Mengintip Kesiapan Indonesia Cegah Serangan Siber Saat Asian Games Warga berjalan di samping display promosi Asian Games 2018 di Kawasan Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (20/4). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Merahputih.com - Panitia penyelenggara Asian Games 2018 (Inasgoc) menggandeng Badan Siber dan Sandi Negara untuk meningkatkan keamanan jaringan sistem informasi dari peretas atau serangan siber selama pelaksanaan Asian Games di Jakarta dan Palembang mulai 18 Agustus mendatang.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menggelar rapat tertutup dengan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi, Chief de Mission Asian Games sekaligus Wakapolri Komjen M Syafruddin, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dan Ketua Inasgoc Erick Thohir di Istana Wakil Presiden Jakarta, Kamis (3/5).

"Di era seperti ini mau tidak mau kita harus antisipasi serangan siber. Apalagi kalau kita lihat yang terjadi di Olimpiade Musim Dingin di Korea sempat ada keterlambatan satu jam pembukaannya karena ternyata ada serangan siber dalam sistem tiketnya," kata Erick Thohir dikutip Antara.

Erick mengatakan keterlibatan BSSN dan sejumlah lembaga intelijen tersebut berkaitan dengan sistem informasi teknologi yang digunakan di Asian Games sudah didukung secara daring.

"Jadi kita harus antisipasi karena memang dengan sistem yang ada sekarang, 'ticketing', semua sudah memakai sistem 'cloud', wiFi, internet sehingga mau tidak mau memang harus diantisipasi," katanya.

Asian Games sebagai arena kompetisi olahraga internasional memerlukan pengamanan tingkat tinggi mengingat banyak negara terlibat dalam ajang tersebut. Belum lagi, Indonesia merupakan satu dari 10 negara yang rawan serangan siber dunia.

Kejahatan Siber
Ilustrasi. (Foto: Digital Trends)

"Kami tidak ingin ada kejadian upacara pembukaan terlambat sampai satu jam sebagaimana terjadi pada pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Korea Selatan," ucapnya.

INASGOC, bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Badan Siber dan Sandi Negara, Kepolisian dan TNI untuk mencegah serangan siber terhadap penyelenggaraan pesta multi-cabang olahraga tertinggi di Asia itu.

"Kami akan dibantu tim dari Kominfo yang berjumlah 30 orang berikut para ahli sibernya. Badan siber juga akan membentuk tim bayangan yang bukan berada di bawah tim kami," kata Erick.

Meskipun INASGOC sudah mempunyai pusat kendali operasi yang bertugas mengawasi seluruh jaringan terkait penyelenggaraan Asian Games, Erick mengaku masih butuh dukungan dari lembaga-lembaga dan kementerian untuk mencegah serangan siber itu.

"Misalnya, serangan terhadap sistem tiket, seperti terjadi saat pembukaan Olimpiade Musim Dingin. Akreditasi wartawan juga terganggu dan itu pada seribu orang," kata Erick.

Sementara, Komjen Syafruddin mengatakan pengalaman Korea Selatan yang mengalami gangguan keterlambatan acara pada saat pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang juga menjadi pembelajaran bagi Inasgoc dalam penyelenggaraan Asian Games 2018 nanti.

"Kebetulan pengalaman saya kemarin menghadiri Olimpiade Musim Dingin di Korea itu ada kejadian serangan siber terhadap 'ticketing', ada beberapalah sehingga penyelenggaraan sedikit terganggu," katanya.

Namun masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir bahwa kejadian serupa di Pyeongchang itu akan terjadi di Asian Games 2018.

Syafruddin mengatakan kejadian di Pyeongchang pada Februari lalu lebih disebabkan oleh masalah politik antarkedua negara Korea Selatan dan Korea Utara.

"Kalau di Indonesia tidak ada hal-hal yang perlu dikhawatirkan, karena simpati dunia internasional kepada Indonesia cukup besar. Negara-negara tetangga kita cukup solid untuk mendukung penyelenggaraan ini," ujarnya.

Direktur IT dan Telekomunikasi INASGOC Edy Prabowo mengklaim telah menyiapkan sistem cadangan jika ada serangan terhadap pusat kendali operasi mereka. Edy mengatakan pusat kendali operasi INASGOC akan mengeluarkan sinyal jika terdapat serangan siber terhadap jaringan Internet mereka.

"Kami sudah menggelar audit teknologi informasi dari Dewan Olimpiade Asia," kata Edy.

Pada akhir 2017, Direktur Sistem Teknik Symantec Malaysia dan Indonesia, David Rajoo dan Country Manager Symantec Indonesia Andris Masengi memperkirakan serangan siber di 2018 lebih besar karena para peretas menyalahgunakan fungsi kecerdasan buatan.

Berikut ini prediksi Symantec untuk serangan siber pada 2018.

1. Serangan di blockchain

Seiring popularitas mata uang virtual atau cryptocurrency, peretas semakin melirik blockchain. Penjahat siber fokus pada pertukaran koin dan dompet koin (coin wallet), memanfaatkan komputer atau perangkat seluler korban sebagai "miner".

2. Serangan yang memanfaatkan AI dan machine learning

Kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan machine learning dimanfaatkan untuk perlindungan keamanan siber. Tapi, penjahat siber diperkirakan mulai mengubahnya untuk melancarkan serangan.

3. Malware file-less

Symantec melihat pertumbuhan malware file-less dan file-light tumbuh pada 2016 dan 2017. Malware ini bukan berupa berkas, namun, perintah (command) sehingga bentuknya tidak terlihat.

4. Serangan lewat IoT

Peralatan yang terhubung dengan internet, lazim disebut internet of things (IoT) seperti televisi, pengeras suara yang berada di rumah berisiko disusupi peretas. Pengguna IoT sering tidak mengubah setelan keamanan padahal alat tersebut memiliki akses ke jaringan di rumah. Hacker dapat mengelabui sistem di alat tersebut sehingga IoT akan menuruti perintah mereka. (*)



Angga Yudha Pratama

LAINNYA DARI MERAH PUTIH