipakai untuk kesempatan-kesempatan tertentu dan mahal harganya. Tetap saja dipandang hanya sebagai jam tangan.


Jam Besar

Bisa jadi di tahun 2000-an awal jam besar menjadi tren. Bahkan dianggap semakin besar semakin besar pula pemakainya. Padahal sama sekali tidak ada hubungannya. Saat ini jam tangan semakin menunjukan proporsi pada tangan pemiliknya. Desain yang apik dan cocok dengan si pemakai. (psr)

Kredit : paksi

Tags Artikel Ini

Paksi Suryo Raharjo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH