Menyingkap Pelaku Penyiraman Novel Baswedan, Kenapa Begitu Lama? Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan (tengah). (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

MerahPutih.Com - Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan telah setahun berlalu. Namun, hingga kini pelaku maupun aktor intelektual dibalik teror tersebut tak kunjung terungkap.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, menyayangkan sikap kepolisian yang lamban dalam menuntaskan kasus teror terhadap Novel. Menurutnya, dengan sumber daya luar biasa yang dimiliki, Polri dapat dengan mudah mengungkap kasus tersebut.

“Polisi ini kan lembaga yang powerfull, teroris pun bisa ditangkap, narkoba pun bisa diungkap, kenapa kasus penyiraman air keras ini tidak tuntas,” ujarnya kepada merahputih.com, Senin (16/4).

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini menilai, Polri tak sungguh-sungguh dalam menangani kasus ini. Hal itu menguatkan dugaan adanya keterlibatan orang besar di balik penyiraman air keras terhadap Kasatgas kasus korupsi e-KTP itu.

“Saya rasa bisa berkelindan dengan hal yang lain. Bisa jadi ada orang yang memang terlibat dalam masalah itu. Dugaan kita ada orang kuat yang memang terlibat,” ungkap Ujang.

Pengamat Politik Ujang Komarudin
Ujang Komarudin, pengamat politik (Foto: Screenshot youtube.com)

Menurut Ujang, kasus teror terhadap Novel menjadi pertaruhan bagi pemerintahan Joko Widodo. Kasus ini, lanjutnya, akan jadi beban tersendiri bagi Jokowi jika kelak mantan Gubernur DKI Jakarta itu kembali memenangkan Pemilihan Presiden 2019.

“Apakah memang serius menuntaskan kasus ini atau hanya lip service, hanya sekedar basa basi hanya untuk melakukan pencitraan. Jadi bahaya kalau kasus ini tidak dituntaskan,” paparnya.

Ujang juga berpendapat, jika kasus teror terhadap Novel tidak selesai akan jadi preseden buruk bagi penegakan hak asasi manusia ke depannya. Imbas lainnya, para penegak hukum akan takut menjalankan tugasnya karena akan mengalami hal yang sama dengan Novel.

“Karena jadi preseden buruk bagi bangsa Indonesia ke depan. Jadi penegak hukum akan takut, bahkan komisioner KPK nya bisa takut. Jadi mau tidak mau polisi harus objektif dan berjalan di rel hukum, siapapun yang terlibat ditindak,”tegasnya.

Lambannya pengungkapan kasus Novel, kata Ujang, bisa menguatkan dugaan bahwa ada oknum jenderal di tubuh korps Bayangkara yang terlibat. Selain itu, lanjutnya, ada indikasi bahwa kasus Novel berkaitan dengan rezim yang berkuasa saat ini. Sehingga, Polri tak berani membogkar pelaku dan dalang di balik teror tersebut.

“Bisa jadi kasus novel itu dilakukan oleh oknum jenderal polisi, sehingga polri tidak berani mengungkap. Mungkin juga begini, hari ini memang tidak dibongkar tapi next kalau rezim berganti bisa jadi terungkap,” pungkasnya.

Sebelumnya, Novel Baswedan menduga ada oknum Polri yang terlibat dalam kasus teror penyiraman air keras yang dialaminya setahun lalu.

Novel Baswedan saat dirawat
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. (ANTARA FOTO)

Setelah setahun berlalu, pihak kepolisan belum mampu mengungkap pelaku maupun dalang teror terhadap Novel. Selain oknum kepolisian, Novel juga menduga kasus teror yang menimpanya terkait dengan sejumlah orang yang memiliki kekuasaan.

"Saya pernah menyampaikan bahwa ini terkait dengan orang-orang yang punya kekuasaan. Saya menduga bahwa ada oknum Polri juga yang terlibat di sini sehingga saya ingin menyampaikan bahwa saya menduga itu yang terjadi," kata Novel di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (11/4).

