Merindukan Ramadan di Tanah Air dari Rusia Umat muslim di Rusia berpuasa hampir 20 jam. (foto: study.eu)

KERIUHAN Piala Dunia 2018 mulai menggema. Tahun ini, ajang prestisius sepak bola itu digelar di Negara Federasi Rusia. Uniknya, tahun ini Piala Dunia berlangsung di saat bulan Ramadan. Pertandingan pembuka Piala Dunia akan digelar pada 14 Juni mendatang, tepat sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri di Tanah Air.

Gegap gempita menyambut perhelatan Piala Dunia mungkin tak terlalu bergema di Tanah Air, tapi di Rusia, keramaian sudah pasti terasa. Hal itu mengingat kehadiran tim yang berlaga dan para penggemar olahraga olah bola tersebut. Meskipun demikian, para warga negara muslim Indonesia yang tinggal di Rusia mengaku ajang itu tak memengaruhi kegiatan berpuasa mereka. "Enggak pengaruhnya sih. Biasa saja," ujar Muhamad Randa Yudhistira, Ketua Persatuan Mahasiswa Rusia (Permira) di Moskow saat dihubungi Merahputih.com, beberapa waktu lalu.

Muslim Indonesia di Moskow yang tergabung dalam Himpunan Persaudaraan Islam Indonesia (HPII) memang secara rutin mengadakan buka bersama di KBRI Moskow. Kegiatan itu digelar tiap Jumat selama Ramadan. Kegiatan bukber diisi ceramah, berbuka puasa, salat magrib, makan, salat Isya, dan salat tarawih. Bahkan, selepas tarawih, beberapa mahasiswa menjalankan iktikaf di musala KBRI Moskow.

Sajian berbuka puasa HPII Moskow. (foto: istimewa)

Tak seperti di Tanah Air, acara bukber muslim Indonesia di Rusia berlanjut hingga keesokan harinya. Pasalnya, durasi puasa di Rusia memang panjang, yakni hampir 20 jam. Muslim di sana memulai puasa sekitar pukul 02.00 hingga lewat pukul 21.00. Durasi puasa itu jelas berbeda jauh dengan di Indonesia. "Saat awal dulu, rasanya berat. Namun, setelah dijalani, ternyata sama saja dengan di Tanah Air," ujar Randa. Di saat musim semi seperti sekarang, suhu di Rusia mencapai 12-16 derajat celsius. Udara yang tak terlalu panas itulah yang membuat berpuasa di sana tidak terlalu berat.

Bagi Randa, tantangan berpuasa sesungguhnya ialah menahan kesabaran. Bulan Ramadan yang jatuh bertepatan dengan musim ujian membuat jadwalnya menjadi padat. "Biasanya ujian di sini masuk ke ruangan satu per satu keruangan. Jadi antrean panjang
," jelasnya. Ujian yang dijalani Randa terkadang baru berakhir pukul 21.30. Itu berarti ia harus berbuka puasa di sela ujian. Ia pun mengaku harus membawa air dan makanan kecil untuk berbuka saat ujian. Terkadang, ia masih berkuliah hingga pukul 21.00 karena bertepatan dengan waktu konsultasi mata kuliah. "Kami biasanya berbuka di universitas," katanya.


Mendalami Agama St Petersburg

blue mosque st petersburg
Blue Mosque di St Petersburg. (foto:worldtourismnews)

Sama seperti di Moskow, mahasiswa muslim di St Petersburg jugua menjalani masa ujian di saat Ramadan. Itulah tantangan berat yang dirasakan Ahmad Thaufiqurrahman. Meskipun demikian, mahasiswa yang tengah menempuh studi di St Petersburg State Transport University tetap bersemangat menjalani puasa yang durasinya sekitar 20 jam. "Alhamdulillah tetap penuh semangat menjalankan aktivitas, karena kami tahu semua tahuh bulan Ramadan merupakan bulan penuh berkah," ujar Ahmad saat dihubungi Merahputih.com, beberapa waktu lalu.

Selain menjalani ujian, Ahmad mengatakan selama Ramadan komunitas muslim di St Petersburg juga punya kegiatan keagamaan. Di kota tersebut, jumlah warga muslim cukup banyak. Mayoritas dari mereka merupakan imigran pecahan Uni Soviet. Kantor kepengurusan atau administrasi Islam di sana menggelar kelas mengaji bagi yang belum bisa membaca Alquran. Selain itu, mereka juga belajar hadits, bahasa Arab, dan Alquran. "Pengajarnya para mufti serta dosen sastra Arab," ujar Ahmad.

Dengan jeda berbuka puasa dan sahur yang berdekatan, Ahmad harus pintar membagi waktu untuk menyiapkan makanan dan beribadah. Ia beruntung jarak asramanya dan masjid cukup dekat. "Enggak sulit mengatur waktunya. Sore masak untuk berbuka dan sahur, jadi habis tarawih langsung sahur tanpa memasak lagi," jelasnya.

Untuk urusan memasak dan bersiap untuk berbuka, Ahmad punya kisah unik tersendiri. Pernah suatu kali ia bersama sembilan kawannya memasak nasi untuk berbuka. Tak disangka, nasi yang dimasak gagal. "Jadi selama berbuka kami cuma makan kurma dan minum air. Soalnya waktu isya sudah mepet," kisahnya. Di lain waktu, Ahmad dan kawan-kawannya ikut berbuka di masjid. Makanan disajikan ialag plov, makanan khas Rusia bagian selatan, Asia Tengah, dan Timur Tengah. Mereka pun bertahan di masjid sampai betul-betul sepi demi mendapat tambahan plov untuk dibawa pulang. "Waktu itu aku bawa dua porsi lebih. Tapi karena waktu buka dan sahur mepet, jadi perut sudah enggak kuat menampung makanan lagi," ceritanya.


Merindukan Tanah Air

Berada jauh dari rumah pastilah menerbitkan kerinduan. Baik Randa maupun Ahmad sama-sama mengaku merindukan suasana Ramadan di Tanah Air. Tahun ini merupakan tahun ketiga Randa berpuasa di Rusia. Ia mengaku merindukan suasana berbuka bersama keluarga. "Kangen bukber bareng teman-teman SD, SMP, dan SMA. Selain itu bangunin sahur bareng kawan-kawan, tadarusan bareng juga menu andalan mama di rumah," ujarnya. Namun, Randa cukup beruntung masih bisa merasakan sedikit 'rasa Indonesia' ketika acara bukber. Pasalnya, di saat itu, ia bisa menikmati sajian Indonesia. "Saya paling kangen tempe goreng. Ada pekerja Indonesia di sini yang membuat tempe," ujarnya.

Kerinduan serupa juga dirasakan Ahmad. Ramadan kali ini merupakan tahun kedua ia tinggal di St Petersburg. Namun, sebelumnya ia tinggal setahun di Samara untuk belajar bahasa Rusia. Tak seperti HPII di Moskow yang rutin menggelar buka bersama, di St Petersburg bukber hanya digelar sekali di bulan Ramadan. "Tahun lalu sih bukber di salah satu restoran halal di sini," ujarnya. Enggak cuma kangen bukber seperti di Indonesia, ia mengatakan pasar takjil yang marak kala bulan puasa juga menerbitkan rasa rindunya. Hal itu wajar saja mengingat penganut agama Islam di sana merupakan minoritas sehingga suasana Ramadan tak seramai di Indonesia.

Meskipun demikian, warga muslim di Rusia tetap bisa beribadah dengan bebas, Toleransi antarumat dan warga di sana terjalin dengan baik. Ahmad mengakui warga Rusia amat welcome dan menghargai perbedaan. Teman-teman satu kelasnya bahkan amat tertarik menggali informasi tentang Indonesia dan Islam. "Tapi tak bisa dimungkiri ada juga oknum tertentu yang tidak menyukai Islam," jelasnya.

Adanya toleransi antawarga itu pun diamini Randa. Kebebasan beragama di Rusia amatlah baik, demikian juga toleransi antarumat beragama. "Bahkan Islam menduduki posisi kedua agama mayoritas setelah Kristen Ortodoks," jelas Randa.(dwi)

Kredit : dwi


Dwi Astarini