Mengintip Tahapan Tes Kemampuan Anggota Satuan-81 Kopassus Satuan 81 Kopassus (Sumber: Youtube/Bachtiar Adi)

KEMAMPUAN pesonel satuan penanggulangan teror, Satuan-81 (Sat-81) Kopassus, semula hanya menjadi desas-desus. Publik tak pernah tahu persis ketangguhan personel satuan nan semula bernama Satuan Penanggulangan Teror (Sat-Gultor) kala bertugas melaksanakan operasi senyap.

Lewat buku bertajuk Kopassus untuk Indonesia, Jurnalis Kompas Iwan Santosa, mengurai bagaimana para personel berjuang mengikuti tes agar bisa menjadi bagian Sat-81.

Terdapat 4 tes berbeda pada seleksi masuk anggota Sat-81. Proses rekrutmen, menurut Iwan, dimulai seusai seorang prajurit mengikuti pendidikan Para dan Komando di Batujajar, Bandung, dan mulai menerima penempatan di satuan tempur Grup 1 dan Grup 2.

Di sana, para prajurit akan beroleh orientasi dan pengalaman operasi dengan tingkat kesulitan sangat tinggi. Mula-mula, mereka harus mengikuti tes IQ dan baru bisa dinyatakan lulus ketika nilainya berada di atas rata-rata 110.

Selanjutnya, tes kesehatan untuk memeriksa apakah para prajurit memiliki kelainan fisik atau terkena penyakit derajat ringan. Syarat mejadi seorang personel Sat-81 harus dinyatakan sehat atau beroleh predikat Baik Sekali (BS) pada tes jasmani.

Tes berikutnya, pantukhir atau tes akhir, biasa prajurit akan diturunkan langsung menjalani serangkaian tugas berat penuh risiko. Penerimaan menjadi anggota Sat-81 sangat ketat. Sat-81 merupakan pasukan elit penanggulangan teror pada jumlah kecil.

Personel Sat-81 harus memiliki kemampuan di atas rata-rata prajurit pada umumnya, seperti tembak runduk (bakduk) dan freefall atau terjun bebas. Mereka juga memiliki regu dengan spesifikasi kemampuan khusus, Tim Pasukan Katak (Paska) dan K9 (gugus jihandak).

Sebagai gambaran, tes menjadi anggota Kopassus tentu sangat berat, seperti harus bisa berlari 12 menit dengan jarak tempuh minimal 2.800 meter, pull up 12 kali, push up 40 kali, sit up 40 kali minimal dalam satu menit, renang dasar 50 meter, dan tidak takut ketinggian lebih dari 15 meter.

Setelah itu, prajurit harus ikut seleksi psikologi dan jika lolos harus menjalani pendidikan komando selama tujuh bulan. Paling populer di antara prajurit, istilah "Kaki Tomat" atau kaki melepuh lantaran harus long march berjalan kaki menempuh jarak sekira 500 kilometer dari Bandung menuju Cilacap selama 10 hari dengan beban 30 kilogram di pundak. (*)


Tags Artikel Ini

Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH