Mengulik Dunia Kreatif Mice Kartun Melalui Pameran Indonesia Tersenyum Kartunis Mice membuat kartun bersama Wimar Witoelar pada pembukaan pameran "Indonesia Tersenyum", Gedung D Galeri Nasional. (Foto: MP/Ikhsan)

RUANG utama Gedung D Galeri Nasional, Jakarta Pusat, tampak berbeda. Dinding di salah satu sudut ruang bersalin rupa menjadi gedhek (anyaman rotan) lengkap dengan lemari kecil, meja, dan kursi.

Di meja, seorang pria berkacamata bingkai hitam berhidung lencir tampak asyik menggambar di selembar kertas putih. Sapuan garis spidolnya perlahan menjelma satu figur pria paruh baya berambut jengking berperut buncit.

Sejurus kemudian, dibubuhkannya tulisan "Indonesia Tersenyum" tepat di atas figur lelaki di gambar. "Ya, Indonesia butuh tersenyum. Paling tidak untuk menurunkan tensi politik," kata Sang Kartunis, Muhammad "Mice" Misrad, kepada merahputih.com di sela Press Tour pameran tunggalnya bertajuk "Indonesia Tersenyum", di Gedung D Galeri Nasional, (20/7).

Mice
Tata pamer ruang kerja Mice. (Foto: MP/Ikhsan)

Salah satu ruangan di Gedung D memang sengaja disulap serupa ruang kerja Mice di rumah. Ia ingin menampilkan suasana kesehariannya saat berproses menghasilkan kartun.

"Semuanya orisinal. Ruang kerja saya di teras rumah dipindah ke pameran ini," kata Mice.

Pameran tunggal kali pertama baginya ini mencoba menangkap perjalanan karir Mice selama 20 tahun berkarya di dunia kartun.

Di masing-masing ruang pamer, menurut Evelyn Huang, Kurator Pameran, cukup kuat menggambarkan semacam evolusi karya-karya Mice dari berbagai periode. "Mice, menariknya, mendokumentasikan semangat zaman melalui kartun-kartunnya," kata Evelyn.

Ketika menelusuri satu per satu karya Mice, pengunjung pameran serasa diajak menengok momentum besar di tiap zaman dengan pesan-pesan menggelitik, mulai suasana karikatural orang masih menggunakan SMS (Short Massage Service) di ponsel GSM, lalu chatting memakai BlackBerry Messenger, hingga WhatsApp melalui ponsel pintar.

Mice
Salah satu pengunjung menempelkan pesan di karya kartun Mice. (Foto: MP/Ikhsan)

Salah satu kartun menggambarkan hal tersebut terlihat pada karyanya bertajuk "Terperangkap dalam Group WA". Ia masih menggunakan figur serupa selaik gambarnya di awal, seorang pria paruh baya berambut jengking berperut buncit, tampak garuk-garuk kepala kebingungan menatap ponsel pintarnya.

Di sekeliling figur tersebut tampak tulisan beragam tulisan menggelitik, seperti "Mau keluar enggak enak, nanti dikira sombong".

Kekuatan karya-karya Mice, menurut Yulian Ardhi, Co Kurator, lantaran banyak menangkap aspek keseharian, entah susana pasar, kampung, di dalam Commuter Line, dan di mana pun tempat sehari-hari Mice lalui. "Enggak heran kalau penikmat karya Mice senyum-senyum sendiri ketika melihat kartunnya. Bisa senyum simpul, miris, dan lainnya," kata Ardhi.

Proses kurasi, menurut Ardhi, memakan tempo sekira enam bulan. Ia mengaku terbantu dengan penerbitan buku-buku kartun Mice lantaran di situ tiap karya terdokumentasi dengan apik. "Setelah dari buku baru kami telusuri karya otentiknya," katanya.

Mice
Kartunis Mice bersama putrinya berpose di tata pamer ruang kerjanya di Galeri Nasional. (Foto: MP/Ikhsan)

Pameran ini juga menghadirkan beragam media berkarya Mice. Tak melulu kertas. Karya kartun Mice telah merambah ranah digital, komik digital, dan game.

Penggarapan game tersebut masih dalam tahap pengembangan. "Prosesnya masih 30% lah," ujar Mice.

Terdapati ruangan khusus pagi pengunjung untuk menikmati karya Mice di platform digital. Di situ terpampang gambar tokoh-tokoh kartun buatan Mice dalam ukuran besar tanpa warna. Pengunjung pun bisa mewarnai gambar itu menggunakan alat pewarna yang sudah disediakan.

Di ruang pamer berbeda, beragam gambar karikatural besar siap membuat setiap pengunjung tersenyum bahkan terkekeh.

Di antaranya kartun tokoh fans berat bang Rhoma Irama, Enci-Enci (tua tapi gaya), India Pasar baru, dan Reseller Tanah Abang.

Di tengah gambar karikatural tersebut, terdapat beberapa medium baru pada proses kreatifnya. Mice membuat karya di kanvas. Melukis.

Lukisan tersebut memiliki warna cerah dan sangat ekspresif. "Saya memang kalau menggambar suka pakai warna cerah," kata Mice. (*) (ikhsan digdo)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH