Mengungkap Sejarah Sepak Bola Uruguay dan Politik Kolonial Spanyol Skuat timnas Uruguay Piala Dunia 1930. (Sumber: whoateallthepies.tv)

SEBELUM kekuatan kolonial Spanyol melakukan ekspansi besar-besaran ke Amerika Latin, bangsa Uruguay pada mulanya dihuni penduduk asli, suku Indian Charrua.

Pada tahun 1500-an, seperti dikutip dari sites.duke.edu, kolonial Spanyol mulai menyerang Uruguay. Suku Charrua tak terima, penindasan kolonial pun akhirnya memperoleh balasan.

Penduduk asli Uruguay, Suku Charrua. (Sumber: ancient-origins.net)

Selama satu abad lebih Spanyol mendapat perlawanan sengit. Mereka lantas meminta bantuan misionaris Katolik pada 1642. Spanyol memperoleh tambahan kekuatan dan juga kontrol. Tak lama berselang, mereka membangun kekuatan.

Pada 1700-an, Spanyol mendirikan Montevideo sebagai benteng militer. Hal tersebut guna memperkuat kontrol atas wilayah Uruguay.

Tak sedikit dari Suku Charrua dibantai. Sebagian orang selamat mulai dipaksa mengikuti pola hidup yang mirip dengan Spanyol, termasuk bahasa dan budaya.

Lukisan Suku Charrua berperang melawan kolonial Spanyol. (Sumber: ancient-origins.net)

Tak kurang dari dua abad, Uruguay hidup dalam kungkungan kolonial. Namun, dari sejarah politik penindasan kolonial dan rasial itu pula akhirnya muncul kekuatan sepak bola Uruguay.

Seperti di negara-negara terjajah lainnya, sepak bola dibawa oleh kekuatan kolonial, baik dalam bentuk misionaris dan penakluk, yang membawa olahraga sebagai pengingat rumah dan sebagai pengalih perhatian dari kesulitan yang dihadapi di luar negeri.

Imigran Eropa, yang terus pindah ke Uruguay setelah memperoleh kemerdekaannya, membantu memastikan bahwa sepak bola mempertahankan popularitas sepanjang sejarahnya. Bahkan, ketika sepak bola muncul pada awal abad ke-20 sebagai fenomena internasional, Uruguay berada di pusat kompetisi dan prestise.

Pada 16 Mei 1901, pertandingan internasional pertama dimainkan di Montevideo. Dalam pertandingan tersebut, Uruguay mengalahkan Argentina. Dua belas tahun kemudian, 1913, tim nasional Uruguay diambil alih oleh imigran Italia.

Perjalanan timnas Uruguay dalam Piala Dunia 1930. (Sumber: whoateallthepies.tv)

Pelatih baru tersebut menambahkan teknik Eropa baru ke permainan Uruguay, dan menambahkan perspektif baru yang sangat unik bagi tim awal Uruguay. Setelah bangku kepelatihan diisi orang asing, timnas Uruguay menambah lagi dua orang kulit hitam dalam skuat mereka, Isabelino Gradin dan Juan Delgado.

Ketika tim sepak bola Uruguay ikut serta dalam Olimpiade Paris 1924, mereka mengejutkan penggemar sepak bola Eropa dengan memenangkan emas dan menghancurkan tim lain. Tak hanya itu, kemenangan Uruguay berlanjut pada Olimpiade 1928 di Belanda. Negara-negara besar seperti Brasil, Argentina, Italia, Prancis, dan Belanda berhasil mereka kalahkan.

Skuat timnas Uruguay 1924. (Sumber: sites.duke.edu)

Momen itu merupakan masa keemasan timnas Uruguay dengan bintang lapangan Jose Leandro Andrade, putra mantan budak berkulit hitam. Andrade tidak hanya membawa Uruguay ke prestise sepak bola internasional, tetapi juga berjuang melawan banyak prasangka rasial dengan keahliannya di lapangan.

Setelah memenangkan dua gelar Olimpiade, Uruguay terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia pertama pada tahun 1930. Lagi, mereka keluar sebagai pemenang setelah membenamkan impian Argentina dengan skor telak, 4-2.

Pada Piala Dunia 2018 ini, Luiz Suarez dkk berhasil melaju ke babak perempat final dan bakal berhadapan dengan Mbappe dkk. Mungkinkah timnas Uruguay berhasil mengulang kejayaannya pada era 1930? (*)



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH