Mesir Buka Perbatasan, Ribuan Warga Palestina Berkumpul di Gaza Seorang perempuan menanyakan izin perjalanan masuk ke Mesir melalui perbatasan Rafah setelah dibuka oleh otoritas Mesir (ANTARA FOTO/REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)

MerahPutih.Com - Kebijakan Mesir yang menutup perbatasan Gaza dengan wilayah untuk menghindari serangan kelompok radikal ternyata berdampak buruk bagi warga Palestina di Gaza. Pada satu sisi, Israel juga menerapkan kebijakan yang sama sehingga menyulitkan warga Palestina untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Sebagaimana diketahui, tindakan Mesir menutup wilayah perbatasan membuat hampir dua juta warga Palestina terlantar. Baru pada Kamis (8/2), Mesir membuka perlintasan perbatasan sehingga memungkinkan warga Palestina memanfaatkan peluang itu dengan bepergian. Maka tak heran, setelah dibuka ribuan warga Palestina berkumpul di perbatasan Gaza dan Mesir.

Israel juga memberlakukan pembatasan ketat di perbatasannya dengan Jalur Gaza. Berarti 2 juta orang Palestina yang tinggal di Jalur Gaza dengan kelompok Hamas sebagai pasukan bersenjata dominan, jarang meninggalkan kantung yang berpenduduk padat itu.

Awni An-Najar, yang berusia 74 tahun, mengatakan di perlintasan Rafah bahwa ia berusaha memasuki Mesir untuk memperoleh perawatan kesehatan. Paha pria yang memakai kursi roda dan dibantu istri dan puterinya itu patah.

"Para pasien harus diizinkan pergi secara bebas. Saya ingin bisa berjalan lagi," kata dia.

Sebagaimana dilansir Antara, Mesir cenderung membuka perbatasan itu secara temporer beberapa kali setahun, biasanya dengan pemberitahuan singkat dan penjelasan sedikit. Pembukaan paling akhir mulai Rabu dengan tanpa pengumuman sama sekali.

Kedutaan Palestina di Kairo "menyampaikan terima kasih kepada Presiden Abdel Fattah Al-Sisi atas kepeduliannya untuk mengangkat penderitaan orang-orang Palestina," demikian kedutaan dalam sebuah pernyataan.

Kementerian luar negeri Mesir tidak segera menanggapi komentar.

Pembukaan perlintasan tersebut terjadi hanya dua kali dalam lebih dua dekade sementara para petugas keamanan tak bersenjata dari Otoritas Palestina yang didukung barat (PA) menjaga sisi Palestina, bukan Hamas.

Perjanjian rekonsiliasi pada Oktober antara Hamas dan rivalnya gerakan Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas memberikan kepada PA untuk mengendalikan perlintasan Rafah pertama kali sejak Hamas menguasai Gaza pada tahun 2007. Mesir membuka perbatasan itu sebentar pada Desember.

Warga Gaza telah berharap kendali PA dapat menjadi langkah menuju pembukaan kembali permanen perbatasan itu, mengakhiri blokade de facto yang diberlakukan oleh Israel dan Mesir karena alasan-alasan keamanan, yang telah menghancurkan ekonomi kawasan tersebut dan mengakibatkan Gaza dengan tingkat pengangguran tertinggi di dunia menurut Bank Dunia.

Sejauh ini penguasa Mesir mengatakan pembukaan permanen perbatasan tersebut bergantung pada keamanan di sisi Mesir, tempat mereka telah memerangi pemberontakan kelompok Islamis garis keras.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH