Inspirasi
Mengupas Stigma Pekerjaan di Indonesia Penggiat seni. (Foto Unsplash/Ari He)

TIAP ngumpul bareng keluarga, Jordi (nama disamarkan) selalu merasa obrolannya kurang nyambung dengan saudara-saudaranya. Alhasil, ia menjadi si penyendiri yang berkumpul dengan geng-geng tua atau anak balita.

Maklum, profesi yang umum di keluarga Jordi semuanya serius dan membuat 'otak sakit'. Mulai dari dokter, accounting, pengusaha, you name it. Sedangkan Jordi merupakan si pelaku seni yang tidak paham soal begitu-begituan. Obrolan enggak masuk, bicara bisnis juga 'buta'.

Baca juga:

Tipe-Tipe Tongkrongan Anak Muda Jakarta yang Harus Kamu Tahu

Kebetulan, hanya Jordi seorang yang menempuh beasiswa dan berkesempatan untuk menempuh S1 jurusan musik di luar negeri. Ya, Jordi-lah satu-satunya orang di keluarganya yang menjadikan hobinya sebagai mata pencaharian.

Industri kreatif memang berpihak pada Jordi. Talentanya dalam bermusik sudah diakui, apalagi melihat pengetahuan dan pengalaman kerjanya baik di dalam maupun luar negeri. Pendapatannya pun tidak kalah banyak dengan saudara-saudaranya.

Uang tidak selalu menjadi hal utama bagi tiap orang. (Foto Unsplash/Isaac lbbott)
Uang tidak selalu menjadi yang terpenting bagi sebagian orang. (Foto Unsplash/Isaac lbbott)

Meski begitu, COVID-19 menyerang, sehingga para pelaku industri kreatif seperti Jordi harus pasang badan di garda terdepan. Gig batal dan proyek harus postpone, bagaimana dong nasib Jordi?

Insecure, takut enggak ada pemasukkan mulai menghantui Jordi. Bahkan ia mulai membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Untungnya, Jordi mencari jalan keluarnya dengan berinisiatif untuk menjadi pengusaha.

"Gue pengen nyoba bisnis seafood, nih, "menjadi kalimat opening Jordi ketika kumpul-kumpul keluarga. Ketika biasanya Jordi hanya bermain dengan sepupunya yang berusia dua tahun, kini ia digerubungi oleh ketujuh saudaranya yang juga pengusaha. "Mantep tuh, gimana gimana?", ungkap salah satu saudara Jordi bersemangat.

"Wah, giliran gue mau jadi pengusaha aja, langsung dateng lo semua," pikirnya dalam hati. Lantas, apakah pengusaha merupakan profesi yang lebih "oke" ketimbang musisi atau jurnalis?

Pengusaha dianggap lebih oke. (Foto Unsplash/Christin Hume)
Pengusaha dianggap lebih oke. (Foto Unsplash/Christin Hume)

Yes, stigma pekerjaan di Indonesia memang sulit diubah. Saya sendiri pun merasakannya. Ketika duduk di cafe bersama teman-teman (sebelum pandemi), girls talk biasanya tidak jauh-jauh membahas tentang match Tinder yang kece-kece. "Liat nih, ganteng, tinggi, pengusaha lagi. Emak gue pasti suka," ungkap salah satu teman jomlo yang mencoba peruntungan cintanya di aplikasi kencan online itu.

Omongan-omongan begini tentunya membuat minder sebagian orang, apalagi jika meja sebelah ternyata adalah anak band yang sedang kesulitan mendapatkan restu dari calon mertua.

Rata-rata pengusaha, pemain saham, PNS, atau orang yang bekerja di bidang pertambangan terdengar wow dan dianggap tajir. Sedangkan pekerjaan-pekerjaan lain seperti jurnalis, anak band, atau musisi pengiring pernikahan dianggap 'apaan sih', apalagi di mata sebagian besar orang tua di budaya Timur.

Untuk memecahkan stigma pekerjaan tersebut, saya akhirnya berkesempatan untuk mewawancarai kerabat yang menggeluti profesi sebagai sound engineering dan pengusaha kedai kopi.

"Dalam sebulan, pemasukkan gue sih dua digit lah ya, dari 3-4 proyek yang gue ambil. Tapi itu gue agak males-malesan sih kerjanya. Gue cuma nerima project yang sesuai sama passion gue aja," ungkap sang sound engineering yang merangkap sebagai musisi.

Pemuda berusia 24 tahun itu pun telah bekerjasama dengan segelintir perusahaan besar di Indonesia termasuk perusahaan transportasi online, produk makanan, minuman bersoda, dan aplikasi kencan online ternama.

Terlepas dari uang yang dihasilkan, ada kepuasan sendiri yang tidak bisa dinilai dengan uang. Ia mengatakan menyukai pekerjaan yang ia lakukan, dan rasanya sangat puas jika melihat orang lain menyukai dan mengapresiasi karyanya.

Terdapat beberapa kebanggaan tak ternilai yang dirasakan pelaku seni setiap menciptakan suatu karya. (Foto Unsplash/Eddy Klaus)
Terdapat beberapa kebanggaan tak ternilai yang dirasakan pelaku seni setiap menciptakan suatu karya. (Foto Unsplash/Eddy Klaus)

"Kerja santai bisa pake kaos celana pendek, kelihatan tato juga gak apa-apa. Jamnya juga terserah. Disini yang penting kekreatifan lo. Ada kepuasan batin yang enggak bisa lo beli pake uang ketika lo 'menciptakan sesuatu', dan orang-orang menunjukkan antusiasme ketika mendengarkan karya lo," tambahnya.

Dianggap memiliki pekerjaan enggak jelas pun pernah dialaminya. Namun ia menghadapi dengan santai dan menganggap bahwa ia tidak hidup untuk membuat orang-orang menyukainya. "Ini apa adanya gue, take it or leave it," tambahnya.

Kini Penulis mencoba untuk ngobrol dengan seorang pengusaha muda yang seumuran. Baru menjalani usaha kedai kopi kurang lebih setahun, gerainya sudah menjamur di seluruh Indonesia.

"i can see how that's happening in Indonesia. Financial stability are measured by how likely they are being successful on their perspective field. For example, chances of PNS/ business and usaha tambang to live a good quality life is more than others. So mertua are more lenient or acceptable towards entrepreneurs because they want their children to be well taken care of," urainya.

Apa benar pengusaha lebih mudah mendapatkan restu dibandingkan musisi? (Foto Unsplash/Alasdair Elmes)
Apa benar pengusaha lebih mudah mendapatkan restu dibandingkan musisi? (Foto Unsplash/Alasdair Elmes)

Ia pun mengatakan sebagian besar orang merasa keberatan dengan stigma tersebut. Fenomena ini dianggap sebagai tambahan beban yang harus mereka pikul.

Tidak hanya beban finansial, harapan yang besar dan ekspektasi yang tinggi dari orang-orang di sekitarnya membuat sebagian orang yang berprofesi "wah" ini jadi tambah stres. Takut gagal, takut mengecewakan orang lain yang mengandalkannya, dan segala ketakutan lainnya membuat mereka merasa bahwa mereka harus menjadi superman yang serbabisa.

Baca juga:

Bisa Haid Sampai Pingsan, Tetapkah Perempuan Ini Ambil Cuti walau Berpotensi Unpaid?

Gary Trosclair, psikoterapis dan penulis buku I'm Working On It In Therapy: How To Get The Most Out Of Psychotherapy, mengatakan salah satu tema yang paling sering ia temukan dari para pasien penderita depresi yang ia tangani ialah kesenjangan antara diri mereka yang sebenarnya dan ekspektasi mengenai sosok yang mereka inginkan. Mudahnya, semakin besar kesenjangan antara ekspektasi dan kenyataan, serangan terhadap mentalnya akan semakin menyakitkan dan bisa mematikan secara emosional.

Tidak hanya di Indonesia, bibit bebet dan bobot memang masih dipertimbangkan sebagian besar di Asia. Jika mencoba memahami kedua belah pihak, sebenarnya tidak ada yang bisa disalahkan.

