Mengonsumsi Serangga Bisa Menjaga Bumi

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Senin, 03 April 2023
Mengonsumsi Serangga Bisa Menjaga Bumi

Serangga menjadi salah satu alternatif sumber protein yang ramah lingkungan. (Foto: Pexels/Laura Parenti)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MENGONSUMSI serangga memberikan manfaat tersendiri. Beberapa jenis serangga bahkan menjadi populer di seluruh dunia karena nilai nutrisi yang terkandung di dalamnya.

“Saya telah memakan serangga di banyak negara: rayap, kalajengking, larva kumbang, belalang, ulat sutera. Semuanya sangat umum,” kata ahli entomologi Jeff Tomberlin dikutip dari CNN. Ia menceritakan pernah memakan ulat bambu yang digoreng seperti kentang goreng dan rayap yang diasapi serta dihidangkan sebagai hidangan pembuka.

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), kelompok serangga yang paling sering dimakan secara global adalah semut, kumbang, lebah, ulat, jangkrik, capung, lalat, belalang, serangga daun, rayap, dan tawon. Akan tetapi, Wageningen University and Research di Belanda mengatakan lebih dari 2.100 serangga yang dapat dimakan di dunia ini.

Jangkrik dewasa yang bisa menjadi sumber zat besi, protein, dan vitamin B12. (Foto: pexels/Timon Cornelissen)

Dilansir webmd.com, banyak serangga memiliki kandungan nutrisi yang kaya. Salah satunya adalah jangkrik dewasa yang bisa menjadi sumber zat besi, protein, dan vitamin B12. Selain itu, rayap di Afrika dikenal sebagai makanan yang kaya akan protein, asam lemak, zat besi, dan kalsium.

Di sisi lain, dikutip dari World Economic Forum, mengosumsi serangga juga dapat mengurangi jejak karbon secara signifikan. Mengonsumsi serangga dapat menghasilkan protein berkualitas dalam jumlah yang setara dengan konsumsi hewan. Serangga juga membutuhkan perawatan dan pemeliharaan lebih sedikit daripada hewan ternak.

Hewan ternak, seperti sapi dan kambing membutuhkan lahan dan air yang cukup banyak, sehingga menjadi salah satu faktor kerusakan lingkungan. Menurut New York Times, daging dan produk susu memiliki dampak yang sangat besar karena menyumbang sekitar 14,5 persen dari gas rumah kaca setiap tahunnya. Sumbangan emisi tersebut sama dengan emisi dari semua mobil truk, pesawat terbang, dan kapal yang digabungkan di dunia saat ini.

Hewan ternak membutuhkan lahan dan air yang cukup banyak sehingga menjadi salah satu faktor kerusakan lingkungan. (Foto: Pexels/Matthias Zomer)

Menurut World Economic Forum, pada tahun 2050 bumi akan memiliki hampir 10 miliar orang, sehingga permintaan protein akan melebihi kemampuan produksinya. Tanpa protein, tubuh manusia tidak dapat menghasilkan beberapa asam amino esensial yang kita butuhkan untuk hidup. Untuk kelangsungan hidup jangka panjang, manusia perlu meningkatkan hasil makanan dan menurunkan emisi karbon pada saat yang bersamaan. (vca)

#Kesehatan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
Program Ambulans Udara Mulai Diujicobakan Pakai Helikopter
Pemerintah telah melakukan uji coba melalui latihan evakuasi medis menggunakan helikopter di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 28 September 2026
Program Ambulans Udara Mulai Diujicobakan Pakai Helikopter
Tekno
Risiko Jantung Mengintai di Balik Maraknya Fenomena 'Mendadak Atlet'
Tren olahraga ekstrem seperti lari dan Hyrox kian marak, namun fenomena mendadak atlet tanpa cek kesehatan justru memicu risiko fatal henti jantung!
Wisnu Cipto - Jumat, 25 September 2026
Risiko Jantung Mengintai di Balik Maraknya Fenomena 'Mendadak Atlet'
Kuliner
Belajar Trik Makan Mi Instan Sehat ala Gen Z Korea, Dobel Manfaat sebagai Pereda Pengar
Mi instan sebagian besar terdiri dari karbohidrat olahan, tapi rendah serat.
Dwi Astarini - Rabu, 23 September 2026
Belajar Trik Makan Mi Instan Sehat ala Gen Z Korea, Dobel Manfaat sebagai Pereda Pengar
Olahraga
Joanna Wietrzyk Alami Inkontinensia Feses di Tengah Lomba HYROX, Tetap Finis dan Jadi Juara
Atlet HYROX asal Australia Joanna Wietrzyk mengalami inkontinensia feses saat lomba di Beijing, tetapi tetap bertanding hingga keluar sebagai juara.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 17 September 2026
Joanna Wietrzyk Alami Inkontinensia Feses di Tengah Lomba HYROX, Tetap Finis dan Jadi Juara
Dunia
Rekor Baru Jepang! Warga Berusia 100 Tahun Tembus 100 Ribu, 87,6% Perempuan
umlah lansia berusia 100 tahun ke atas di Jepang tembus 107.677 orang per September 2026. Sebanyak 87,6% di antaranya adalah wanita. Simak data lengkapnya!
Wisnu Cipto - Selasa, 15 September 2026
Rekor Baru Jepang! Warga Berusia 100 Tahun Tembus 100 Ribu, 87,6% Perempuan
Indonesia
Menkes Butuh USD 27 Miliar Buat Meningkatan Usia Harapan Hidup Jadi 76 Tahun
Untuk memenuhi itu, katanya, pihaknya pun berupaya membangun kepercayaan dari para mitra global dan filantropis.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 15 September 2026
Menkes Butuh USD 27 Miliar Buat Meningkatan Usia Harapan Hidup Jadi 76 Tahun
Indonesia
Pemerintah Klaim Program CKG Telah Jangkau 130 Juta Jiwa
Program ini difokuskan untuk memperkuat deteksi dini penyakit sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.
Dwi Astarini - Sabtu, 12 September 2026
Pemerintah Klaim Program CKG Telah Jangkau 130 Juta Jiwa
Berita Foto
Hadapi Era Ageing Population, Alita-Fujitsu Hadirkan Teknologi AI Human Motion Analytics
Pengunjung memukul bola golf lewat teknologi AI Human Motion Analytics dalam ajang Indonesia Sports Summit (ISS) 2026 di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 11 September 2026
Hadapi Era Ageing Population, Alita-Fujitsu Hadirkan Teknologi AI Human Motion Analytics
Lifestyle
Hujan Abu Vulkanis Menempel di Rambut dan Pakaian, Ini Alasan Harus Segera Bersih-bersih
Abu vulkanis dapat menempel pada kulit, rambut, pakaian, dan sepatu. Simak alasan pentingnya mandi dan mengganti pakaian setelah terpapar abu.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 11 September 2026
Hujan Abu Vulkanis Menempel di Rambut dan Pakaian, Ini Alasan Harus Segera Bersih-bersih
Indonesia
Kemenkes Ancam Pidanakan Penimbun Masker di Tengah Erupsi Anak Krakatau
Pelaku usaha yang terbukti menimbun atau membatasi pasokan hingga menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga tidak wajar dapat dikenai sanksi sesuai tingkat pelanggaran.
Dwi Astarini - Selasa, 08 September 2026
Kemenkes Ancam Pidanakan Penimbun Masker di Tengah Erupsi Anak Krakatau
Bagikan