Mengulas Keindahan Dataran Tinggi Dieng Dieng menjadi salah satu destinasi favorit di Jawa Tengah (MP/Rizki Fitrianto)

PERJALANAN dari Jakarta menuju Dataran Tinggi Dieng tak bisa dibilang sebentar. Tim merahputih.com bersama wartawan lainnya harus menempuhnya selama 11 jam. Jalan berkelok dan cukup terjal adalah tantangan lain untuk menikmati keindahan daerah dengan julukan Negeri di Atas Awan itu.

Meski menjadi salah satu destinasi ternama di Jawa Tengah, akses menuju Dataran Tinggi Dieng cukup sulit dilalui terutama bagi bus-bus besar. Selain itu sedikitnya pembatas jalan dan penerangan untuk malam hari membuat semua pengemudi harus berkonsentrasi agar tetap selamat.

Baca Juga: Lampion Menghiasi Langit Dieng

Pemandangan Dataran Tinggi Dieng (MP/Rizki Fitrianto)
Pemandangan Dataran Tinggi Dieng (MP/Rizki Fitrianto)

Sejauh ini, Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono atau lebih dikenal dengan panggilan Wing Tjien mengaku masih mengandalkan APBD dalam melakukan perbaikan infrastruktur.

"Kita fokus dari APBD mba, dari APBD kabupaten murni. Kita betul-betul fokus dan tidak menggantungkan dari sisi lain. Mudah-mudahan dari pusat melihat, memberikan kasih sayang terhadap Dieng," ucapnya kepada Merahputih.com di Dieng Culture Festival (DCF) 2019.

Hawa dingin yang menusuk tulang

Di Dataran Tinggi Dieng suhu bisa berada di bawah nol derajat celcius (MP/Rizki Fitrianto)
Di Dataran Tinggi Dieng suhu bisa berada di bawah nol derajat celcius (MP/Rizki Fitrianto)

Berada di ketinggian lebih dari 2000 mdpl, hal yang pertama kali menyambut tim merahputih.com adalah hawa dingin. Saat itu, sekitar pukul 07.00 WIB, Dataran Tinggi Dieng berada di suhu 7 derajat celcius. Kami pun harus mengenakan jaket tebal lengkap dengan kaus kaki dan sarung tangan untuk menghalau rasa dingin.

Bulan Juli hingga September adalah waktu yang paling dingin di Dieng. Hal itu karena tiga bulan tersebut merupakan puncak musim kemarau. Saking dinginnya, suhu di malam hari terkadang bisa di bawah 0 derajat celcius. "Belum lama ini sampai -10 derajat (celcius). Pas pagi rumput kalau diinjak bisa pecah kayak kaca," ucap seorang warga.

Baca Juga: Isyana Goyang Dieng Culture Festival 2019

Suhu yang dingin menjadi tantangan wisatawan (MP/Muchammad Yani)
Suhu yang dingin menjadi tantangan wisatawan (MP/Rizki Fitrianto)

Suhu dingin Dataran Tinggi Dieng menjadikan tempat ini punya ciri khas yang tak dimiliki tempat lain. Ketika suhu sangat dingin, biasanya di pagi hari akan muncul embun upas, yakni embun beku yang menempel pada daun-daun di Dataran Tinggi Dieng.

Sayangnya, meski menjadi daya tarik, masyarakat di sana tak menyukai fenomena ini. Hal itu karena embun upas akan berefek pada matinya tanaman kentang. Embun upas sendiri diartikan penduduk Dieng sebagai embun beracun.

Sunset dan sunrise, incaran wisatawan

Bukit Sidengkeng, salah satu incaran para wisatawan (MP/Muchammad Yani)
Bukit Sidengkeng, salah satu incaran para wisatawan (MP/Muchammad Yani)

Menyaksikan matahari terbit dan terbenam bukan hanya bisa di lakukan di pantai saja. Daerah dataran tinggi juga menjadi salah satu tempat yang cocok. Di Dataran Tinggi Dieng ada banyak spot menarik untuk melihat indahnya sang surya bangkit dan tenggelam.

Tim Merahputih mencoba untuk mengunjungi salah satu spot-nya. Bernama Bukit Sidengkeng, salah satu spot baru di kawasan Dieng ini ramai dikunjungi. Berdasarkan penuturan penjaga pintu masuk, jika hari libur, jumlah pengunjung Bukit Sidengkeng mencapai 1000 hingga 1500 per hari.

Banyak yang mengabadikan keindahan alam dengan berfoto (MP/Muchammad Yani)
Banyak yang mengabadikan keindahan alam dengan berfoto (MP/Muchammad Yani)

Agar bisa mencapai puncak bukit, tim merahputih.com harus mendaki sekitar 200 meter. Jalannya yang masih berupa tanah dan sedikit terjal menjadi tantangannya. Bagi kamu yang ingin mengunjungi bukit ini di musim hujan harus berhati-hati karena track akan semakin licin dan berbahaya.

Selain menjadi spot untuk menyaksikan keindahan sunset dan sunrise, pengunjung juga diperbolehkan mendirikan tenda. Setiap tenda dikenakan biaya sebesar Rp30 ribu per malam. Sekadar tips, jika ingin mencari suasana sepi, cobalah berkunjung di hari-hari kerja.

Spot lain yang bisa dikunjungi adalah Bukit Sikunir, Kawah Sikidang, Gunung Prau, telaga merdada dan beberapa candi. Sayangnya, karena keterbatasan waktu, tim Merahputih belum bisa mengunjungi seluruh tempat. (*)

Baca Juga: Jazz Di Atas Awan Hangatkan Suasana Dieng Culture Festival 2019

Kredit : yani


Muchammad Yani

LAINNYA DARI MERAH PUTIH