Tradisi
Menghitung Hari Baik dan Nahas pada Masyarakat Baduy Alat Kolénjér yang digunakan masyarakat Baduy. (Foto: Elis Suryani Nani Sumarlina)

DI Baduy ada dua alat penting untuk menghitung hari baik dan nahas. Kedua alat ini bernama kolecer dan sastra yang masing-masing berperan meramalkan nasib, termasuk untuk menghindari hari sial.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad) Elis Suryani Nani Sumarlina menjelaskan,kolénjér merupakan alat perhitungan yang terbuat dari kayu. Alat tersebut diberi lubang yang tidak tembus, berupa titik dan garis yang membentuk kotak tertentu.

Jumlah titik-titik dan garis-garis dalam satu kotak mempunyai arti dan tafsiran tersendiri. Demikian pula dengan semua tanda yang digoreskannya tertera ukuran hari yang memiliki nilainya masing-masing, begitu juga dengan pasarannya.

Baca juga:

Taksu Ubud Angkat Keindahan Seni dan Budaya Bali

Penggunaan penghitungan kolénjér adalah hari Ahad, bernilai 5, sebutannya (Hadma); Sénén = opat ‘empat’ (Nenpat); Salasa = tilu ‘tiga’ (Salu); Rebo ‘Rabu’ = tujuh (Bojuh); Kemis ‘Kamis’ = dalapan ‘delapan’ (Mispan); Jumaah ‘Jumat’ = genep ‘enam’ (Manep); dan Saptu ‘Sabtu’ = salapan ‘sembilan’ (Tupan).

Pasaran dalam perhitungan kolénjér memiliki nilai. Pahing bernilai dalapan ’delapan’ dengan nama sebutannya Papan; Pon = opat ‘empat’ (Ponpat); Wagé = tujuh (Wajuh); Kaliwon ‘Kliwon’ = salapan ‘sembilan’ (Wonpan); dan Manis = lima (Nisma).

Paduan hitungan nilai hari dan pasarannya dapat diketahui bahwa pekerjaan, maksud, atau keinginan baik tidaknya suatu hajat dilaksanakan.

Ada dua benda yang dipakai suku Baduy untuk menghitung hari baik dan hari sial. (Foto: Pixabay/Saatra digunakan dalam berbagai keperluan, salah satunya bertani. (Foto: Pixabay/panjiarista)
Ada dua benda yang dipakai suku Baduy untuk menghitung hari baik dan hari sial. (Foto: Pixabay/Saatra digunakan dalam berbagai keperluan, salah satunya bertani. (Foto: Pixabay/panjiarista)

Menurut kepercayaan masyarakat Baduy, setiap orang memiliki hari nahas atau sialnya masing-masing. Untuk mengetahui “hari sialnya” dapat dilakukan dengan perhitungan nama orang yang bersangkutan.

“Dengan demikian, setiap orang yang bermaksud melaksanakan pekerjaan penting dan besar, seperti pernikahan, berpergian, mendirikan rumah, dan sebagainya selalu harus dicari hari baiknya agar niatnya itu dapat berjalan dengan baik,” tutur Elis Suryani Nani Sumarlina.

Sementara sastra adalah alat perhitungan yang terbuat dari sebilah bambu yang digunakan untuk menentukan sikap dan tindakan berdasarkan sifat yang terdapat dalam diri manusia.

Baca juga:

Upacara Yadnya Kasada Digelar dengan Prokes Ketat

Pada bagian punggung sastra, yakni hinis ‘sembilu’ diberi garis-garis dengan goresan memanjang, terbagi atas 20 bagian dan setiap bagian itu memiliki garis dengan jumlah yang tidak sama, berkisar antara 1 sampai 9 buah garis.

“Pembagian tersebut mengacu kepada aksara Cacarakan (Hanacaraka) yang digunakan dalam perhitungan berdasarkan urutan aksara tersebut, yakni aksara /ha/ sampai /nga/,” terang Elis.

Urutan pertama dimulai dari ujung pegangan sastra yang dinyatakan dengan garis-garis, dan setiap ruang dibatasi oleh bulatan kecil.

Urutan aksara dan jumlah garis menunjukkan nilai dari aksara Cacarakan dimaksud. Misalnya ha nilainya 4; na = 3; ca = 3, ra = 2; ka = 2; da = 3; ta = 3; sa = 2; wa = 4; la = 5; pa = 2; dha = 5; ja = 3; ya = 8; nya = 9; ma = 1; ga = 7; ba = 5; tha = 6; dan nga = 6.

Siapa pun orangnya dapat dihitung dan dicocokkan waktunya berdasarkan maksud dan keinginannya. Selain itu, dapat juga dihitung hari baik untuk melaksanakan pekerjaannya.

Saatra digunakan dalam berbagai keperluan, salah satunya bertani. (Foto: Pixabay/panjiarista)
Saatra digunakan dalam berbagai keperluan, salah satunya bertani. (Foto: Pixabay/sasint)

Demikian halnya dengan hari nahas, sehingga orang dapat menghindari tindakan tertentu lewat baik buruknya suatu tindakan yang akan dilakukannya.

Sastra dapat digunakan untuk beragam keperluan, di antaranya menentukan hari baik untuk melaksanakan perkawinan atau hajatan lainnya dengan cara mencari hari nahas. Hal ini dilakukan agar hajatan yang akan berlangsung berjalan dengan selamat dan lancar.

Sastra juga dipakai untuk menentukan kegiatan berhuma atau berladang, utamanya untuk mengetahui kapan kegiatan itu bisa dimulai. Hal ini bertujuan agar bisa menghindari salah tindak dan mengurangi risiko yang mungkin akan timbul akibat salah tindak tersebut, sehingga kapan kegiatan itu dimulai perlu diperhitungkan terlebih dahulu dengan cermat.

“Dasar perhitungannya ialah dengan cara menjumlahkan nilai nama dari suami istri yang bertanggung jawab atas kegiatan itu. Untuk huma sérang ‘ladang suci’, maka nama suami istri Girang Serat ‘dalam hal ini pelaksana upacara’ dihitung dan dijumlahkan. Kemudian jumlah aksara ditambah satu, dikurangi oleh jumlah kedua nama suami istri tersebut, sehingga diperoleh angka yang menunjukkan hari naasna ‘sialnya’,” papar Elis. (Imanha/Jawa Barat)

Baca juga:

Makna di Balik Prosesi Pernikahan Betawi

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Alun-Alun Kidul Keraton Kasunanan Surakarta, Tempat Nongkrong Sambil Melihat Kerbau Bule
Travel
Alun-Alun Kidul Keraton Kasunanan Surakarta, Tempat Nongkrong Sambil Melihat Kerbau Bule

Di Keraton Surakarta terdapat dua alun-alun atau ruang terbuka hijau (RTH) yang asik buat nongkrong di negeri aing.

Misteri Situs Megalitikum dan Keindahan Alam di Desa Doda
Travel
Misteri Situs Megalitikum dan Keindahan Alam di Desa Doda

Di beberapa titik di desa ini, tersimpan misteri dalam bentuk batu-batu besar yang konon berasal dari zaman megalitikum.

Manis, Gurih, Legit, Awali Buka Puasa dengan Serabi Khas Nusantara
Kuliner
Manis, Gurih, Legit, Awali Buka Puasa dengan Serabi Khas Nusantara

Serabi memiliki banyak jenis di beberapa wilayah Indonesia.

Jalur Pendakian Gunung Semeru Dibuka Kembali mulai 1 April 2021
Travel
Jalur Pendakian Gunung Semeru Dibuka Kembali mulai 1 April 2021

Keputusan tersebut berdasarkan dari pengumuman Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru nomor PG.08/T.8/BIDTEK/BIDTEK.1/KSA/3/2021.

Menu Vegetarian Rumahan yang Simple, Sehat dan Enak
Kuliner
Borobudur Writers and Cultural Festival 2020 Digelar secara Daring
Tradisi
Borobudur Writers and Cultural Festival 2020 Digelar secara Daring

Gelaran BWCF ke-9 dilaksanakan selama lima hari, dari tanggal 19 hingga 23 November 2020.

Makanan Serbagoreng di Negeri Aing
Kuliner
Makanan Serbagoreng di Negeri Aing

Punya cita rasa tersendiri bagi lidah orang Indonesia.

Pentingnya CHSE Bagi Hotel di Tengah Pandemi COVID-19
Travel
Pentingnya CHSE Bagi Hotel di Tengah Pandemi COVID-19

CHSE menjadi salah satu faktor penting yang harus dimiliki Hotel saat masa pandemi COVID-19

Orang Nusantara Hanya Menikmati Kopi Jelek
Kuliner
Orang Nusantara Hanya Menikmati Kopi Jelek

Orang Nusantara tidak pernah bisa menikmati sebenar-benarnya biji kopi.

Si Manis Kue Bugis untuk Menu Berbuka
Kuliner
Si Manis Kue Bugis untuk Menu Berbuka

Kue bugis dikenal di beberapa daerah di Indonesia dengan berbagai nama.