Mengintip Konflik Batin Jurnalis Perang lewat 5 Film Ini Jurnalis perang kerap mengalami konflik batin. (foto: militaryreporters)

SUDAH menjadi tugas jurnalis untuk melaporkan kejadian di seluruh dunia. Dari human interest hingga melaporkan perang. Menjadi jurnalis perang penuh tantangan. Tak hanya memikirkan keselamatan diri, jurnalis perang juga kerap mengalami konflik batin kala menjalankan tugas.

Kisah mereka menarik produser untuk mengangkatnya dalam kisah film. Berikut Merahputih.com merangkum film yang mengisahkan perjalanan dan perjuangan jurnalis perang.

BACA JUGA: Alasan Mengapa Seorang Coulrophobia Menghindari Film 'IT: Chapter Two'


1. The Bang Bang Club

the bang bang club
Kisah jurnalis foto perang. (foto: IMDb)

Saat masa peralihan dari pemerintah berpaham apartheid ke pemerintah yang demokratis pada 1990 hingga 1994, banyak kekerasan terjadi. African National Congress dan loyalis Inkhata kerap terlibat dalam insiden kekerasan tersebut. Di tengah situasi memanas di negara itu, empat jurnalis foto bekerja bersama meliput.

Kevin Carter, Greg Marinovich, Ken Oosterbroek, dan Joao Silva ialah anggota dari klub ini. Sutradara Steven Silver mengangkat kisah para jurnalis foto ini ke dalam film The Bang Bang Club. Taylor Kitsch, Ryan Phillippe, dan Malin Akerman menjadi bintang dalam film yang pertama kali tayang di Festival Film International Toronto pada 2010.

Di tengah perseturuan dalam sebuah negara, keempat jurnalis foto itu harus bisa menyelamatkan diri, mengamankan nyawa. Di lain hal, terjadi konflik batin dalam diri mereka saat harus melaporkan situasi di lapangan secara jujur.

Saking beratnya beban mental itu, jurnalis foto Carter melakukan bunuh diri pada 1994.


2. A Taxi Driver

a taxi driver
Perjuangan jurnalis meliput di Korea Selatan. (foto: IMDb)


Film drama sejarah Korea Selatan ini mengisahkan seorang pengemudi taxi yang mengantarkan jurnalis ARD asal Jerman Barat untuk meliput konflik Guangju, Korea Selatan.

Laman Englishhani menyebut jurnalis Jurgen Hinzpeter datang ke Korea Selatan untuk meliput gerakan demokratisasi pada 18 Mei 1980. Aksi pemberontakan itu terjadi dipicu tragedi pembunuhan Presiden Park Chung-hee pada 26 Oktober 1979. Pada saat itu, Korea Selatan dipimpin secara otoriter. Lewat aksi itu, masyarakat menuntut pemilihan yang lebih demokratis.

Tak mudah bagi Hinzpeter untuk sampai ke lokasi kejadian. Pemerintah setempat membatasi ruang gerak dan peliputan jurnalis asing. Dibantu sang pengemudi taksi, jurnalis Jerman Barat itu kemudian diselundupkan ke wilyah demonstrasi. Sang pengemudi taksi menyamarkannya sebagai seorang pebisnis.

Namun, tugas peliputan tak berjalan mulus meski ia sudah memasuki lokasi. Banyak tantangan dan konflik yang ia alami.

BACA JUGA: Menyentuh! Ada Pesan Rahasia di Balik Film Disney

3. A Private War

a private war
Kisah Marie Colvin menantang bahaya. (foto: IMDb)


Diangkat dari artikel Marie Colvin’s Private War karya Marie Brenner. Artikel itu terbit di Vanity Fair pada 2012. A Private War mengisahkan perjalanan jurnalis perang Marie Colvin yang dengan apik diperankan Rosamund Pike.

Colvin ialah jurnalis The Sunday Times dari Amerika Serikat. Ia ditugaskan mendokumentasikan negara-negara yang dalam kemelut perang sipil. Dalam perjalanan tugasnya di 2001, Colvin yang tengah bersama kelompok Tamil Tigers diserang angkatan bersenjata Sri Lanka. Meski berniat menyerahkan diri, Colvin malah diserang RPG. Hal itu membuatnya kehilangan mata kiri.

Meski telah kehilangan mata, Colvin tetap gigih melaporkan perang dari negara-negara seperti Irak dan Suriah. Perempuan jurnalis pantang menyerah itu meninggal dalam tugas pada 2012.

Lewat film ini, kamu bisa melihat bagaimana profesi jurnalis perang memberi tantangan dan risiko. Selain itu, film ini juga memperlihatkan sisi manusiawi seorang jurnalis perang yang mengalami luka batin. Bahkan, mengorbankan sebelah matanya.

4. The Hunting Party

the hunting party
Perang menghancurkan hidup sang jurnalis. (foto: IMDb)

Diawali dengan disclaimer yang menyebut bahwa hanya bagian konyol dari film ini yang nyata, film aksi, petualangan, dan thriller ini mengangkat kisah satire aktivis politik. Richard Gere, Terrence Howard, Diane Kruger, Jesse Eisenberg, dan Ljubomir Kerekes yang pertama kali ditayangkan di Festival Film Internasional Venesia ke-64.

Kisah film ini berawal dari perjalanan jurnalis perang asal Amerika Serikat Simon Hunt. Ia ditugaskan meliput perang di Bosnia dan Herzegovina di awal 1994. Di saat bersamaan, ia malah menjalin asmara dengan gadis muslim setempat. Gadis itu pun hamil.

Namun nahas, gadis itu malah terbunuh dalam serangan pasukan Bosnia. Akibat insiden itu Hunt bersumpah akan membalas dendam kepada pemimpin politik Bosnia, Dragoslav Bogdanovic yang dikenal dengan julukan 'The Fox'.

Kehancuran perasaan Hunt dan kariernya yang runtuh akibat perang menjadi inti dari film ini.(dys)

BACA JUGA: Menggemaskan! Beberapa 'Brand' Kecantikan ini Berkolaborasi dengan Karakter Kartun



Dwi Astarini

LAINNYA DARI MERAH PUTIH