Menilik Tradisi Menulis Buku Presiden-presiden Indonesia Buku Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya karya Soeharto. (http://koleksitempodoeloe.blogspot.co.id)

'Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.'

Demikianlah kalimat yang ditorehkan oleh salah seorang sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer dalam buku Rumah Kaca. Berdasarkan petuah itu pula, beberapa presiden-presiden Indonesia kemudian melestarikan budaya dan tradisi menulis, yang mampu mewarnai sejarah kepenulisan Indonesia.

Sebagai contoh, Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang turut serta meramaikan tradisi tersebut dengan mengeluarkan buku berjudul Selalu Ada Pilihan. Selain SBY, siapa dan apa saja buku-buku yang dikeluarkan oleh pemimpin bangsa Indonesia?

1. Presiden Sukarno dengan buku "Di Bawah Bendera Revolusi"

Buku Di Bawah Bendera Revolusi karya Sukarno. (http://chakrapratama.blogspot.co.id)

Di Bawah Bendera Revolusi merupakan buku semibiografi Sukarno. Buku tersebut mengulas habis kisah hidup Sukarno sejak kecil, masa remaja, sampai menjadi presiden pertama Indonesia. Selain itu, buku tersebut juga berisikan pemikiran-pemikiran Sukarno, melawan arus imperialisme kolonial yang pada saat itu masih lekat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Buku Di Bawah Bendera Revolusi pertama kali diterbitkan pada 1959. Pun sempat mengalami beberapa kali cetak di antara 1963-1966. Dengan sampul kulit berwarna biru tua serta tulisan tinta emas pada judul luar, buku tersebut memiliki ketebalan sekitar 671 halaman.

Ironis, pada era Soeharto, buku tersebut sempat dilarang peredarannya. Kelangkaan tersebut tak ayal membuat harga buku Di Bawah Bendera Revolusi mengalami lonjakan kenaikan yang cukup drastis.

2. Presiden Soeharto dengan buku "Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya"

Buku Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya karya Soeharto. (http://koleksitempodoeloe.blogspot.co.id)

Menjadi orang nomor satu di Indonesia selama 31 tahun tak membuat Soeharto melupakan dunia kepenulisan. Ia mengeluarkan sebuah buku seperti yang dilakukan oleh Sukarno. Buku Soeharto itu berjudul Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya.

Adapun buku tersebut menceritakan tentang kisah hidup Soeharto, pandangan beliau akan terhadap sektor kehidupan, dan penjelasan program kerja sebagai presiden. Buku tersebut pertama kali dicetak pada 1989 dengan jumlah halaman sekitar 599.

Menariknya, di dalam buku tersebut juga menjelaskan aliran kebatinan yang dianut Soeharto. Namun, ia menegaskan bahwa aliran tersebut tidak menyimpang dari ajaran agama, hanya berlandaskan kebatinan yang memiliki falsafah hidup.

3. Presiden BJ Habibie dengan buku "Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pembangunan Bangsa"

Buku Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pembangunan Bangsa karya BJ Habibie. (bukubukubekas.wordpress.com)

Pada 1995, Center for Information and Development Studies (CIDES) mengeluarkan buku yang berjudul Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pembangunan Bangsa karya Presiden Indonesia ke-3, Bachruddin Jusuf (BJ) Habibie. Menariknya, buku tersebut beliau tulis ketika masih menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia (Menristek 1978-1998).

Di dalam buku tersebut, BJ Habibie tak hanya membahas mengenai teknologi dan pembangunan bangsa semata, melainkan juga mengurai berbagai macam strateginya. Adapun yang menjadi sorotan pertama beliau adalah mengenai pembangunan bangsa. Menurut Habibie, pembangunan harus dilakukan dengan orientasi nilai tambah dan menggunakan basis teknologi serta sumber daya manusia.

Kemudian beliau juga mengemukakan pandangan mengenai peningkatan kekayaan dan kemakmuran berakar pada peningkatan produktivitas, dan bahwa kunci bagi produktivitas adalah ilmu pengetahuan dan rekayasa.

4. Presiden KH Abdurrahman Wahid dengan buku "Sekadar Mendahului"

Buku Sekadar Mendahului karya Gus Dur (www.aksiku.com)

Selain meninggalkan ajaran toleransi yang begitu kuat, Presiden Indonesia ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur juga menorehkan beberapa karya tulis yang masih dapat kita nikmati hingga saat ini. Salah satu karya tulis Gus Dur yang terkenal adalah Sekadar Mendahului.

Buku tersebut tidak hanya menyelami tentang kiai dan Nahdlatul Ulama (NU) semata. Namun, juga mengulas tentang humor, politik, kekerasan agama, dan komunisme. Menurut Gus Dur, humor tak hanya dimaknai sebagai produk estetik dalam berkomunikasi. Humor juga dianggap sebagai strategi diplomasi dan politik Gus Dur ketika menjabat sebagai presiden.

Dari pemikiran serta gagasan-gagasan yang terangkum dalam 26 esai di buku tersebut, terlihat betapa Gus Dur mampu menjadi pintu pemikiran, sebagai mukadimah dari setiap buku.

5. Presiden Megawati Soekarnoputri dengan Buku "Pokok-pokok Pikiran Megawati Soekarnoputri"

Buku Pokok-pokok Pikiran Megawati Soekarnoputri (bukubukubekas.wordpress.com)

Tak mau kalah dengan para pemimpin-pemimpin bangsa sebelumnya, presiden ke-5 Indonesia sekaligus anak dari Sukarno, Megawati Soekarnoputri kemudian juga mengeluarkan karya tulis yang berjudul Pokok-pokok Pikiran Megawati Soekarnoputri.

Buku itu pertama kali diterbitkan pada 1993 di Pustaka Sinar Harapan. Adapun ketebalan buku tersebut hanya sekitar 47 halaman. Kemudian pada 20 Juli 2009, buku Pokok-pokok Pikiran Megawati Soekarnoputri didigitalkan.

Sementara, di dalam buku tersebut lebih menceritakan kegetiran Megawati melihat kondisi bangsa serta mencurahkan beberapa gagasan-gagasannya demi kemajuan bangsa.

6. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan buku "Selalu Ada Pilihan"

Buku Selalu Ada Pilihan karya Susilo Bambang Yudhoyono. (luckylombu.com)

Tak hanya sukses di bidang tarik suara, nama Presiden Indonesia ke-6 ini kian melejit ketika pada 2014 berhasil mengeluarkan buku berjudul Selalu Ada Pilihan. Di dalam buku tersebut, pandangan dan pemikiran-pemikiran Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk Indonesia yang lebih baik di masa depan juga disampaikan secara terbuka dan jujur, sebagai refleksi dari penugasan dan pengabdiannya selama dua kali periode memimpin bangsa.

Lewat buku yang diberi judul itu, SBY ingin menyampaikan jalan pemikirannya. Menurut SBY, pakem dalam hidup ini adalah sebuah pilihan. Pada cover depan, terdapat sebuah catatan kecil yang menarik, yakni sebuah pesan bahwa buku tersebut diperuntukkan bagi para pencinta demokrasi, sebuah pesan yang sangat penting agar menjaga kondisi demokrasi yang sudah terbangun. (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH