Menpora Penuhi Panggilan untuk Bersaksi di Sidang Suap Dana Hibah KONI Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Foto: MP/Ponco

MerahPutih.com - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi memenuhi panggilan pemeriksaan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara suap dana hibah dari Kementerian Pemuda dan Oalahraga (Kemenpora) untuk Komite Nasional Olahraga Indonesia (KONI), Kamis (4/7).

Imam tiba di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta sekitar pukul 15.40 WIB. Imam langsung menyapa beberapa awak media yang sudah menunggu kehadirannya.

Menpora Imam Nahrawi seusai diperiksa KPK (MP/Ponco Sulaksono)
Menpora Imam Nahrawi seusai diperiksa KPK (MP/Ponco Sulaksono)

Namun, Imam enggan berkomentar terkait kasus yang menjerat anak buahnya di Kemenpora. Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini memilih bergegas masuk ke ruang tunggu saksi.

BACA JUGA: Jaksa KPK Cecar Menpora Imam Nahrawi Soal Kinerja Asprinya

"Ya nanti ya. Saya masuk dulu yah," kata Iman sembari menuju ruang tunggu saksi.

Dalam sidang kali ini, Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga mengagendakan memanggil Staf pribadi Imam, Miftahul Ulum. Mereka berdua akan menjadi saksi untuk terdakwa Adhi Purnomo, dan Eko Triyanto.

Diketahui, dalam putusan Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy, majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta meyakini uang senilai Rp11,5 miliar mengalir ke Imam Nahrawi. Uang suap dana hibah Kemenpora kepada KONI itu diserahkan Fuad kepada Imam melalui Ulum dan staf protokol Kemenpora, Arief Susanto.

Ulum menerima uang dengan rincian, Rp2 miliar pada Maret 2018, yang diserahkan di kantor KONI. Kemudian, Rp500 juta diserahkan pada Februari 2018 di ruang kerja Sekjen KONI. Selanjutnya, Rp3 miliar melalui Arief Susanto yang menjadi orang suruhan Ulum.

Kemudian, Rp3 miliar kepada Ulum di ruang kerja Sekjen KONI pada Mei 2018. Selanjutnya, penyerahan Rp3 miliar dalam mata uang asing. Uang diserahkan sebelum lebaran di Lapangan Tenis Kemenpora pada 2018.

Menurut hakim, meski Imam dan stafnya membantah menerima uang, pemberian uang itu diakui oleh para terdakwa dan saksi lainnya. Dalam putusannya, Hamidy divonis 2 tahun 8 bulan penjara dan dihukum membayar denda Rp100 juta subsider 2 bulan kurungan.

Hamidy terbukti menyuap Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Mulyana, pejabat pembuat komitmen (PPK) pada Kemenpora Adhi Purnomo dan staf Kemenpora Eko Triyanta.

Perbuatan itu dilakukan Hamidy bersama-sama dengan Bendahara KONI Johny E Awuy. Hamidy dan Johny terbukti memberikan 1 unit Toyota Fortuner hitam dan uang Rp300 juta kepada Mulyana. Selain itu, Mulyana diberikan kartu ATM debit BNI dengan saldo Rp 100 juta.

Kemudian, Johny dan Hamidy juga memberikan ponsel merek Samsung Galaxy Note 9 kepada Mulyana. Selain itu, Hamidy juga memberikan uang Rp215 juta kepada Adhi Purnomo dan Eko Triyanta.

Terdakwa kasus suap KONI
Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ending Fuad Hamidy menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (11/3/2019). ANTARA/Sigid Kurniawan

Pemberian hadiah bertujuan agar Mulyana dan dua orang lainnya membantu mempercepat proses persetujuan dan pencairan dana hibah Kemenpora yang akan diberikan kepada KONI.

BACA JUGA: Hakim Yakini Menpora Imam Nahrawi Terima Duit Rp11,5 Miliar dari Sekjen KONI

KONI mengajukan proposal bantuan dana hibah kepada Kemenpora dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional pada multi event 18th Asian Games 2018 dan 3rd Asian Para Games 2018.

Termasuk, proposal dukungan KONI dalam rangka pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi Tahun 2018. (Pon)

Kredit : ponco

Tags Artikel Ini

Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH