Merokok Tapi Tetap Sehat? Kardiovaskular Ganjarannya Merokok menyebabkan penyakit kardiovaskular (Foto: Pexels/Irina Kostenich)

SATU sampai dua batang rasanya tidak cukup. Hisapan rokok memang membuat perokok sangat ketagihan. Kandungan nikotin pada rokok memang membuat siapapun kecanduan. Bisa-bisa bukan hitungan batang lagi, satu hari bisa sampai satu bungkus, bahkan dua bungkus rokok.

Padahal, siapapun juga tahu merokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Misalnya penyakit kardiovaskuluar, yang berkaitan dengan masalah jantung dan penyempitan pembulu darah. Intinya, merokok membuat umur pendek, alias berujung kepada kematian.

Dalam sebuah temu pers dan Webinar Perhimpunan Dokter Spesiali Kardiovaskular Indonesia (Perki) terkait Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Dr. dr. Ismoyo Sunu, Sp.JP (K), FIHA, FasCC, ketua umum Pengurus Pusat Perki mengatakan merokok menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di seluruh dunia. "Berdasarkan data WHO sedikitnya 7 juta orang meninggal dunia karena konsumsi tembakau," tuturnya, Selasa (5/6) di Heart House, Jakarta Barat.

Dari kiri ke kanan dr. Ade dan Laksmiati (Foto: MP/Ikhsan Digdo)

Namun, meskipun rokok membahayakan, nyatanya ada saja perokok yang masih sehat. Perokok tersebut merokok puluhan tahun hingga berusia di atas 60 tahun. Tapi tidak ada masalah penyakit yang ia derita. Mungkin kamu akan beranggapan bahwa merokok tidak selamanya berbahaya. Anggapan tersebut salah.

Pada kesempatan yang sama dr. Ade Meididan Ambari, SpJP, FIHA mengatakan merokok tetap tidak menyehatkan. Terkait perokok yang tetap sehat katanya hanya saja masalah perbedaan genetik. Memang ada beberapa orang yang memiliki genetik tidak terpengaruh dengan efek samping rokok.

Tapi tetap saja jika berbicara soal statistik, efeknya rokok tetap menyebabkan berbagai macam penyakit. Misalnya seseorang dapat merokok dan hidup selama 70 tahun. Kata dr. Ade, seharusnya perokok tersebut bisa hidup melebihi usia 70 tahun. "Tapi, umumnya mereka yang merokok efek sampingnya tetap akan timbul," tegasnya.

Ketua III Yayasan Jantung Indonesia dan Ketua Harian Komnas, Laksmiati A.Hanafiah mengatakan perokok yang masih sehat ibarat pejalan kaki. Perokok merupakan pejalan kaki yang berjalan di tengah jalan. Risiko tertabrak mobil tentu lebih tinggi. "Jadi lebih aman lagi ya jalan di trotoar (tidak merokok)," imbuhnya.

Ditambahkan pula oleh Laksmiati bahwa menyedihkannya perokok di Indonesia datang dari keluarga miskin dan usia produktif. Menurutnya, seharusnya uang untuk membeli rokok bisa digunakan membeli hal lain yang lebih bermanfaat semisal makanan dan minuman sehat.

Karena itu kata Laksmiati, solusi termudah untuk mengurangi konsumen rokok adalah dengan meningkatkan harga rokok. Terlebih di Indonesia sendiri rokok dapat dibeli secara ketengan. Dengan harga yang mahal perokok akan memikir dua kali sebelum membelinya. "Murahnya harga rokok di Indonesia mendorong tingginya konsumsi rokok," terang Laksmiati.

lari
Olahraga membuat tubuh sehat. (Foto: pixabay-skeeze)

Dalam hal ini efek samping terberat dari merokok meliputi penyakit jantung koroner, paru-paru dan berbagai macam kanker semisal kanker mulut dan kanker tenggorokan. Bagi perokok wanita bisa menyebabkan gangguan janin dengan kelahiran bayi yang cacat.

