Menguji Data Pernyataan Eggi Sudjana Soal Presiden Bikin Rakyat Miskin Pengacara senior Eggi Sudjana. (Foto: Screenshot Youtube)

MerahPutih.com - Wakil Koordinator Nasional Gerakan Indonesia Salat Subuh (GIS), Eggi Sudjana menyebut bahwa presiden membuat rakyat Indonesia miskin. Pasalnya, sampai sekarang sumber daya alam dikuasai asing.

Sindiran ini disampaikan Eggi Sudjana saat memberikan ceramah sesuai mengikuti Gerakan Indonesia Subuh berjemaah di Masjid Dzarratul Muthmainnah, Tangerang Selatan, Minggu (15/4).

Dalam ceramahnya itu, Eggi menyinggung UUD 1945 yang menyatakan kekayaan alam Indonesia untuk rakyat. Namun, menurutnya hal itu tidak terwujud karena rakyat tidak bisa menikmati sumber daya alam negeri seperti emas lantaran dibagikan kepada Amerika Serikat.

"Tapi kenapa kita mendapatkan (emas) 10 persen, kan perintah UU untuk rakyat Indonesia bukan rakyat Amerika. Dengan kondisi seperti ini siapa yang membuat miskin, Allah atau presiden? Kenapa kiai-kiai kalau miskin terima saja, takdir, masih kita begitu menyalahkan Allah membuat kita miskin, bukan begitu. Padahal kita dikasih minyak, emas, gas dan kelapa sawit, kaya raya Indonesia, dulu rempah-rempah kita diperebutkan," ujar Eggi Sudjana.

"Jadi siapa yang membuat kita miskin? presiden atau Allah?" kata Eggi kepada jemaah.

"Presiden," jawab jemaah yang hadir.

Oleh karena itu, ia meminta kepada masyarakat untuk tidak salah pilih pemimpin lagi. Kemudian, Eggi bicara soal gerakan #2019GantiPresiden.

"Nah kalau presiden buat kita miskin jangan pilih presiden yang nggak bener. Maka ada gerakan 2019 ganti presiden, kalau tidak membuat rakyat sejahtera," ucap Eggi.

Tanggapan pemerintah

Mendapatkan serangan dari Eggi Sudjana membuat pihak Istana angkat suara. Juru Bicara Kepresidenan, Johan Budi SP, dengan tegas membantah tuduhan Eggi.

"Tidak benar," kata Johan

Menurutnya, perekonomian Indonesia membaik di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi.

"Di era pemerintahan Presiden Jokowi bangsa dan masyarakat Indonesia dari berbagai indikator ekonomi maupun sosial mengarah pada arah yang lebih baik," tutur Johan.

Sementara itu, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan pernyataan Eggi soal 'presiden membuat rakyat miskin' kurang tepat. Apalagi, menurutnya, Eggi menyampaikan hal itu di masjid yang merupakan tempat ibadah.

"Saya pikir kurang tepatlah, kalau di masjid kan tempat syiar agama, menebarkan kesejukan, bukan menebarkan hal-hal yang berbau itu. Jadi bingung masyarakat," ujar Moeldoko kepada wartawan.

Moeldoko juga menyinggung sumber daya alam yang dikuasai asing. Menurut mantan calon ketua umum PSSI itu, pernyataan politisi Partai Amanat Nasional (PAN) tidak logis.

"SDA dikuasai asing kan sejak dulu, ngomongnya nggak logis, ada data-data kita bicara, dan ada gini ratio-nya sudah mulai menurun," ujar Moeldoko.

Data kemiskinan versi BPS

Pernyataan Eggi Sudjana yang menyebut presiden membuat rakyat Indonesia miskin tidak disertai dengan data yang akurat.

Sesuai data terbaru yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan di tanah air cenderung menurun pada 2017. Data BPS itu dirilis Januari 2018

Dikutip MerahPutih.com, Senin (16/4), data BPS mencatat angka kemiskinan di Indonesia sampai September 2017 mengalami penurunan 0,58 persen menjadi 10,12 persen dari bulan sebelumnya yakni 10,64.

Pada Maret 2017, masyarakat miskin pada Maret 2017 tercatat 27,77 juta jiwa dan pada September turun menjadi 26,58 juta jiwa. Presentase kemiskinan penduduk perkotaan pada Maret 2017 adalah 7,72%, kemudian pada September 2017 jadi 7,26%. Lalu persentase penduduk miskin di pedesaan pada Maret 2017 sebesar 13,93% dan menjadi 13,47% pada September 2017.

"Selama periode Maret 2017-September 2017, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun dari 10,67 juta orang pada Maret 2017 menjadi 10,27 juta orang pada September 2017, sementara di daerah perdesaan turun sebanyak 786,95 ribu orang (dari 17,10 juta orang pada Maret 2017 menjadi 16,31 juta orang pada September 2017)," tulis BPS.

BPS juga mencatat bahwa angka kemiskinan Indonesia sejak 1999-2017 cenderung mengalami penurunan. Meskipun pada 2006, September 2013, dan Maret 2015 jumlah rakyat miskin naik karena adanya kenaikan harga kebutuhan pokok.

Begini data jumlah dan presentase penduduk miskin versi BPS sejak 1999-2017:

Tahun 1999: 47,97 juta penduduk miskin (23,43%)
Tahun 2002: 38,39 juta penduduk miskin (18,20%)
Tahun 2003: 37,34 juta penduduk miskin (17,42%)
Tahun 2004: 36,15 juta penduduk miskin (16,66%)
Februari 2005: 35,10 juta penduduk miskin (15,97%)
Maret 2006: 39,30 juta penduduk miskin (17,75%)
Maret 2007: 37,17 juta penduduk miskin (16,58%)
Maret 2008: 34,96 juta penduduk miskin (15,42%)
Maret 2009: 32,53 juta penduduk miskin (14,15%)
Maret 2010: 31,02 juta penduduk miskin (13,33%)
Maret 2011: 30,12 juta penduduk miskin (12,49%)
September 2011: 30,01 juta penduduk miskin (12,36%)
Maret 2012: 29,25 juta penduduk miskin (11,96%)
September 2012: 28,71 juta penduduk miskin (11,66%)
Maret 2013: 28,17 juta penduduk miskin (11,36%)
September 2013: 28,60 juta penduduk miskin (11,46%)
Maret 2014: 28,28 juta penduduk miskin (11,25%)
September 2014: 27,73 juta penduduk miskin (10,96%)
Maret 2015: 28,59 juta penduduk miskin (11,22%)
September 2015: 28,51 juta penduduk miskin (28,51%)
Maret 2016: 28,01 juta penduduk miskin (10,86%)
September 2016: 27,76 juta penduduk miskin (10,70%)
Maret 2017: 27,77 juta penduduk miskin (10,64%)
September 2017: 26,58 juta penduduk miskin (10,12%)

Kemiskinan Indonesia dalam Angka (Foto: BPS)

Artikel ini diolah tim merahputih.com dari berbagai sumber.(*)



Andika Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH