Misteri Pulung Gantung di Balik Fenomena Bunuh Diri di Gunung Kidul Yogyakarta, antara Mitos dan Kenyataan Pulung gantung dipercaya menjadi pemicu bunuh diri di Gunung Kidul, Yogyakarta. (Foto: pixabay/darksoul1)

MITOS pulung gantung sudah lekat dengan masyarakat Kabupaten Gunung Kidul, DIY. Pulung berarti nasib. Sementara itu, gantung adalah posisi terikat di leher dengan kaki melayang.

Bagi masyarakat Gunung Kidul, pulung gantung adalah mahluk gaib yang mengajak mati. Pulung gantung biasanya berbentuk seperti sebuah bola api yang memiliki ekor berwarna kuning. Makhluk ini terbang di langit pada malam hari seperti sebuah meteor.

Masyarakat Gunung Kidul percaya saat pulung gantung terlihat, akan terjadi peristiwa bunuh diri dengan cara menggantung. Mitos lainnya, seseorang gantung diri kerena melihat pulung gantung.

Entah sejak kapan kepercayaan ini muncul. Namun, mitos pulung gantung sudah ada di masyarakat Gunung Kidul sejak dulu kala dan sering kali menjadi pemicu tindakan bunuh diri.

Mitos ini tak dapat disepelekan. Gunung Kidul tercatat sebagai kabupaten dengan jumlah penduduk tertinggi yang melakukan bununh diri di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan catatan Pemkab Gunung Kidul, pda 2018 ada 30 warga yang bunuh diri. Sebagian besar dengan cara gantung diri. Sementara itu, di semester pertama 2019 ini sudah ada 13 warga yang bunuh diri.

Indra Tirtana, yang pernah tinggal sementara di Ngawen, Gunung Kidul, mengatakan awalnya ia tak percaya dengan adanya pulung gantung. Fenomena bunuh diri menurutnya disebabkan karena kesehatan jiwa yang terganggu dan tak tertangani dengan baik. Namun, semakin lama ia mencari tahu lebih dalam tentang pulung gantung, keberadaan mitos ini tak dapat dielakkan.

"Saya pernah diajak masuk pada alam meditative dan mengalami perjumpaan roh dengan gaib untuk meneropong lebih dalam pulung gantung. Di situlah saya percaya keberadaanya,” kata Indra pada Merahputih.com di Jalan Parangtritis, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut pria yang berprofesi sebagai sutradara ini, pulung gantung adalah mahluk ciptaan Allah yang menjadi pengingat bagi manusia soal kematian.

Manusia yang biasa diajak mati ialah mereka yang jiwa 'keakuan'-nya tinggi. "Keakuan itu menyangkut kepentingan diri sendiri. Orang yang punya ego tinggi dan terus mencari kepuasan diri sendiri sampai melupakan orang sekitarnya itu,” kata dia.

Pulung gantung
Fenomena pulung gantung sampai difilmkan. (Foto: imgrum)

Lantas Indra pun mencari kebenaran mitos ini dari sisi sains dan kedokteran. Ia pun menemui Dokter Ida Rochmawati Msc, SpKJ, seorang psiakter yang bertugas di RSUD GUnung Kidul.

Dr Ida menjelaskan fenomena bunuh diri di masyarakat Gunung Kidul disebabkan gangguan kejiwaan. "Pulung gantung dianggap mitos atau fakta terserah saja. Tugas saya sebagai dokter ialah menyehatkan kejiwaan masyarakat. Karena faktanya banyak dari mereka (yang bunuh diri) mengalami gangguan kejiwaan,” kata dokter Ida seperti diungkapkan oleh Indra.

Pernyataan dr Ida itu diperkuat dengan ucapan dari Bupati Gunung Kidul Immawan Wahyudi . Immawan menjelaskan sebagian besar warga Gunung Kidul yang bunuh diri sebabkan kesehatan jiwa yang terganggu.

“Sebagian besar yang bunuh diri karena merasa depresi, merasa kesepian dan sendiri. Atau sakit keras dan merasa tak berguna,” jelas Immawan.

Kemiskinan yang selama ini disebut-sebut sebagai faktor utama bunuh diri ternyata hanya berpengaruh sekitar 5% dalam mendorong keinginan bunuh diri.

Pemkab Gunung Kidul pun tak diam berpangku tangan. Pemkab sudah membentuk satuan tugas 'antibunuh diri' sejak 2018. Tugasnya untuk mengurangi keinginan bunuh diri di masyarakat. Satgas bertugas memberikan pengertian dan konsultasi kesehatan jiwa kepada warga yang depresi atau berkeinginan bunuh diri.

“Kami dorong puskesmas bisa konsultasi jiwa selain konsultasi penyakit. Terutama mereka yang sakit berat,” katanya.

Para lansia yang tinggal sendiri tanpa sanak keluarga diminta pindah ke panti jompo. Hidup dipanti jompa meminimalisasi rasa kesepian dan terbuang.

Pemkab juga menyiapkan obat pengurang depresi di puskesmas. Warga bisa meminta obat tersebut secara gratis dengan rekomendasi dari tenaga kesehatan.

Tahun ini Pemkab turut menggandeng pemuka agama dan tokoh masyarakat. Para tokoh diminta aktif mengajak warga untuk lebih mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa. Terutama bagi mereka yang terlihat kejiwaannya terganggu.

Pulung gantung, terlepas dari mitos atau fakta, dapat ditangkal dengan satu hal. Semua narsum yang ditanyai mengatakan orang yang dekat kepada-Nya, rajin beribadah, dan membantu sesama tidak akan mudah diajak mati oleh siapa pun.(*)

Artikel ini merupakan laporan kontributor Merahputih.com wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, Teresa Ika.

Kredit : patricia


Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH