Menyentuh! Ada Pesan Rahasia di Balik Film Disney Rapunzel miliki pesan tentang isu sosial (Sumber: Disney)

KARTUN identik dengan anak-anak. Anggapan tersebut benar. Kisah fantasi yang disajikan dalam film kartun memang sesuai dengan dunia anak-anak yang begitu imajinatif.
Mulai dari hewan yang bertingkah seperti manusia, mainan yang bisa berbicara hingga kisah putri di istana. Semua dikemas begitu menarik minat. Namun, di balik putri bergaun indah atau dan hewan yang bisa berbicara, ada pesan penting yang disembunyikan.


Pesan tersebut menggambarkan permasalahan sosial yang terjadi. Meskipun pesan disajikan secara tersirat, para pencipta kartun memang menunjukkan hal-hal yang tidak bisa mereka bungkam. Kartun anak-anak bisa menjadi begitu dalam.

BACA JUGA: Kolaborasi produk kecantikan dan kartun anak

Salah satu pencipta kartun yang cukup peduli akan masalah sosial ialah Disney. Di balik menggemaskannya tokoh Dory dalam serial Finding Nemo atau anggunnya karakter Elsa dalam serial Frozen, ada kisah menyedihkan.
Bersiap-siaplah, setelah membaca fakta tentang mereka, perspektifmu akan film kartun akan berubah selamanya.

1. Depresi dan kesehatan mental - Inside Out (2015)

Film Disney
Inside Out (Sumber: Pixar)


Inside Out adalah film tentang depresi dan perkembangannya.
Ketika Riley pindah ke San Francisco, depresinya mulai berkembang. Karena dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya, ia pun menekan perasaan sedihnya dan membiarkannya terkurung di memorinya.
Lewat animasi kita bisa bisa melihat isi kepalanya. Tepat saat kesedihan mulai sangat aktif, ia akan menyentuh segala sesuatu di sekitarnya.

Joy, simbol kegembiraan membatasi Sadness representas kesedihan dari melakukan apa pun dan mencoba untuk mengurungnya dalam lingkaran.
Ketika Joy dan Sadness menghilang, Riley tidak bisa bahagia dan juga tidak bisa sedih dan terbuka tentang perasaannya. Saat itulah ia tergelincir ke dalam depresi yang mendalam. Inside Out menggambarkan bagaimana sebuah depresi melahap manusia dalam bentuk animasi
Seluruh film menunjukkan bagaimana ia berkembang dan menghancurkan segala sesuatu yang dulu menjadi definisi dirinya.


Awalnya dia hanya merasa jijik, marah, dan takut, dan kemudian dia tidak merasakan apa-apa sama sekali.
Film ini menmiliki pesan bahwa tidak apa-apa untuk merasa bahagia sepanjang waktu dan penting untuk menerima semua emosi yang kita miliki.
Itu juga memanggil kita untuk berbicara tentang perasaan dan kesehatan mental kita.


2. Gangguan mental - Finding Dory (2016)

Film Disney
Finding Dory (Sumber: Disney-Pixar)


Dory adalah ikan biru yang bermasalah dengan ingatan jangka pendeknya.
Sebagai ikan muda, Dory belajar bagaimana bertahan hidup dengan penyakitnya dan menjelaskannya kepada orang lain.


Ketika dia tersapu dan kehilangan orang tuanya, dia benar-benar tersesat. Ia tidak tahu siapa dirinya. Ini adalah kenyataan yang dihadapi orang-orang dengan gangguan amnesia.
Kehilangan memori jangka pendek bukan satu-satunya gangguan yang ditunjukkan dalam film.
Banyak karakter yang ditemui Dory mewakili penyakit mental tertentu. Misalnya, Hank Si gurita mewakili depresi dan paus bernama Bailey mewakili kecemasan.


Film ini mengajarkan penerimaan kepada anak-anak sehubungan dengan mereka yang memiliki kelainan mental dan mendorong mereka untuk mengatasi masalah mereka untuk dapat mencapai impian dan tujuan mereka.
Film tersebut juga menunjukkan realitas dan perjuangan orang-orang yang memiliki gangguan mental dan menginspirasi kita untuk membantu dan mendukung mereka sehingga mereka dapat mengatasi semuanya dengan orang yang mereka cintai di sisi mereka.


3. Menjadi Minoritas - Frozen (2013)

Film Disney
Elsa dalam Frozen (Sumber: Disney)


Dalam Frozen, Elsa harus menyembunyikan kepribadian dan kekuatannya sejak dia masih kecil.
Bahkan orang tuanya tidak pernah membantunya belajar menjadi dirinya sendiri. Ia memilih untuk menutupinya dan berusaha agar dirinya cocok dengan masyarakat.
Sarung tangan yang diberikan oleh orang tuanya menggambarkan upaya mereka untuk menyembunyikan keunikan demi terlihat "normal."


Elsa pun mengenakan sarung tangan itu seumur hidupnya dan berusaha menjadi“ normal. Pada hari penobatannya, ketika semua orang menemukan dia memiliki kekuatan sihir, orang-orang memanggilnya monster.
Dia tidak pernah menyakiti siapa pun dan tidak melakukan kesalahan, tetapi orang tidak mau menerimanya karena dia berbeda dengan cara yang dianggap negatif dan tidak dapat diterima dalam masyarakat.
Inilah yang terjadi di dunia nyata.


Film ini menunjukkan bagaimana orang-orang yang berbeda terancam dalam masyarakat. Ini bukan hanya tentang sihir. Kisah ini tentang segala jenis minoritas sosial yang ada di masyarakat.
Frozen mengajarkan kita bahwa boleh saja berbeda dan semua orang memiliki tempat di dunia ini, tidak peduli siapa mereka.

BACA JUGA: Adegan Kartun yang Tak Layak Ditonton Anak

4. Kediktatoran - Toy Story 3 (2010)

Film Disney
Lotso dalam Toy Story 3 (Sumber: Pixar-Planet)


Dalam film tersebut, Andy yang sudah dewasa menyumbangkan mainannya ke pusat penitipan anak yang diperintah oleh boneka beruang bernama Lotso. Di tempat yang terlihat sempurna tersebut tersembunyi kediktatoran.


Film ini menggambarkan banyak aspek kediktatoran mulai dari seorang pemimpin karismatik, keberadaan kelas sosial (golongan elit yang tinggal dan bermain bersama anak-anak di ruangan yang sama sementara mainan golongan yang marjinal berada di ruangan yang berbeda dan tidak ada yang merawat mereka), cuci otak (apa yang terjadi pada Buzz Lightyear), kerja paksa, dan ideologi tertentu.


Tampil sebagai surga dan tempat kebebasan, Sunnyside sebenarnya merepresentasikan kediktatoran dengan disiplin militer. Pesan yang ingin disampaikan oleh pencipta tersirat dari ucapan Barbie. "Otoritas harus berasal dari persetujuan yang diperintah, bukan dari ancaman kekuatan!" demikian ucapannya.


5. Persekusi - Wreck-It Ralph (2012)

Film Disney
Vanellope dalam Wreck-It Ralph (Sumber: Disney)


Dalam Wreck-It Ralph, Vanellope tidak seperti gadis lain dalam gim. Fakta bahwa perbedaan dianggap sebagai kesalahan membuatnya dijadikan sebagai objek penindasan. Selain tidak diizinkan bergabung dalam kelompok teman-temannya, dia terus-menerus dihina dan diejek oleh mereka. Meskipun demikian, Vanellope tetap bersikap ramah pada mereka. Ia melupakan semua perilaku mereka, bahkan ketika mereka memecahkan kereta yang dibuatnya sendiri.

Penindasan terjadi di dunia nyata dan berlaku di berbagai belahan dunia. Anak-anak korban persekusi dapat mengaitkan diri mereka Vanellope. Dengan menciptakan karakter yang kuat dan karismatik, Disney mendukung para korban bullying. Disney seolah ingin menunjukkan kepada mereka bahwa keanehan mereka yang membuat mereka unik.
Bahwa ada orang di dunia yang akan menyukai mereka apa adanya dan memperlakukan mereka dengan baik. Selain itu, Vanellope adalah contoh untuk anak-anak yang diintimidasi dan mengajarkan kita betapa pentingnya untuk tetap ramah tidak peduli apa pun itu.

6. Kekerasan Pada Anak - Tangled (2010)

Film Disney
Gothel selalu menyakiti Rapunzel (Sumber: Disney)


Apa pun yang dikatakan Ibu Gothel kepada Rapunzel sebagian sebagian besar menghancurkan harga dirinya dengan mengejek penampilan fisiknya.
Ia selalu mempertanyakan kemungkinan seseorang akan menyukainya, menertawakan mimpinya, dan membuat Rapunzel merasa bersalah akan dirinya.


Selain itu, dia terus-menerus mengatakan kepadanya bahwa Rapunzel naif dan tidak mungkin membela dirinya sendiri. Ia mencoba membuatnya menjadi tergantung secara emosional.
Gothel juga tidak membiarkan dia meninggalkan menara dan memiliki kehendak bebas.
Kisah tersebut adalah ilustrasi yang bagus tentang orang tua yang terlalu protektif dan beracun.(avia)

BACA JUGA: Tom and Jerry akan Dihadirkan Dalam Film Live Action

Kredit : iftinavia


Iftinavia Pradinantia

LAINNYA DARI MERAH PUTIH