Meriahkan Kemerdekaan RI ke-73, Harapan Djaya Gelar Homebrewers Throwdown 2018 Kompetisi Homebrewers Throwdown 2018 (Foto: Mp/Raden Yusuf Nayamenggala)

KEDAI Kopi Harapan Djaya, untuk pertama kalinya di Indonesia, menggelar Homebrewers Throwdown 2018. Ini merupakan kompetisi menyeduh kopi namun bukan diikuti oleh profesional seperti kompetisi lainnya, tapi oleh para home brewers.

Para peserta mengikuti kompetisi ini, betul-betul home brewers atau penyeduh kopi rumahan. Bukan mereka yang setiap harinya ada di belakang bar dalam artian bekerja sebagai barista.

"Jadi kita disini pengen ngundang mereka yang suka nyeduh dirumah. Kita pengen buat peluang untuk mereka yang suka nyeduh dan mengevaluasi seberapa jauh jika kopi seduhannya di adu dengan orang lain," tutur Manager Harapan Djaya, Rifqi Rian putra, saat ditemui merahputih.com di Kedai Kopi Harapan Djaya, Jakarta Selatan, Jumat (17/8).

(Foto: MP/Raden Yusuf Nayamenggala)

Penyaringan para pesertanya pun cukup ketat dan selektif. Pada Homebrewers Throwdown 2018 ini, setiap peserta yang mendaftar betul-betul di cek latar belakangnya. Jika dirinya merupakan seorang barista aktif, maka akan langsung ditolak alias tak diterima. Karena yang dibutuhkan adalah homebrewers, bukan seorang profesional.

Untuk biaya pendaftaran sendiri, terbilang cukup terjangkau, yaitu Rp30.000. Sementara jumlah pesertanya pun cukup banyak, ada 24 orang berasal dari Jakarta dan sekitarnya, Malang serta Surabaya.

Peralatan yang digunakan untuk kompetisi ini yaitu V60, Kalita, Diting dan juga Veima 600n serta Porlex Hand Grinder. Mengapa disediakan Veima 600n dan Porlex Hand Grinder, hal itu untuk memberi kemudah bagi para peserta yang cendrung lebih familiar ke salah satu alat tersebut. Namun dalam hal ini, pihak panitia juga membebaskan jika peserta membawa alat sendiri dari rumah.

(Foto: MP/Raden Yusuf Nayamenggala)

Kompetisi ini sendiri terdiri dari beberapa sesi, yaitu babak eliminasi, semi final dan final. Dimana pada babak elinimasi disaring 8 orang dari 24, babak semi final disaring 4 dari 8 orang dan babak final tentunya disaring 2 orang yang salah satunya menjadi pemenang.

Sementara untuk beans yang dipakai ada dua jenis, yaitu costa rica la arquidea untuk eliminasi-semi final, dan Ethiophia Margarisa untuk babak Final.

Proses penilaiannya sendiri cukup banyak, dari mulai first impresion, dimana para judge menilai apakah si brewers mendapatkan kompleksitas aciditnya, atau menaikan sweetnessnya. Selain itu, para judge juga tak ingin secara general pahit kopinya belebihan, asamnya berlebihan, atau terlalu strong overhelming. Jadi disini harus balance dan mendapat Complexity, dan nyaman dimulut.

Pertandingan para homebrewers yang digelar di Harapan Djaya sejak pukul 09.00 WIB tersebut memang terbilang cukup sengit, betapa tidak. Kendati bukan profesional, namun para peserta merupakan orang-orang yang telah berpengalaman dibidang seduh menyeduh kopi yang kemampuannya tak bisa dianggap enteng.

(Foto: MP/Raden Yusuf Nayamenggala)

Dari babak eliminasi ke semi-final, ketegangan terlihat semakin meningkat. Hal itu tampak dari raut wajah tegang 4 orang brewers yang masuk dalam babak semi final. Hingga pada puncaknya menyisakan dua orang peserta yang berhasil lolos ke babak final, yaitu Fandy Achmad Fathoni dan Adra Firmansyah.

Keduanya pun tampak begitu begitu bersemangat untuk memperbutkan gelar juara, plakat dari Harapan Djaya, serta uang tunai senilai Rp1 juta. Hingga pada partai final baik Fandy maupun Adra terlihat begitu serius dalam menyeduh kopi.

Sekitar 10 menit waktu bergulir yang diberikan untuk menyeduh kopi, akhirnya kopi hasil seduhan Fandy dan Adra pun selesai dan diletakan keatas meja Judge untuk dinilai.

Setelah penilaian yang cukup alot dari 3 orang Judge yaitu Andy, Fakhry dan Rendy yang semuanya telah memiliki pengalman cukup memukau di dunia kopi. Akhirnya keluarlah nama untuk sebuah kopi yang menjadi juara, yaitu Adra, Peserta Asal Jakarta.

Adra (kiri) Judge Fahry (Kanan) (Foto: MP/Raden Yusuf Nayamenggala)

Uniknya, sebelum kompetisi tersebut, Adra mengaku tak memiliki persiapan khusus. Dirinya hanya menyeduh kopi seperti biasa menjelang kompetisi.

"Persiapan sih enggak terlalu banyak, maksudnya rutinitas brewingnya sih gitu-gitu aja. Enggak ngubah metode brewersnya. Cuma main di air doang dikit, tapi maksudnya bikin air sendiri aja ga ada latihan khusus," ucap Adra.

Pria yang menyukai kopi sejak kecil namun baru intens dengan kopi sekitar 7 tahun belakangan ini. Ia mengaku senang tapi tetap tak menyangka bisa keluar menjadi pemenang.

"Awalnya sih fifty-fifty yah bisa menang. Agak pesimis juga, tapi ya sudahlah dicoba aja dan menang," tambahnya.

Pada pertandingan itu sendiri, Adra mengaku lawan-lawannya cukup sulit, dan banyak dari mereka yang sangat berpengalaman dalam menyeduh kopi. Baginya, ini hanyalah sebuah keberuntungan dapat memenangkan pertandingan tersebut.

Usai menjadi juara Homebrewers 2018, Adra mengaku belum ada rencanan untuk mengikuti kompetisi yang lebih besar lainnya. Untuk saat ia hanya ingin menikmati kopi saja. (ryn)

Baca juga yuk artikel menarik yang lainnya Deretan Artis Cantik Tanah Air yang Tampil Memesona di Istana Negara

Kredit : raden_yusuf

Tags Artikel Ini

Raden Yusuf Nayamenggala