Dalam kesempatan tersebut, Dr Ade menjelaskan lebih mendalam mengenai penyakit Kardiovaskular yang disebabkan karena merokok. Menghisap rokok dapat merusak lapisan dinding arteri koroner bagian dalam sehingga terjadi penyempitan pembulu darah. Penyempitan tersebut bisa terjadi dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.

Jika penyempitan pembulu darah terjadi dalam otak, bisa menyebabkan penyakit stroke. Kemudian, kalau terjadi di daerah jantung, penderita akan mengalami nyeri di bagian dada. Lebih mengerikannya lagi jika penyempitan terjadi di bagian kaki. Amputasi menjadi solusinya.

Selain itu karbonmonoksida dalam asap tembakau akan mengurangi jumlah oksigen yang masuk ke dalam darah. Sebab nikotin dan hemogoblin dalam rokok merangsang tubuh untuk memacu aktifitas sistem saraf simpatis. Akibatnya jantung berdetak lebih cepat dan tekanan darah juga meningkat.

Ditambah, merokok dapat meningkatkan aktifasi sistem pembekuan darah yan mengakibatkan terbentuknya thrombus (gumpalan darah). Jika hal tersebut terjadi risiko terkena serangan jantung semakin tinggi.

Sebelum menderita penyakit serius, perokok akan mengalami beberapa gejala kecil. Di antaranya dada yang terasa nyeri dan cepat lelah saat melakukan aktivitas berat. Sistem imunusasi akan melemah dan menyebabkan rentan terkena berbagai macam penayakit.

Perlu ada dukungan dari keluarga untuk berhenti merokok (Foto: Pexels/Basil MK)

Bukan perokok aktif saja yang memiliki risiko penyakit kardiovaskular. Orang yang menghisap asap rokok atau perokok pasif memiliki risiko sama. Jadi percuma jika bukan perokok tapi hidup di lingkungan perokok. Dengan demikian, seorang kepala keluarga juga dapat mentransfer risiko terkena penyakit kardiovaskular kepada anggota keluarga. "Peluang untuk kardiovaskular perokok pasif juga sama dengan perokok aktif," imbuh dr. Ade.

Terlepas dari hal ini alternatif rokok semisal rokok elektrik, shisha, cerutu dan bidis memiliki dampak penyakit kardiovaskular akut yang sama. Termasuk salah satunya peneympitan pembuluh darah jantung. Risiko terkena penyakit paru-paru juga tidak bisa dihindari. "Tetap ada chemical lainya yang berbahaya dan bisa menyebabkan kanker paru-paru juga," imbuhnya lagi.

Berhenti merokok memang tidak mudah, tapi selalu ada kemungkinan jika memang sudah ada niat terlebih dulu. Dukungan keluarga juga dibutuhkan. Contohnya dengan menyingkirkan asbak di rumah dan tidak membantu dalam membeli sebungkus rokok.

Jika memang masih sulit, dr. Ade menyarankan agar perokok mengunjungi Klinik Berhenti Merokok. Klinik tersebut tersedia di beberapa rumah sakit. Metode yang ditawarkan bisa menggunakan obat-obatan dan non farmatologis (tanpa obat).

Pasien akan diberikan obat agar bisa berhenti merokok dengan metode obat-obatan. Sementara metode farmatologis dengan bersifat konseling pribadi. Pasien akan berkonsultasi dengan para dokter yang melibatkan dokter umum, dokter paru-paru, dan psikiater.

Sahabat Merah Putih marilah berhenti merokok. Sayangi kesehatan kamu dan juga kesehatan orang sekitar. Sebab perokok aktif dan pasif memiliki kerugian yang sama. Dampaknya memang tidak terasa dini, tapi dalam jangka waktu lama akan terasa akibatnya. "Jangan bayangkan setahun dua tahun jadi (penyakit), tapi puluhan tahun," tukas dr.Ade. (ikh)

Kredit : digdo


Ikhsan Digdo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH