Menlu AS Peringatkan Hati-Hati Berhutang Pada China Menlu AS Rex Tillerson (Foto: Xinhua)

MerahPutih.Com - Sejumlah negara di kawasan Asia, Amerika Latin dan Afrika belakangan ini lebih memilih berhutang kepada China ketimbang beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, Kanada atau Inggris.

Dari wilayah Asia, Indonesia contohnya mulai meminta bantuan China untuk menalangi dana pembangunan sarana-prasarana di Tanah Air. Sementara wilayah Afrika boleh disebut sebagai lahan subur bagi China dalam memberikan pinjaman.

Atas kegemaran berhutang kepada China, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson memberikan peringatan, agar negara-negara Afrika harus berhati-hati terhadap tawaran hutang dari China.

Berbicara di Addis Ababa, Ethiopia, Kamis (8/3) Rex Tillerson menegaskan bahwa Washington tidak bermaksud menghalang-halangi investasi China di benua Afrika.

"Kami tentu saja tidak bermaksud untuk menghalangi investasi dari China untuk Afrika," kata Tillerson dalam konferensi pers di Addis Ababa. Ini merupakan pertama kalinya Tillerson mengunjungi negara tersebut.

Lebih lanjut, Menlu AS menjelaskan bahwa perjanjian utang berisiko terhadap kedaulatan negara.

"Namun sangat penting bagi negara-negara Afrika untuk secara berhati-hati mempertimbangkan berbagai macam syarat perjanjian (hutang dari China) agar tidak begitu saja menyerahkan kedaulatan mereka," kata Tillerson.

Secara terpisah, menanggapi pernyataan Amerika Serikat terkait perang perdagangan dengan negaranya, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyatakan kebijakan AS khususnya dalam tarif baja impor akan merugikan semua pihak.

Presiden Donald Trump diperkirakan menetapkan tarif 25 persen untuk baja impor dan 10 persen pada aluminium impor pada minggu ini, namun Gedung Putih mengatakan akan ada pengecualian 30 hari untuk Meksiko dan Kanada serta beberapa negara lain berdasarkan atas keamanan nasional.

Wang, yang berbicara di sela-sela pertemuan tahunan parlemen China, mengatakan bahwa China dan AS tidak harus menjadi saingan, dan sejarah menunjukkan bahwa perang perdagangan bukanlah cara yang benar untuk menyelesaikan masalah.

"Terutama mengingat globalisasi hari ini, memilih perang perdagangan adalah keputusan yang salah. Hasilnya hanya akan berbahaya," kata Wang.

"China harus membuat tanggapan yang beralasan dan perlu," katanya.

Wang sebagaimana dilansir Antara dari Xinhua mengatakan China memiliki jalan panjang untuk mencapai jalur modernisasi, dan bahwa "tidak akan dan tidak perlu menggantikan Amerika Serikat".

Trump membahas perdagangan dengan China dalam cuitannya pada Rabu, menuntut agar China merumuskan rencana untuk mengurangi surplus perdagangannya dengan AS sebesar 1 miliar dolar AS, yang tampaknya telah diangkat dalam sebuah pertemuan dengan seorang pejabat tinggi China pekan lalu.

"China diminta mengembangkan rencana untuk setahun pengurangan satu miliar dolar dalam Defisit Perdagangan besar-besaran mereka dengan AS," kata Trump, tanpa mengatakan dari mana pesan tersebut disampaikan.

China mencatatkan surplus perdagangan barang dengan AS tahun lalu sebesar 375,2 miliar dolar AS.

Ketegangan perdagangan di antara dua negara ekonomi terbesar di dunia itu meningkat sejak Trump memerintah pada 2017 dan meskipun China hanya menyumbang sebagian kecil impor baja AS, perluasan besar industri membantu menghasilkan persedian baja berlimpah secara global, yang menurunkan harganya.(*)



Eddy Flo

LAINNYA DARI MERAH PUTIH