Michelle Obama Mengaku Alami Depresi Ringan Selama Pandemi Michelle Obama ungkap memiliki depresi ringan selama pandemi. (Twitter/@michelleobama)

BANYAK orang mengalami gangguan kesehatan mental sejak pandemi dan terkarantina, tak terkecuali para tokoh besar dunia. Melalui podcast miliknya The Michelle Obama Podcast, mantan ibu negara AS curhat mengenai keadaan kesehatan mentalnya selama pandemi.

"Saya tahu saat ini saya sedang mengalami suatu bentuk low-grade depression," ucap Michelle. Melansir laman The Guardian, ia mengatakan bahwa karantina menjadi salah satu alasan namun tidak sepenuhnya.

Baca juga:

Depresi Tak Selalu Ditunjukkan Lewat Kesedihan

Depresi yang dialaminya juga dikarenakan akibat terpapar berita-berita negatif yang belakangan banyak beredar. "Karena perselisihan rasial, melihat seorang orang kulit hitam didiskriminasi lagi, dan menyaksikan kemunafikan administrasi saat ini, hari demi hari semua ini membuat saya merasa putus asa," ujar Michelle.

Michelle Obama Mengaku Alami Depresi Ringan Selama Pandemi
Michelle Obama akui sedih dengan keadaan Amerika Serikat saat ini. (Twitter/@michelleobama)

Karena depresi yang ia alami, Michelle mengatakan bahwa ia sering terbangun tengah malam. Seakan-akan dia sedang memikirkan dan mengkhawatirkan sesuatu. Ini membuat rutinitas tidurnya terganggu.

"Saya sudah pernah melewati masa-masa emosional yang tidak stabil, dimana kamu tidak merasakan diri kamu sendiri, dan kadang-kadang ada satu minggu atau lebih dimana saya harus menyerah akan perasaan itu, dan tidak terlalu keras pada diri saya sendiri. Sudah lama saya tidak merasakan beban seperti ini," terangnya dalam podcast.

Michelle Obama Mengaku Alami Depresi Ringan Selama Pandemi
Kesehatan mental banyak orang memburuk sejak pandemi. (Unsplash/@anthonytran)

Tidak hanya Michelle Obama, banyak orang mengatakan bahwa kesehatan mentalnya memburuk sejak pandemi. World Health Organization (WHO) juga telah memberi peringatan akan meningkatnya isu-isu kesehatan mental karena pandemi.

"Isolasi, rasa takut, ketidakpastian, kekacauan ekonomi, semuanya dapat menyebabkan tekanan psikologis," kata Devora Kestel, direktur departemen kesehatan mental WHO.

Baca juga:

Lakukan Detoks Media Sosial dengan 4 Cara Ini

Melansir laman Business Insider, menurut polling yang dirilis pada Juni 2020 menunjukkan bahwa orang AS merasa paling tidak bahagia dalam 50 tahun terakhir dan menunjukkan tingkat kebanggaan nasional yang rendah secara historis.

Data Biro Sensus yang dirilis pada Mei 2020 menemukan sepertiga orang AS menunjukkan tanda-tanda kecemasan klinis atau depresi selama pandemi COVID-19.

Secara global, studi dan survei yang dilakukan menunjukkan bahwa adanya peningkatan kasus depresi dan kecemasan telah dicatat di beberapa negara.

Selain itu, kekerasan dalam rumah tangga meningkat, dan petugas kesehatan melaporkan peningkatan kebutuhan akan dukungan psikologis, tulis Reuters.

Tidak hanya masyarakat biasa, orang-orang yang terlibat langsung seperti petugas medis juga mengalami peningkatan drastis dalam isu kesehatan mental. Banyak video-video viral dan dokumenter yang menunjukkan tekanan dan beban yang masif karena keadaan ini. (lev)

Baca juga:

Memulai Berkebun untuk Mengobati Anxiety


Tags Artikel Ini

Ananda Dimas Prasetya

LAINNYA DARI MERAH PUTIH