Minuman Manis dan Dingin Bikin Gemuk? Begini Penjelasan Medisnya Es teh manis yang ternyata berbahaya bila dikonsumsi berlebihan. (Foto: Pixabay/JASONBON)

SIANG nan terik begitu nikmat rasanya jika menerguk minuman dingin. Namun, banyak orang yang berfikir bahwa terlalu sering mengkonsumsi minuman dingin akan membuat berat badan naik drastis. Benarkah demikian?

Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengatakan minuman manis yang dingin memang bisa membuat gemuk namun bukan karena adanya reaksi antara rasa manis dan suhu dingin. Ia memaparkan penjelasannya secara medis.

"Kalau dingin itu kan sebetulnya cuma soal suhu, tapi suhu dingin itu secara psikologis membuat orang jadi ketagihan karena memberi efek nikmat, badan jadi punya keinginan untuk menyejukkan tubuh kembali," kata Rita seperti dilansir Antara.

Air Es. (Pixabay/ColiN00B)
Suhu minuman yang dingin membuat ketagihan akan kesegaran. (Pixabay/ColiN00B)

Sebaliknya, rasa manis yang justru membuat gemuk kalau energi dari gula yang dikonsumsi tidak disalurkan melalui aktivitas fisik yang sesuai.

"Gula akan meningkatkan hormon dopamin yang menimbulkan efek rasa senang sesaat. Jadi kalau mengkonsumsi makanan atau minuman manis kita jadi merasa nyaman dan ingin mengulang. Hormon dan rasa haus jadi tak terkendali. Itu yang bikin jadi gemuk," katanya.

Minuman manis disebut Rita lebih bisa bikin gemuk dibanding makanan karena saat minuman masuk lambung maka lambung tak akan merasakan apa-apa karena bentuknya yang cair dan bisa terserap.

"Coba kalau minum teh manis dengan gula dua sendok, itu tidak akan meninggalkan bekas di lambung tapi energinya bisa mencapai 100 kilo kalori, dibadingkan kalau kita makan timun 100 gram, masuk lambung dan lambung kita penuh, kenyang tapi energi nol karena densitas rendah," katanya.

Rita mengatakan, gula berlebih dalam tubuh akan disimpan tubuh dalam bentuk lemak di sejumlah tempat, di bawah kulit, perut dan organ dalam tubuh.

Minuman Dingin dan Manis. (Pixabay/PhotoMIX-Company)
Minuman Dingin dan Manis. (Pixabay/PhotoMIX-Company)

"Lemak sebetulnya esensial, tapi kalau jumlahnya melebihi yang dibutuhkan akan mengganggu metabolisme dan hormon bisa jadi resistan," katanya.

Contohnya hormon yang memberi sinyal kenyang tak akan lagi sensitif pada orang-orang yang kelebihan lemak. "Hormon tetap diproduksi tapi tak lagi sensitif. Makanya orang suka bilang gampang lapar," jelasnya.

Metabolisme juga terganggu membuat kemampuan tubuh untuk mengolah energi menurun. Akibatnya orang akan bilang makan segini doang kok gemuk ya? Sehingga semua akan jadi jaringan lemak. (*)

Baca Juga: Mengenal DEBM, Pola Diet yang Bikin Tetap Kenyang

Kredit : zaimul


Zaimul Haq Elfan Habib

LAINNYA DARI MERAH PUTIH