Headline
Menggembirakan, Tingkat Toleransi di Kalangan Mahasiswa Masih Tinggi Kuliah akbar mahasiswa 60 perguruan tinggi se DKI Jakarta. Foto: MP/Ponco

MerahPutih.Com - Temuan Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terkait adanya masjid kampus yang terpapar radikalisme sempat mencemaskan dunia pendidikan tinggi di Tanah Air.

Namun dalam sebuah survei terbaru yang dilakukan Universitas Indonesia justru menunjukan antitesisnya. Toleransi beragama di kalangan mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) masih cukup tinggi.

"Dari sisi persepsi dengan batasan nilai minimal 4 dan maksimal 18, didapatkan hasil rata-rata nilai adalah 16,3. Sedangkan toleransi dalam aspek sikap dengan batasan nilai minimal 5 dan maksimal 18, didapatkan hasil bahwa rata-rata nilainya adalah 14,6," kata ketua tim penelitian, Yon Machmudi PhD, di Jakarta, Senin (26/11).

Hasil penelitian itu dilakukan Universitas Indonesia (UI) melalui program pengabdian masyarakat (pengmas) untuk skema UI Peduli Kajian Strategis. Penelitian dipimpin oleh Yon Machmudi PhD dengan anggota Dr Nurwahidin, Kinta Hermawan MSI, dan Muhammad Akmal Farraz S.Ikom.

UGM Tolak Radikalisme
Salah satu aksi tolak radikalisme di Perguruan Tinggi Nasional (ANTARA FOTO/Andreas Atmoko)

Fokus utama yang diteliti adalah bagaimana tingkat toleransi di perguruan tinggi dan bagaimana pola asuh serta pendidikan agama berpengaruh terhadap toleransi di kalangan mahasiswa.

Penelitian ini dilakukan dengan menyebar kuesioner secara online di kalangan mahasiswa di beberapa perguruan tinggi negeri di wilayah Jabodetabek pada Maret-November 2018.

Ada sekitar 1004 mahasiswa dari tiga perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam survei ini yaitu dua PTN umum dan satu PTN berbasis agama. Namun setelah dilakukan cek validitas dinyatakan ada 799 responden yang dinyatakan valid datanya.

Profil dari responden adalah 97 persen muslim dan tiga persen non muslim serta 80 persen pernah mengikuti kegiatan keagamaan di kampus.

Yon Machmudi yang juga Ketua Prodi Kajian Timur Tengah dan Islam, Sekolah Kajian Stratejik dan Glolbal UI ini menambahkan, hasil penelitian lainnya adalah mahasiswa dengan pola asuh otoritarian di mana kedua orang tua cenderung keras dan tidak memberikan kesempatan anaknya untuk memilih maupun berbeda, menunjukkan hasil tingkat toleransi yang rendah.

Dari sekitar 175 mahasiswa yang berasal dari tipe pengasuhan ini sebanyak 115 (65 persen) responden memiliki toleransi beragama di bawah rata-rata.

Waspada bahaya laten radikalisme
Spanduk bahaya laten radikalisme di kawasan Jl Malioboro, Yogyakarta, Selasa (15/5/2018). BNPT menyatakan, paham radikalisme sudah menyusupi banyak kampus di Indonesia (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Sementara pola pengasuhan otoritatif atau demokratis di mana orang tua memberikan arahan dan tanggung jawab kepada anak-anaknya menunjukkan sebagian besar dari mahasiswa memiliki tingkat toleransi beragama tinggi.

"Hasil penelitian ini penting untuk disampaikan bahwa sikap tidak toleran maupun toleran itu tidak muncul begitu saja, tetapi juga dipengaruhi oleh pola asuh orang tua terutama sejak masa anak-anak maupun awal dewasa. Pendidikan agama baik formal maupun informal perlu ditingkatkan agar dapat berpengaruh positif dalam menumbuhkan toleransi di perguruan tinggi," katanya.

Kesimpulannya, lanjut dia, toleransi agama itu dapat berkembang dalam diri mahasiswa maka pendidikan toleransi perlu diperkenalkan sejak dini di keluarga dan dikuatkan di level pendidikan formal secara berjenjang terutama di level universitas.

"Hal yang menarik dari penelitian ini adalah walaupun toleransi beragama mahasiswa di tiga perguruan negeri ini cukup tinggi tetapi aspek toleransi politiknya menunjukkan data yang berbeda," katanya.

