Nasib Miris Pewarta Foto di Tengah COVID-19: PHK Hingga Pemotongan Gaji Ilustrasi (foto: Pixabay-Pixel2013)

Merahputih.com - Organisasi kewartawanan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat melakukan survei terhadap dampak ekonomi profesi wartawan foto di Indonesia. Hasilnya, 85,4 persen pewarta foto mengaku terkena dampak ekonomi tersebut secara langsung.

Dalam survey yang melibatkan 123 responden dari seluruh Indonesia itu, 105 orang menjelaskan bahwa dirinya dan perusahaan yang menaunginya merasakan dampak ekonomi akibat wabah berbahaya virus corona. Bukan hanya karyawan yang berstatus kontrak atau pekerja lepas yang terkena imbas COVID-19 namun status karyawan tetap justru menjadi bagian paling banyak terkena dampak tersebut.

Baca Juga:

Efektifkah Kursus Daring?

"64,2% karyawan yang berstatus tetap menjawab “Iya”, kemudian disusul pewarta foto lepas sebanyak 16,3%, lalu ada pewarta foto dengan status kontrak sebanyak 15,4%, dan sisanya sebanyak 4,1%," ujar Ketua PFI Pusat Reno Esnir dalam keterangannya, Kamis (28/5).

Dalam survey tersebut juga ditemukan 1 orang pewarta foto terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh kantornya. Lalu 2 orang dirumahkan tanpa gaji, 13 orang gajinya dipotong mulai dari 10% hingga 50%.

Selain itu, sisa responden menjabarkan dampak ekonomi yang mereka rasakan lainnya adalah penghapusan dan pemotongan jumlah Tunjangan Hari Raya (THR), penghapusan variable lain diluargaji (tunjangan jabatan, uang makan, transportasi, asuransi, dll), peniadaan bonus tahunan, dan juga ada pula yang mengalami keterlambatan pembayaran gaji bulanan.

"Selain pekerja kantoran, pewarta foto lepas juga turut merasakan dampak ekonomi ini," jelasnya.

Sejumlah responden menjawab bahwa mereka mendapatkan keterlambatan dalam pembayaran jasa fotografi dan penundaan penugasan. Disamping itu, pada masa pandemi ini, responden pewarta foto lepas lain turut menjawab bahwa saat ini susah sekali untuk mengirimkan karya-karya fotografinya.

fotografi
Ilustrasi (Foto: Pixabay-Trinhkein91)

Hal ini karena perusahaan yang menerima foto-foto itu juga sedang melakukan efisiensi keuangan, bahkan ada yang sudah memutuskan hubungan dengan para kontributornya.

Sehingga, ia meminta kepada seluruh perusahaan pers untuk sebisa mungkin memenuhi hak-hak jurnalis foto. Ia juga berjanji akan membawa hasil survey ini ke Dewan Pers sebagai bahan pertimbangan rancangan pemberian stimulus kepada awak media dan perusahaan pers.

“PFI Pusat akan mengawal dan memperjuangkan nasib teman-teman pewarta foto selama masa pandemi ini," jelas Reno.

Selain memberi himbauan kepada perusahaan pers, PFI Pusat juga sudah berkoordinasi secara internal serta telah memberikan bantuan langsung kepada yang bersangkutan. "Sementara ini PFI Pusat akan mengutamakan dulu teman-teman yang paling parah terkena dampak ekonomi COVID-19 ini, baru setelah itu pelan-pelan yang lain akan kami bantu juga”, ujar jurnalis LKBN Antara ini.

Reno juga meminta agar perusahaan pers benar-benar memikirkan secara serius tentang nasib wartawanya, utamanya masalah kesehatan di tengah pandemi COVID-19.

“Saya juga meminta supaya perusahaan pers membentuk tim khusus yang secara rutin memantau dan memperhatikan kawan-kawan wartawan yang masih harus ke lapangan, syukur-syukur bisa diberikan kompensasi yang layak," kata Reno.

Baca Juga:

Menakjubkan, Inilah Peta Terbaru Bulan

Terpisah, Wakil Ketua Dewan Pers Hendry CH Bangun juga turut memberikan perhatian khusus kepada survey yang dikeluarkan PFI ini. Dewan Pers benar-benar memahami kondisi saat ini sangat tidak menguntungkan untuk pekerja media.

“Dalam kondisi prihatin ini diharapkan perusahaan media dapat memberikan dukungan (kepada wartawan), karena organisasi dan Dewan Pers tidak dapat memberikan bantuan dana," ujar mantan jurnalis Harian Kompas ini. (Knu)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH