Bukan Dari Tiongkok, Simak Kisah Menerbangkan Sejarah Layang-Layang! Layang-layang (MP/Muchammad Yani)

Rhino Kites Festival di Beach Club, Tanjung Lesung, Banten pada tanggal 12-13 Mei lalu cukup meriah. Bukan hanya pelayang Indonesia saja, tampak pula badan-badan jangkung dan berambut pirang berkebangsaan Belgia, Belanda, Jerman, Singapura, dan Malaysia turut meramaikan acara.

Ratusan layang-layang disiapkan. Beberapa tak bisa terbang lantaran kendala angin. Sementara di langit, aneka layang-layang berbentuk power ranger, badak jawa, dan paus memantik perhatian, meliuk-liuk digoda angin pantai. Penonton dan peserta sama-sama menikmati.

Meski acap menjadi lomba dan permainan anak-anak, layang-layang juga memiliki fungsi lain, mulai berburu hingga kelengkapan ritus kepercayaan salah satu masyarakat adat.

Di Bali, layang layang, seturut James Danandjaya pada Folklore Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-Lain, mengelompokan kegiatan menerbangkan layang-layang dengan berlari menggunakan benang sepanjang empat meter merupakan jenis permainan sekuler atau duniawi sekaligus sakral bagi masyarakat Trunyan. Tergolong sakral karena dilakukan untuk menghibur para dewa pada suatu acara keagamaan atau merupakan bagian salah satu upacara.

Di sisi lain, layang-layang bahkan digunakan sebagai saran berburu bagi beberapa masyarakat. Bagi masyarakat Sulawesi, layang-layang menjadi alat bantu berburu untuk menarik mangsa. Sementara di Pangandaran dipasang jerat untuk menangkap kelelawar.

Jejak peradaban layang-layang di Nusantara telah mengakar dan mentradisi. Keberadaannya juga tetap terjaga sebagai sarana permainan anak dan bagian dari berbagai aktifitas lain, seperti berburu hingga ritual. Meski memiliki akar kuat di Nusantara, beberapa ahli menganggap layang-layang merupakan bagian tak terpisahkan arus ekspansi budaya Tiongkok.

Layang-layang di dalam beberapa analisa ahli berasal dari Daratan Tiongkok sekitar 2500 tahun lalu. Dibuat dari kain sutra dan bambu emas. Dari sana kemudian layang-layang menyebar ke barat hingga populer di Eropa.

Layang-layang terkecil di dunia milik negara Tiongkok (MP/Rizki Fitrianto)
Layang-layang terkecil di dunia milik negara Tiongkok (MP/Rizki Fitrianto)

Benarkah klaim beberapa ahli mengenai sejarah layang-layang asal Tiongkok? Di sebuah gua Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, terdapat sebuah lukisan purbakala menyerupai seseorang menerbangkan layang-layang. Usianya jauh lebih tua dari layang-layang milik Tiongkok.

Bukti Lain

Peneliti asal Jerman, Wolfgang Bieck mengatakan kalau lukisan layang-layang itu berusia 9000 - 9500 sebelum masehi atau pada zaman Mesolitikum. Hal itu diungkapkannya pada sebuah artikel di majalah Jerman tahun 2003 berjudul The First Kitesman.

Bart W Van Assen, pelayang asal Belanda juga mempercayai jika layang-layang bukan dari Tiongkok melainkan Indonesia. "Orang Polinesia sudah lebih dulu mengenal layang-layang," ujarnya kepada merahputih.com saat acara Rhino Kites Festival di Tanjung Lesung, Banten, beberapa waktu lalu.

Bukan hanya lukisan prasejarah saja, bukti lain adalah layang-layang tertua yang usianya mencapai 4 ribu tahun bernama Kaghati Kolope. Layang-layang ini berada di Desa Mabolu, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Kaghati Kolope terbuat dari daun kolope yang disusun rapi menggunakan tali. Kolope sendiri merupakan tanaman sejenis umbi-umbian hutan. Sedangkan kerangkanya dibuat dari bambu yang diraut.

Layng-layang asli Indonesia (MP/Rizki Fitrianto)
Layng-layang asli Indonesia (MP/Rizki Fitrianto)

Dulunya, layang-layang tersebut digunakan oleh warga untuk mengusir hama di sawah. Layang-layang ditambahkan sebuah alat yang mengeluarkan suara ketika tertiup angin.

Di lain sisi, layang-layang juga dipercaya oleh masyarakat Pulau Muna sebagai payung agar terhindar sengatan matahari bila meninggal. Pemilik yang meninggal akan memegang tali layang-layang dan bernaung di bawahnya.

Layang-layang tertua lainnya

Layang-layang purba lainnya ternyata bukan hanya ada di Pulau Muna saja. Pemilik Museum Layang-Layang Indonesia, Endang Ernawati menjelaskan Pulau Jawa juga mempunyai layang-layang tua yakni berusia 1000 tahun.

"Kita (Museum Layang-Layang Indonesia) ada kok contoh layang-layang tertua lainnya. Ada di daerah Banyuwangi pakai daun dadap. itu lebih dari 1000 tahun juga," tutur Endang kepada merahputih.com saat berbincang santai di kediamannya di Jalan H Kamang, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Selasa (15/5).

Lebih lanjut, wanita yang kini berusia 67 tahun itu meyakini kalau hampir disetiap daerah di Indonesia memiliki layang-layang tradisional. "Kecuali NTT, Irian karena mereka budayanya bukan berladan dan bertani," ujarnya. (*)

Selain artikel ini kamu juga bisa baca Di Pulau ini, Puasa Berlangsung Hampir 24 Jam


Tags Artikel Ini

Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH