Mengulas Cerita  Novel Pertama di Indonesia Bintang Toedjoeh Ilustrasi Novel (Foto: pixabay/stocksnap)

PADA dunia sastra tanah air, novel Sitti Nurbaya" buah karya dari Marah Rusli, bisa dikatakan sebagai novel modern yang pertama kali diterbitkan di Indonesia pada tahun 1922.

Namun jauh sebelum novel tersebut lahir, ternyata ada sebuah novel berbahasa Indonesia telah terbit sekitar 30 tahun sebelum Sitti Nurbaya.

Pengarangnya berdarah Tionghoa bernama Lie Kim Hok yang mengarang novel berjudul Thjit Liap Seng (Bintang Toedjoeh). Buku itu diterbitkan di Bogor tahun 1886. Dalam sampul bukunya dituliskan buku itu berkisah tentang suatu masa di kerajaan Taj Tjheng Tiauw dengan rajanya Hammong.

(foto: wikimedia)

Novel ini merupakan sebuah roman, menceritakan tentang kisah sedih kemiskinan karakter utamanya. Novel setebal 500 halaman berlatar negeri Tiongkok itu diterbitkan di tanah Hindia Belanda, yang sekarang dikenal dengan nama Indonesia.

Seperti yang dilansir dari National Geographic, diceritakan pada waktu itu, ada seorang anak kecil yang hidupnya sangat terlantar. Orang-orang berusaha untuk menyelamatkannya, alih-alih dibawa ke panti asuhan, anak itu kemudian dibawa ke rumah yang dihuni oleh tujuh pelajar.

Akhirnya anak kecil tersebut diangkat dan diasuh oleh ketujuh pelajar tersebut dan disebut dengan nama Thjit Liap Seng Nio atau Nona Bintang Toedjoeh. Namun, kendati telah diangkat sebagai anak, kehidupan Nona Bintang Toedjoeh masih penuh dengan derita dan nestapa. Sampai akhirnya anak itu diselamatkan oleh seorang pedagang yang renta

Menelisik kebelakang, sosok Lie Kim Hok merupakan salah seorang penulis dan jurnalis berdarah Tionghoa. Ia turut berkontribusi dalam kesusastraan tanah air. Pria ini berasal dari keluarga pecinan Bogor yang lahir pada 1 November 1853 di Buitenzorg yang sekarang dinamakan Bogor.

(foto: wikipedia)

Lie pernah menimba ilmu dari para misionaris Eropa. Selain itu Lie Kim Hok juga dikenal dapat bicara dengan bebebagai bahasa, seperti Sunda, Melayu dan Belanda.

Tahun 1870an Lie bekerja sebagai editor selama kurang lebih dua periode pada perusahaan publikasi milik D. J. Van der Linden yang sekaligus menjadi gurunya. Selang beberapa tahun pada 1880 Lie meninggalkan pekerjaannya itu.

Pada tahun berikutnya, Lie menerbitkan beberapa bukunya, salah satunya yaitu Syair Syair Tjerita Siti Akbari dan Tata Bahasa Malajoe Batawi di tahun 1884. Setelah itu Lie Kim Hok mendirikan sebuah percetakan kedua di Bogor pada tahun 1885, tapi sayangnya hanya bertahan selama dua tahun.

Ilustrasi Novel (foto: pixabay/free-photos)

Lewat percetakannya ia menterjemahkan beberapa roman dari Tiongkok. Saat itu Lee melihat warga peranakan hanya tertarik pada kisah roman yang berlatar budaya leluhurnya di Tiongkok. Lie Kim Hok wafat di Batavia pada 6 Mei 1912.

Sedikit informasi, pada tahun 1880an, jagat kesusasteraan di tanah Indonesia diramaikan dengan sastra terjemahan Belanda dan Tiongkok. Selain itu adapula beberapa sastra Eropa dan juga Arab yang diterbitkan di koran berbahasa Melayu. Melihat transliterasi itu menunjukan jika novel modern Melayu pada masa itu lahir di dalam perbatasan tiga budaya, yaitu Belanda, Tionghoa, serta Melayu. (ryn)

Simak juga yuk artikel menarik yang lainnya Ini Dia 3 Buku Tertebal di Dunia, Pemegang Rekornya Penulis Indonesia

Kredit : raden_yusuf

Tags Artikel Ini

Raden Yusuf Nayamenggala

LAINNYA DARI MERAH PUTIH