Yon Machmudi sebagaimana dilansir Antara menambahkan, penelitian ini telah melalui uji kevalidan yang tinggi karena instrumen yang digunakan telah diuji melalui uji pakar (expert judgment) dari beberapa ahli di bidang psikologi, kajian Islam maupun statitistik.

Beberapa ahli yang telah memberikan masukan dalam penelitian ini adalah Gagan Hartana (ahli statistik) Mayke S Tedjasaputra (psikolog) dan Dr Sri Mulyati (ahli agama). Kuesioner yang digunakan merupakan modifikasi dari model Socio-Religious Tolerance Questionnaire (Talib, 2009).(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Tingkatkan Kunjungan Wisatawan, PHRI Sumsel Dorong Pemerintah Kembangkan Wisata Unggulan

LAINNYA DARI MERAH PUTIH
Polisi Bubarkan Ribuan Anggota Pesilat yang Berkerumun, 5 Orang Diamankan
Indonesia
Polisi Bubarkan Ribuan Anggota Pesilat yang Berkerumun, 5 Orang Diamankan

Pembubaran massa dilakukan dengan memberikan tembakan peringatan sebanyak satu kali. Polisi juga menangkap lima orang yang dianggap sebagai penggerak massa sekaligus memprovokasi massa.

 100 Hari Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf, Apa Saja yang Sudah Dikerjakan?
Indonesia
100 Hari Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf, Apa Saja yang Sudah Dikerjakan?

Juru Bicara Kepresidenan Fadjroel Rachman dalam keterangannya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (29/1) memaparkan bahwa tidak ada disain program 100 hari pemerintahan

Buruh Tepati Janjinya Penuhi Gedung Grahadi
Indonesia
Buruh Tepati Janjinya Penuhi Gedung Grahadi

Massa aksi juga tersebar di beberapa titik

Jakarta Pusat Kasus Aktif Corona Paling Tinggi di Indonesia dengan Angka 2.213
Indonesia
Jakarta Pusat Kasus Aktif Corona Paling Tinggi di Indonesia dengan Angka 2.213

Administrasi Kota Jakarta Pusat menjadi daerah yang memiliki kasus aktif terbanyak di Indonesia.

Diperiksa Delapan Jam, Wagub Ariza Klaim Tak Ada yang Ditutup-tutupi
Indonesia
Diperiksa Delapan Jam, Wagub Ariza Klaim Tak Ada yang Ditutup-tutupi

Ahmad Riza Patria selesai menjalani klarifikasi dalam kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan saat acara pimpinan FPI Rizieq Shihab.

PPP Nilai Jokowi-Ma'ruf Berhasil Tunjukkan Proses Konsolidasi Politik
Indonesia
PPP Nilai Jokowi-Ma'ruf Berhasil Tunjukkan Proses Konsolidasi Politik

Dalam bidang hukum, masih ada tantangan penegakan supremasi hukum

Rencana Datangkan Ratusan TKA Bertentangan dengan Upaya Pencegahan COVID-19
Indonesia
Rencana Datangkan Ratusan TKA Bertentangan dengan Upaya Pencegahan COVID-19

Kebijakan ini dipandang tidak bijak terlebih saat ini masyarakat sedang dihadapkan pada situasi menghadapi pandemi COVID-19.

Kejaksaan Agung Buka Sosok Cleaning Service yang Diduga Terlibat Insiden Kebakaran
Indonesia
Kejaksaan Agung Buka Sosok Cleaning Service yang Diduga Terlibat Insiden Kebakaran

Tanggapan tersebut merupakan respons terhadap pernyataan anggota Komisi III DPR Arteria Dahlan.

41 Persen Pasien COVID-19 di Bandung Berasal dari Luar Kota
Indonesia
41 Persen Pasien COVID-19 di Bandung Berasal dari Luar Kota

Dinas Kesehatan Kota Bandung menyatakan 41,04 persen pasien yang dirawat atau diisolasi di sejumlah fasilitas kesehatan merupakan warga dari luar kota.

Mudahkan Konsultasi dan Rapid Test, 3 Mahasiswa ITS Bikin Aplikasi
Indonesia
Mudahkan Konsultasi dan Rapid Test, 3 Mahasiswa ITS Bikin Aplikasi

Aplikasi juga mampu melacak lokasi pengguna dengan sistem director finding menggunakan Bluetooth 5.1 BLE (Bluetooth Low Energy) sehingga tak menguras baterai cukup banyak.