Larangan Pakai Baju Hijau di Pantai Selatan, Benarkah karena Ratu Pantai Selatan? Mengenakan baju hijau salah satunya menyulitkan pencarian ketika hilang di laut. (Foto: Pixabay/Pexels)

LARANGAN memakai baju hijau di pantai selatan sudah dikenal banyak orang. Hal itu dipercaya dapat mendatangkan marabahaya hingga hilang terseret ombak. Namun, benarkan hal itu bisa terjadi?

Peneliti madya Bidang Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan Widodo Pranowo menyebut alasan logis tidak menggunakan baju berwarna hijau untuk berwisata di pantai agar lebih mudah dicari ketika terseret arus atau tenggelam.


1. Mitos Ratu Pantai Selatan dan fenomena RIP

Mitos Ratu Pantai Selatan memunculkan larangan pakai baju hijau. (Foto: Pixabay/Pexels)
Mitos Ratu Pantai Selatan memunculkan larangan pakai baju hijau. (Foto: Pixabay/Pexels)

Mitos terkait Ratu Pantai Selatan memunculkan "larangan" menggunakan baju berwarna hijau saat berwisata di pesisir terutama di pantai selatan Jawa. Namun, Widodo mencoba memberikan pemikiran logis dengan menjelaskan bahwa baju berwarna hijau akan menyatu dengan warna air laut, sehingga akan lebih sulit dicari dibanding kostum berwarna cerah seperti jinnga atau merah muda.

Terutama terkait kasus wisatawan tenggelam di beberapa lokasi di pesisir selatan Jawa terjadi saat libur Lebaran 2019. Masyarakat memang harus lebih waspada karena pada Bulan Juni menjadi awal dari musim angin tenggara, di mana angin dingin dan kering dari Australia bergerak menuju Indonesia ke arah Barat Laut yang memunculkan arus yang mematikan yang biasa disebut Rest in Peace (RIP) Current.

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Cara Unik agar Kamu Semangat Hadapi Hari Senin, Penting Banget Buat Ditiru


2. Wisatawan bisa terseret hingga 100 meter ke lepas pantai

RIP Current bisa menyeret wisatawan hingga 100 meter lepas pantai. (Foto: Pixabay.MustangJoe)
RIP Current bisa menyeret wisatawan hingga 100 meter lepas pantai. (Foto: Pixabay.MustangJoe)

RIP memunculkan dua fenomena berupa gelombang menjalar mengarah tegak lurus ke pantai dan umbulan massa air laut dari lapisan dalam menuju ke lapisan permukaan yang lebih dikenal sebagai upwelling.

Gelombang yang datang tegak lurus menuju pantai selatan Jawa ketika menghantam dua gundukan pasir atau karang yang mengapit sebuah alur laut yang lebih dalam akan menghasilkan arus balik mengarah ke laut dengan kecepatan sekitar 20 meter per detik.

Arus tersebut dapat menggerus pasir yang sedang dipijak wisatawan di bibir pantai lalu menyeretnya hingga 100 meter ke lepas pantai hanya dalam hitungan lima detik.

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Pantiau, Makanan Pembangkit Selera Khas Bangka Kembaran Kwetiau


3. Semakin panik wisatawan terseret semakin menjauh

Jangan panik ketika terseret ombak ke tengah. (Foto: Pixabay/4311868)
Jangan panik ketika terseret ombak ke tengah. (Foto: Pixabay/4311868)

Saat wisatawan tersebut panik lalu mencoba berenang tegak lurus melawan arus kembali menuju ke pantai, niscaya akan kehabisan energi dan kehabisan napas, sehingga kemungkinan tenggelam akan lebih besar. Kekuatan RIP Current bervariasi, manakala kekuatannya cukup tinggi maka akan semakin menyeret korban begitu jauh ke lepas pantai.

Kasus yang terjadi adalah korban baru muncul ditemukan beberapa jam hingga hari kemudian. Beberapa kasus bahkan korban tidak ditemukan jasadnya sama sekali, kemungkinan tersangkut oleh cerukan karang di dasar laut, sehingga jasad tidak bisa muncul kembali ke permukaan ketika RIP Current melemah.

Baca juga berita lainnya dalam artikel: 3 Jenis Wisata yang Cocok untuk Kamu yang Sedang Hamil


4. Tips bagi wisatawan agar tetap aman

Selalu berhati-hati ketika berenang di zona berbahaya pantai selatan. (Foto: Pixabay/Free-Photos)
Selalu berhati-hati ketika berenang di zona berbahaya pantai selatan. (Foto: Pixabay/Free-Photos)

Widodo memberikan sejumlah tips bagi wisatawan terutama yang berwisata di pesisir selatan Jawa. Pertama, lakukan survei pandangan mata untuk mengenali area potensi terjadinya RIP Current.

Kedua, berdiri di pantai menghadap laut. Apabila terlihat ada permukaan laut yang tenang diapit sejumlah gelombang pecah di kanan kirinya maka pada muka air yang tenang itu memiliki probabilitas tinggi terjadi RIP Current, sehingga perlu dihindari dengan tidak berenang atau bermain air di area tersebut.

Ketiga, apabila turun untuk berenang atau bermain air, cari lah area atau lokasi yang lebih aman dan gunakan kostum yang berwarna cerah, seperti jingga atau merah muda. Hindari kostum berwarna hijau karena apabila terseret arus atau tenggelam akan sulit dicari karena warna hijau akan blending dengan warna air laut.

"Iya ngapung saja, toh berat jenis air laut lebih berat ketimbang air tawar biasa, sehingga lebih bisa menyangga tubuh kita. Kalau kita di kolam renang malah terasa lebih cepat tenggelam," ujar Widodo, dikutip Antara.

Keempat, pada kasus terburuk, manakala sedang bermain air atau berenang dan tiba-tiba terseret RIP Current maka usahakan tidak panik. Jangan berupaya berenang ke pantai saat arus masih kuat, lebih baik mengapung atau berenang mengikuti arus hingga melemah.

"Saat arus sudah mulai melemah baru berenang lah menuju pantai, tetapi menyamping menuju ke arah sisi kanan atau kiri dari zona RIP Current tersebut. Lamanya seretan (arus) tidak bisa diprediksi dengan mudah, karena tergantung oleh kekuatan angin pembangkit gelombang. Bisa dalam hitungan menit dan jam, tapi kalau dilihat dari rekaman angin, tidak lebih dari satu jam," ujar dia. (*)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Rafting Semakin Diminati, Ini Tips Dasar yang Harus Diketahui Para Pemula


Tags Artikel Ini

Zulfikar Sy

LAINNYA DARI MERAH PUTIH