Novel bukan kali ini saja mengungkap dugaan adanya oknum yang terlibat. Saat menjalani perawatan di Singapura, Novel juga pernah mengungkap hal serupa. Hingga kini, Novel meyakini tidak ada kemauan dari Korps Bayangkara untuk menuntaskan kasus teror yang dialaminya.

"Saya sudah menyampaikan sejak awal bahkan saya seingat saya lima bulan setelah saya di Singapura saya menyampaikan bahwa saya meyakini ini tidak akan diungkap. Apakah itu merupakan keengganan atau memang ada suatu kesengajaan saya tidak tahu," tuturnya.

Kendati demikian, Novel masih enggan mengungkap oknum Polri atau pihak yang punya kekuasaan yang disebutnya terlibat dalam kasus teror ini. Novel mengaku menyampaikan hal tersebut pada pihak kepolisian atau Komnas HAM.

"Nanti kita lihat lagi. Saya tidak ingin menyampaikan lebih jauh karena Komnas HAM sekarang sudah bekerja dan tentunya kita berharap apa yang dilakukan Komnas HAM ke depan menjadi kekuatan juga untuk mendukung untuk agar tidak lagi teror teror kepada orang-orang yang memberantas korupsi telah terjadi," pungkasnya.

Irjen Pol Setyo Wasisto
Kadiv Humas Mabes Polri Irjen (Pol) Setyo Wasisto. (MP/Fadhli)

Di sisi lain, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto optimistis bisa mengungkap kasus penyerangan air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

"Kami tetap selidiki semaksimal mungkin. Kami tidak main-main. Saya optimistis ini bisa terungkap, hanya masalah waktu," kata Setyo di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (12/4).

Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan bahwa Polri kurang setuju dengan wacana pembentukan tim gabungan pencari fakta (TGPF). "Kalau menurut saya, selama kami masih mampu melakukan penyelidikan, ya kami lakukan. Karena TGPF ujung-ujungnya penyidikan juga, tapi TGPF tidak bisa langsung (melimpahkan) ke Kejaksaan," katanya dikutip Antara.

Disinggung soal Novel yang melaporkan adanya keterlibatan jenderal polisi dalam kasusnya, ke Komnas HAM, pihaknya tidak berkeberatan.

"Ya kan itu haknya dia (untuk melapor)," ujarnya sembari mengingatkan bila Novel menyebut keterlibatan jenderal maka Novel juga harus bertanggung jawab atas keterangan yang diberikannya.

Novel disiram air keras pada 11 April 2017 usai shalat subuh di Masjid Al-Ihsan dekat rumahnya. Namun hingga setahun sejak penyerangan Novel, pelaku penyerangan belum juga ditemukan.

Serangan itu menyebabkan mata sebelah kiri Novel harus dioperasi, Dia pun harus menjalani perawatan di Singapura. Novel kembali ke Jakarta untuk pertama kali usai serangan itu, Februari lalu.

Novel sudah menjalani operasi besar sebanyak dua kali. Pada operasi pertama, mata kanan Novel Baswedan mulai bisa melihat dan mengalami perbaikan yang signifikan. Operasi kedua sendiri baru dilaksanakan pada Jumat, 23 Maret 2018.

Selama Novel menjalani perawatan, polisi belum berhasil menangkap pelaku penyiraman. Beberapa orang sempat diamankan karena diduga sebagai pelaku, tapi mereka kemudian dilepaskan karena tidak ada bukti.

Polda Metro Jaya sudah merilis tiga sketsa wajah yang diduga kuat sebagai pelaku, namun belum ada hasil dari penyebaran sketsa wajah tersebut.(Pon)

Baca juga berita lainnya dalam artikel: Menguji Data Pernyataan Eggi Sudjana Soal Presiden Bikin Rakyat Miskin

Kredit : ponco


Eddy Flo