Beberapa pekerjaan dianggap remeh, padahal belum tentu penghasilannya kecil.  (Foto Unsplash/Kevin Bhagat)
Beberapa pekerjaan dianggap remeh, padahal belum tentu penghasilannya kecil. (Foto Unsplash/Kevin Bhagat)

Di sisi orangtua, bisa dimengerti jika mereka ingin anaknya hidup bahagia dan berkecukupan. Mereka telah membesarkan anak mereka dengan sangat sulit dan telah "menginvestasikan" banyak uang demi meraih yang terbaik untuk anak-anak mereka. Para orang tua ingin agar anak-anak mereka mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik daripada kehidupan mereka sendiri.

Di sisi anak muda, sulit untuk memenuhi harapan ini, terutama jika mereka tidak berasal dari keluarga yang kaya, atau menengah ke atas. Apapun profesinya, perekonomian dunia memang terhambat saat ini sehingga mencari uang semakin susah.

Tiap pekerjaan pasti memiliki insecurities. Jurnalis atau musisi yang tadinya puas dengan penghasilannya, jadi harus insecure karena stigma pekerjaan. Pengusaha yang dianggap tajir, jadi menanggung ekspektasi tinggi dari orang lain padahal masih merintis bisnis.

Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah pandangan orang lain, tetapi kita masih bisa mengubah pola pikir sendiri dengan cara tidak terperangkap pada stigma pekerjaan. Pada dasarnya, tujuan segala pekerjaan tidak semata-mata mencari uang.

Taraf kebahagiaan masing-masing orang pun tidak terbatas pada materi. Mereka yang pekerjaannya diremehkan belum tentu pemasukannya lebih sedikit daripada pengusaha. Begitu juga pengusaha yang dinilai tajir belum tentu benar adanya. Tiap profesi memiliki value-nya masing-masing, jika kita tidak bisa mengerti, paling tidak kita bisa menghargai satu sama lain. (shn)

Baca juga:

'Turtleneck' Dianggap Melambangkan Jenius dan Kreatif

Penulis : shenna shenna
LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Minggu Depan Bisa Langsung Mulai, 3 Ide Bisnis untuk Pemula
Fun
Levi’s x Pokemon, Bikin Kamu Tampil Imut dan Tetap Hype
Fashion
Berantas Hoaks, Facebook 'Razia' Akun Populer yang Mencurigakan
Fun
Berantas Hoaks, Facebook 'Razia' Akun Populer yang Mencurigakan

Facebook telah melakukan 'razia' lewat verifikasi di page manager.

Pengguna Android Waspada Kiriman Foto Sunset, Mengapa?
Hiburan & Gaya Hidup
Pengguna Android Waspada Kiriman Foto Sunset, Mengapa?

Pengguna Android, Waspada Kiriman Foto Sunset

Ahli Kesehatan: COVID-19 Diprediksi Jadi Penyakit Musiman
Hiburan & Gaya Hidup
Ahli Kesehatan: COVID-19 Diprediksi Jadi Penyakit Musiman

Vaksin masih menjadi keberhasilan dalam mencegah penularan COVID-19.

Mobil Terbang Canggih Terkecil di Dunia ala Jepang
Fun
Mobil Terbang Canggih Terkecil di Dunia ala Jepang

Dirancang untuk menjadi kendaraan listrik terkecil di dunia yang mampu take off dan landing secara vertikal.

Ditarik dari Bioskop, Film Horor Psikologis 'Saint Maud' Akhirnya Rilis via Streaming
ShowBiz
Ditarik dari Bioskop, Film Horor Psikologis 'Saint Maud' Akhirnya Rilis via Streaming

Setiap adegan yang ditampilkan mampu membuat para penontonnya merasa diteror secara psikologis..

Unik, Robot Mini ini Membutuhkan Alkohol untuk Bisa Bekerja
Fun
Unik, Robot Mini ini Membutuhkan Alkohol untuk Bisa Bekerja

Robot otonom paling ringan dan terkecil sepanjang sejarah.

'Wrapping Sticker' pada Mobil Tidak Boleh Diwax!
Fun
'Wrapping Sticker' pada Mobil Tidak Boleh Diwax!

Wrapping sticker membuat mobil jadi lebih gaya.