Menyoal Pasal-Pasal Kontroversial dalam UU MD3 Sejumlah anggota fraksi Nasdem melakukan Walk-Out pada Rapat Paripurna pengambilan keputusan revisi UU MD3 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (12/2). Rapat Paripurna DPR resmi mengesahkan r

MerahPutih.Com - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Selasa (13/2) kemarin telah mengesahkan revisi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, DPR, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU MD3). Pengesahan UU MD3 diwarnai oleh aksi walk out Fraksi Nasdem dan Fraksi PPP yang menolak penetapan.

Sebelum pengesahan, UU MD3 mendapat penolakan luas dari kalangan pengamat, akademisi, masyarakat sipil hingga kelompok pegiat hak asasi manusia. Ada sejumlah pasal kontroversi dalam UU MD3. Salah satu yang paling mendapat sorotan adalah hak imunitas DPR dan pemanggilan paksa.

Lantas, pasal-pasal mana saja dalam UU MD3 yang dianggap kontroversial? Diolah dari berbagai sumber, merahputih.com coba untuk merangkumnya sebagai berikut:

Pasal 73 : Pemanggilan Paksa

1. DPR dalam melaksanakan wewenang dan tugasnya, berhak memanggil setiap orang secara tertulis untuk hadir dalam rapat DPR.

2. Setiap orang wajib memenuhi panggilan DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

3. Dalam hal setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak hadir setelah diapnggil 3 (tiga) kali berturut-turut tanpa alasan yang patut dan sah, DPR berhak melakukan panggilan paksa dengan menggunakan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

4. Panggilan paksa sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Pimpinan DPR mengajukan permintaan secara tertulis kepada Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia paling sedikit memuat dasar dan alasan pemanggilan paksa serta nama dan alamat pejabat negara, pejabat pemerintah, badan hukum dan/atau warga masyarakat yang dipanggil paksa;

b. Kepolisian Negara Republik Indonesia wajib memenuhi permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf a; dan

c Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia memerintahkan Kepala Kepolisian Daerah di tempat domisili pejabat negara, pejabat pemerintah, badan hukum dan/atau warga masyarakat yang dipanggil paksa untuk dihadirkan memenuhi panggilan DPR sebagaimana dimaksud pada ayat (4).

5. Dalam hal menjalankan panggilan paksa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf `b, Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat menyandera setiap orang untuk paling lama 30 (tiga puluh) hari.

6. Ketentuan lebih lanjut mengenai pemanggilan paksa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b dan penyanderaan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Pasal 122 huruf k : Penghinaan Parlemen atau anggota dewan

Pasal 122 huruf k yang berbunyi MKD bertugas mengambil langkah hukum dan atau langkah lain terhadap orang perseorangan, kelompok orang, atau badan hukum yang merendahkan kehormatan DPR dan anggota DPR.

Menurut sejumlah anggota Badan Legislasi DPR, pasal ini bertujuan untuk melindungi dan menjamin kehormatan anggota DPR.

Alasan lain yang dipaparkan yakni kelembagaan DPR di era demokrasi justru harus dijaga sehinggga MKD perlu diberikan kewenangan untuk memanggil dan memeriksa pihak yang diduga merendahkan kehormatan dewan dan dan anggotanya.

Setelah diperiksa dan ternyata terbukti menghina DPR atau anggotanya, akan ditempuh langkah selanjutnya.

Jika yang menghina ialah sebuah lembaga negara maka akan ditindaklanjuti dengan hak yang melekat pada DPR seperti memunculkan hak interpelasi, angket, dan lainnya.

Pasal 245: Hak Imunitas

DPR dan pemerintah sepakat bahwa pemeriksaan anggota DPR harus dipertimbangkan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) terlebih dahulu sebelum dilimpahkan ke Presiden untuk pemberian izin bagi aparat penegak hukum.

Klausul itu menjadi kesepakatan antara pemerintah dan DPR dalam revisi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) terkait Pasal 245.

Padahal, sebelumnya Mahkamah Konstitusi (MK) telah membatalkan klausul atas izin MKD, sehingga izin diberikan oleh presiden. Kini DPR mengganti izin MKD dengan frase "pertimbangan".

Pertimbangan MKD dan izin presiden tidak berlaku bagi anggota DPR yang tertangkap tangan saat melakukan tindak pidana, terlibat tindak pidana khusus, dan pidana dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup.

Pasal-pasal kontroversial ini berpotensi menempatkan DPR sebagai lembaga yang tak tersentuh oleh hukum dan kritik. Banyak pihak yang menyayangkan, pasal-pasal kontroversial dalam UU MD3 tetap disahkan meskipun dalam Sidang Paripurna DPR Rabu (14/2) Ketua DPR Bambang Soesatyo menyatakan DPR bukanlah lembaga antikritik tapi butuh kritik.(*)


Tags Artikel Ini

Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH