Meski Perang Jawa Libur Selama Puasa, Siasat Melumpuhkan Diponegoro Justru Gencar Dilakukan (1) Sketsa rombongan Diponegoro di Magelang. (Kitlv)

DIPONEGORO mengaku kepada Mangkubumi beroleh petunjuk ilahi (wangsit) di suatu malam bulan Agustus 1829, bila perjuangannya diteruskan akan sia-sia.

Kombinasi strategi Letnan Gubernur Jenderal HM de Kock antara membangun benteng-benteng darurat dan melipatgandakan pasukan gerak cepat berhasil mengurung Pangeran Diponegoro.

Baca juga: Lakon Sejarah Dakon, Permainan Tradisional Paling Populer Saat Ramadan

Berkali-kali de Kock mengirim utusan untuk berunding selalu mentah. Di saat Sang Pangeran tersudut dan dengan kecerdikan dan penguasaan bahasa serta unggah-ungguh Jawa, Jan Baptis Cleerens berhasil membujuknya untuk menemui HM de Cock di Karesidenan Kedu, Magelang.

Rombongan Diponegoro tiba di kota Magelang pada 8 Maret 1830 atau hari ke-12 ramadan dan ditempatkan di Matesih. "Diponegoro masih memiliki banyak pendukung, di mana-mana orang menghormati dan mengelu-elukannya," tulis Van den Bosch dalam laporan militernya kepada atasannya di Belanda dikutip Peter Carey pada Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855.

Belanda tidak ingin buru-buru menangkap pemimpin Perang Jawa tersebut di tengah bertambahnya jumlah pengikutnya berbaju hitam bersenjatakan tombak dan keris. Sebagai langkah awal, mereka menambah pasukan gerak cepat untuk melapis penjagaan.

Dalam sambutan resmi dihadiri perwira dan pejabat tinggi Belanda, de Kock menyambut dan menyapa Diponegoro dengan sebutan "Pangeran" lalu mempersilahkan duduk di sebelahnya, sebuah perlakuan tak lazim bagi seorang petinggi Belanda terhadap seorang pangeran.

De kock
HM de Cock. (Wikipedia)

Pertemuan berlangsung singkat dan Diponegoro meminta agara selama puasa tidak diganggu urusan apapun, dan setelah lebaran segala masalah akan diselesaikan.

Sore hari setelah pertemuan itu, de Kock agak limbung dengan keputusannya. Ia merasa seharusnya meringkus langsung Diponegoro. "Sebagai bawahan penguasa Jawa, ia tidak berhak mendapat perlakuan khusus apa pun," katanya pada buku catatannya bertajuk De Zeevaarder.

Meski kesal, de Kock berupaya bermanis-manis di hadapan musuh bebuyutannya. Ia mengizinkan anggota keluarga Diponegoro ikut bergabung di Magelang, lalu tercatat dua kali menemaninya berjalan-jalan subuh di karesidenan. "Perjumpaan ini berlangsung dalam suasana santai dan menyenangkan," tulis Peter Carey.

Mereka saling bertukar lelucon dan menemukan kecocokan apalagi keduanya baru saja ditinggal istri tercinta.

Diponegoro
Lukisan Sudjojono tentang Perang Jawa. (Wikipedia)

Meski begitu, persahabatan di permukaan itu tampak semu karena Letnan Gubernur Jenderal mempersiapkan beragam siasat menjinakan Diponegoro. De Kock sadar Sang Pangeran tidak akan mau menyerah tanpa persyaratan. Ia lantas menyelundupkan seorang mata-mata bernama Tumenggung Mangunkusumo ke dalam rombongan Diponegoro.

Dua hari sebelum puasa berakhir, de Kock memberi perintah rahasia kepada dua komandannya, Leutnan Kolonel Louis du Perron dan Mayor AV Michiels untuk mempersiapkan kekuatan militer jelang kedatangan Diponegoro setelah Lebaran.

Baca juga: Membongkar Klaim Raden Patah Orang Tionghoa

Pengawalan di sekitar wisma karesidenan diperkuat dua kali lipat dengan cara melakukan parade lengkap agar tidak dicurigai pasukan Diponegoro. Secarik memo penting bahkan ditujukan kepada Gubernur Jenderal Van den Bosch agar mengasingkan Diponegoro segera setelah ditangkap.

"Segala sesuatunya sudah siap untuk mengamankan proses penangkapan Diponegoro, melucuti 800 orang pengikutnya, serta mencegah agar tidak terjadi perlawanan," tulis Peter Carey.

Bersambung: Siasat Ramah Tamah Lebaran Menjebak Pangeran Diponegoro (2)

Baca juga: Tradisi "Besaran", Ziarah Makam Wali Dianggap Setara Naik Haji


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH