Menteri PUPR Prioritaskan Pemenuhan Air Bersih Dibanding Irigasi Lahan Pertanian Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mochamad Basoeki Hadimoeljono . (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)

Merahputih.com - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan langkah antisipasi dan mitigasi dampak kekeringan. Caranya yakni dengan memantau ketersediaan air pada tampungan air seperti waduk, embung, danau, dan bendungan. Selain itu, Kementerian PUPR juga menjaga pasokan air bersih konsumsi masyarakat dengan membangun sumur bor.

“Saat terjadi kekeringan, pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi prioritas, baru setelah itu untuk irigasi lahan pertanian," ujar Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (17/7).

Baca Juga: PAM JAYA Ambil Alih Pengelolaan Air Bersih Jakarta

Basuki merinci, jumlah waduk yang dioperasionalkan sebanyak 231 waduk yang terdiri dari 16 waduk utama dengan kapasitas tampungan di atas 50 juta meter kubik dan 215 waduk berkapasitas tampungan kurang dari 50 juta meter kubik. Dari 16 waduk utama, sebanyak delapan waduk memiliki tinggi muka air normal, yakni Cirata, Saguling, Betutegi, Wadaslintang, Bili-Bili, Kalola, Way Rarem, dan Ponre-Ponre.

Ilustrasi air bersih

Sementara delapan waduk lainnya memiliki tinggi muka air di bawah normal, yakni Jatiluhur, Kedungombo, Wonogiri, Sutami, Wonorejo, Cacaban, Selorejo, dan Batu Bulan.

Per 30 Juni 2019, volume ketersediaan air dari 16 waduk utama tersebut sebesar 3.858,25 juta meter kubik dari tampungan efektif sebesar 5.931,62 juta meter kubik. Luas area yang bisa dilayani dari ke-16 bendungan tersebut adalah 403.413 hektare dari total 573.367 hektare.

Baca Juga: Kepala Bappenas Minta Anies Benahi Air Bersih untuk Warga Jakarta

“Waduk dengan kondisi di bawah rencana akan mengalami penyesuaian pola tanam yang pengaturannya di tentukan oleh perkumpulan petani pengguna air atau P3A,” ujar Dirjen Sumber Daya Air Hari Suprayogi. (*)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH