Mengintip Kedekatan Seniman Lekra Hendra Gunawan dengan Bung Karno Pelukis kenamaan Indonesia, Hendra Gunawan. (Sumber: wikipedia.org)

TEPAT pukul 10.00 WIB, Jumat, 17 Agustus 1945, Bung Karno memekikkan proklamasi kemerdekaan Indonesia di halaman rumahnya disaksikan sekira ratusan orang. Kabar tersebut lantas membisik ke beberapa badan perjuangan dan disebarluaskan kepada masyarakat.

Para pemuda revolusiner, seperti Adam Mali, Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana, dan lainnya masih sibuk mengadakan pertemuan dan konsolidasi di markas Jalan Menteng 31, Jakarta, atau kelak bernama Gedung Joang 45. Di antara para tokoh pemuda tersebut, tampak seorang pemuda asal Bandung nan mahir membuat sketsa dan kelak dikenal sebagai pelukis kenamaan, bernama Hendra Gunawan.

"Puluhan bentuk poster saya, dengan jumlah kopi berbilang ribuan, gagasannya muncrat dari gedung ini," kenang Hendra seperti ditulis di dalam buku Surga Kemelut Pelukis Hendra; dari Pengantin Revolusi sampai Terali Besi karya Agus Dermawan T.

Memasuki tahun 1946 Hendra membentuk perkumpulan untuk melawan pendudukan pasukan kolonial. Perkumpulan nan gagah berani itu dibentuk Hendra bersama Barli, Sudjana Kerton, Soeparto, Abedy, Kustiwa, dan Turkandi. Mereka menamakan kelompok tersebut Pelukis Front.

Dengan senjata di tangan dan granat di pinggang, para Pelukis Front maju ke garis depan. Tujuan mereka ingin mengamankan kawasan Jawa Barat. Mereka mengintai dan menghadang pergerakan lawan. "Sebenarnya Hendra tidak ingin menembak musuh. Ia tentara amatir yang tak ingin membunuh," kenang sang istri, Karmini, seperti ditulis Agus Dermawan.

Menurut Agus, saat bersama front Hendra jarang sekali pulang ke rumah. Namun, ketika pulang Hendra selalu membawa sketsa-sketsa yang melukiskan perang, rumah terbakar, tentara Belanda mati, gerilyawan Indonesia terluka, atau pasukan BKR menggagas strategi.

Dari situlah muncul sketsa Hendra yang di hari kelak menjadi sebuah lukisan yang amat terkenal, dan dianggap sebagai salah satu adikaryanya. "Pengantin Revolusi," tulis Agus. Keahlian serta keberanian Hendra pun menjadi buah bibir.

Salah satu karya Hendra Gunawan, Pengantin Revolusi. (Sumber: http://archive.ivaa-online.org)

Hendra dan Bung Karno

Kebesaran nama Hendra terus menggema di antara tokoh-tokoh bangsa, salah satunya Presiden Indonesia Ir Sukarno. Bagi Bung Karno, karya-karya Hendra begitu memukau dan sarat akan makna. Hal ini lalu memantik minat Sang Presiden untuk mensponsori Hendra dalam pameran tunggal yang diadakan di Gedung Komite Nasional Indonesia (KNI) Pusat, Jalan Malioboro, Yogyakarta.

Mendapat kabar baik demikian, Hendra kaget bukan alang kepalang. Tawaran pameran itu, tulis Agus Dermawan, begitu luar biasa. "Hendra pun bekerja sekuat tenaga untuk menambah koleksi yang harus dipamerkannya." Pemeran tersebut dilaksanakan pada 1946 di Yogyakarta.

Bagi Hendra, pameran itu bukan sekadar menunjukkan lukisan-lukisannya terhadap Presiden Sukarno. "Tapi justru menunjukkan kemurahan hati Bung Karno. Bung Presiden," kata Hendra.

Saat pameran akan berlangsung, Presiden Sukarno disambut Hendra. Namun, Sukarno malah tertegun. Matanya berkeliling menatap ke dalam ruangan acara yang bersih itu.

Pelupuk mata Bung Karno mulai basah. Betapa tidak, selain disambut Hendra, di waktu bersamaan Sukarno juga melihat segerombolan orang kere menyambut kehadirannya. "Ia langsung memeluk Hendra," tulis Agus.

Hendra memang unik. Ia berbeda dengan seniman besar Indonesia lainnya. Namun, perbedaan itu pula yang kemudian menarik minat orang untuk melihat karya-karyanya. Pribadinya menjadi inspirasi dan semangatnya mulai menular. Hendra dan Bung Karno semakin menjalin tali persahabatan.

Bung Karno bersama Hendra Gunawan dan pelukis lainnya. (Repro buku Surga Kemelut Pelukis Hendra)

Setelah pameran itu, Hendra seringkali diundang ke Istana Negara. Bahkan tak jarang Hendra mengajak putranya tersayang, Tresna Suryawan. Perlakuan Putra Sang Fajar itu terhadap anak Hendra juga baik. Tak jarang Bung Karno menyelipkan cokelat cap Windmolen ke kantung Trisna.

Kebersamaan itu pula yang kemudian memekarkan kepercayaan diri Hendra sebagai pelukis Indonesia. Sejak saat itu, ia merasa sudah hadir sebagai pelukis yang boleh mendidik calon-calon pelukis. "Sudah waktunya menurunkan pengetahuan seninya kepada orang-orang lain," seperti dikutip dari Kompas, 17 Juli 1979.



Noer Ardiansjah

LAINNYA DARI MERAH PUTIH