Meriam Karbit, Warisan Budaya Melayu di Pontianak Sejumlah anak main meriam karbit di Pontianak, Kalimantan Barat. (Foto: ANTARA/Jessica Wuysang)

Tradisi Lebaran di Tanah Air bukan hanya Halal bi Halal. Meriam Karbit yang biasa dilakukan warga Pontianak pun merupakan salah satu contoh tradisi Lebaran yang ada di Indonesia.

Tradisi ini biasanya dikemas dalam bentuk Festival Meriam Karbit dan diadakan di tepian Sungai Kapuas pada malam takbiran dan salat Idul Fitri. Meriam karbit yang dipakai untuk menjalankan tradisi tersebut terbuat dari sebatang kayu bulat dengan panjang 6 meter dan diameter lebih dari 50 sentimeter.

Festival Meriam Karbit dilakukan secara berkelompok. Setiap kelompok warga memiliki 6 hingga 10 meriam karbit dan saat ini lebih dari 50 kelompok warga punya meriam karbit di tepian Sungai Kapuas. Menjelang malam takbiran, meriam-meriam yang direndam di Sungai Kapuas usai digunakan pada tahun sebelumnya mulai dinaikkan. Perendaman meriam di air ialah untuk memperpanjang masa pakai. Meriam-meriam tersebut mulai dinaikkan usai salat Tarawih.

Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, menyebutkan tradisi meriam karbit telah resmi menjadi warisan kesenian budaya Melayu di Pontianak. "Setelah mendapat pengakuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai warisan budaya tak benda, meriam karbit diharapkan dapat go international," ujar Cornelius.

Setelah permainan meriam karbit, Pemerintah Kota Pontianak juga akan mendaftarkan hak paten peceri nanas ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia atau HAM.

"Kalau sudah didaftarkan dan masuk dalam daftar Kementerian Hukum dan HAM, menjadi trade mark. Tidak bisa lagi diklaim pihak manapun," tegasnya.

Baca artikel lain mengenai tradisi Lebaran di Indonesia: https://www.merahputih.com/post/read/sejarah-halal-bi-halal-yang-hanya-ada-di-indonesia.



Rina Garmina

LAINNYA DARI MERAH PUTIH