Menkes: Angka Penderita DBD Mulai Turun Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek mengunjungi korban Tsunami (@kemenkesRI)

Merahputih.com - Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyatakan kasus baru demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia mulai menurun memasuki pertengahan Februari 2018. Hal itu lantaran masyarakat mulai sadar menjaga populasi nyamuk.

"Saya melihat peran dari masyarakat sekarang sudah meningkat. Artinya nyamuk itu kan berada di lingkungan kita dan kami sudah berulang kali mengingatkan, dan kelihatannya ini memang sudah disadari 3M itu," kata Nila di kantor Kemenko PMK Jakarta, Senin (11/2).

Kementerian Kesehatan per 9 Februari 2019 mencatat, jumlah kasus penyakit DBD di seluruh Indonesia mencapai 18.106 orang dengan kematian 180 orang.

Namun jumlah kasus baru penyakit DBD di seluruh Indonesia menurun menjadi di bawah 500 kasus per hari dibandingkan pada Januari. Dimana pada Januar bisa mencapai hampir 3000 kasus per hari dan rata-rata di atas 1000 kasus per hari.

"Beberapa banyak lingkungan yang sudah memperhatikan, angkanya mulai turun kalau saya lihat. Kita kerja sama yang baik, kebersihan lingkungan, tindakan kesehatan, pengobatan, mudah-mudahan teratasi," jelas Menkes sebagaimana dikutip Antara.

Pemberantasan nyamuk dengan fogging. (Foto: Pixabay/ernestoeslava)
Pemberantasan nyamuk dengan fogging. (Foto: Pixabay/ernestoeslava)

Soal penyebaran, wilayah Provinsi Jawa Timur masih menjadi yang tertinggi dalam hal kasus dan kematian akibat DBD. Lalu beberapa wilayah dengan kasus suspek DBD tertinggi selanjutnya adalah Jawa Timur, Jawa Barat, NTT, Lampung, Sulawesi Utara, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta.

Banyak kasus DBD terjadi pada anak-anak. Oleh karena itu ia mengingatkan agar pihak sekolah agar menguras air di toilet sekolah tiap akhir pekan agar tidak menjadi sarang nyamuk.

Menkes juga menyebut virus demam berdarah terus bermutasi sehingga vaksin untuk pencegahan DBD saat ini belum terlalu efektif untuk wilayah Indoneisa.

"Jeleknya virus ini sering bermutasi, sedangkan dengue ada empat tipe. Mungkin ada tipe-tipe lain yang ngga mudah kita nilai virus itu. Tipe 1, 2, 3, 4. Di Indonesia tipe 2, akibatnya vaksin itu susah dibuat karena dia akan berubah-ubah," kata Nila. (*)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH