Misi Dua Pengusaha Membujuk Sukarno Melimpahkan Kekuasaan Kepada Soeharto AH Nasution, Sukarno, dan Soeharto di Istana Negara. (Foto: Istimewa)

PENGUSAHA Hasjim Ning tiba di rumah rekan seprofesinya, AM Dasaad, Jalan Pegangsaan Timur, pukul 10.00 malam, 9 Maret 1966. Kedatangannya telah dinanti Alamsjah Ratu Perwiranegara, Asisten VII Menpangad, dan sang empunya kediaman. Hasjim mendapati pemandangan berbeda malam itu. Ia melihat tampang Alamsjah berubah serius, sementara muka Dasaad tampak letih menahan sakit asma kambuhan.

Pertemuan itu merupakan ajakan Alamsjah dengan tujuan membahas situasi keamanan terkini pasca-G30S. Di hadapan kedua pengusaha, Alamsjah meceritakan keadaan keamanan nasional berada pada tahap kritis lantaran Sukarno tak jua memenuhi tuntutan rakyat, untuk membubarkan kabinet 100 menteri, menurunkan harga bahan pokok, dan membubarkan Partai Komunis Indonesia.

Kondisi itu diperparah dengan kematian seorang mahasiswa Universitas Indonesia, Arif Rahman Hakim, saat demonstrasi menutut Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) beberapa minggu terakhir, tepatnya 24 Ferbuari 1966.

Dari kacaunya kondisi keamanan, Alamsjah beralih cerita mengetengahkan nama Menpangad Soeharto sebagai sosok paling gemilang mengendalikan keamanan dan telah dibuktikan ketika menangani Gerakan 30 September (G30S).

"Maka itulah aku meminta bapak-bapak ikut berusaha dan membantu menyelamatkan negara," kata Alamsjah meyakinkan keduanya, sebagaimana dikutip Hasjim Ning dalam otobiografinya Pasang Surut Pengusaha Pejuang, karya AA Navis.

"Bagaimana caranya?" tanya Hasjim.

"Pergilah ke Bogor. Temui Presiden Sukarno".

Alamsjah meminta kedua pengusaha paling dekat dengan Presiden Sukarno, agar membujuknya melimpahkan kekuasaan kepada Soeharto untuk mengendalikan keadaan dan melaksanakan ketertiban nasional.

Dasaad sempat menolak usul Alamsjah. "Pengertian melimpahkan kekuasaan sama dengan menyerahkan kekuasaan," kata Dasaad.

Supersemar
Ilustrasi Supersemar. (MerahPutih/Bayu Samudro)

Setelah lama terdiam menikmati cerita, Hasjim pun mulai buka suara meminta Dasaad mempertimbangkan saran Alamsjah. Terjadi silang pendapat antar-kedua pengusaha, sedangkan di sudut lain Alamsjah menikmati pergumulan mereka.

Hasjim berkali-kali mengulang argumen dengan tambahan bumbu, sementara Dasaad tetap teguh dengan pendiriannya. "Kata-kata tak tega berulang-ulang diucapkannya," kata Hasjim.

Setelah mendapat pemahaman menyeluruh, Dasaad akhirnya luluh dan menyetujui bertemu Bung Karno bersama Hasjim. Mereka kemudian dibekali surat keterangan sebagai penghubung antara Menpangad Soeharto dan Presiden Sukarno.

Keesokan harinya, 10 Maret 1966, keduanya tiba di Istana Bogor dan berhasil bertemu Bung Karno.

Mereka berbincang lepas mengenai banyak hal, kemudian di ujung obrolan Hasjim mulai masuk pada pokok pertemuan. Hasjim lantas membicarakan masalah keamanan dan kinerja buruk para menteri di saat rakyat sedang susah. "Hanya seorang berfungsi dan mampu melaksanakan tugasnya, Jenderal Soeharto," tukas Hasjim.

"Apa kamu disuruh Soeharto datang ke sini?” tuding Sukarno.

Hasjim sempat berkilah dan kemudian memberanikan diri meminta Sukarno menyerahkan pimpinan pemerintahan kepada Soeharto. Perbincangan pun tersendat. Topik beralih. Tak lama berselang Hasjim dan Dasaad undur diri sekira pukul 12.00 malam. Mereka pulang dengan tangan hampa. Sukarno tak terbujuk sedikit pun. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH