Menggali Eksperimentasi Musik Harry Roesli Harry Roesli. (Dion Momongan)

DJAUHAR Zaharsyah Fachrudin Roesli sudah cakap memainkan alat musik perkusi, ketipung dan gitar sejak umur tiga tahun. Bungsu pasangan Mayor Jendral (Purn) TNI Roeshan Roesli dan Dokter Anak, Edyana, dikenal sebagai anak paling aktif.

Harry Roesli, begitu lelaki bertubuh tambun tersebut disapa, memang memilih jalan berbeda dengan ketiga kakaknya, Ratwini, Utawi, dan Rully, kesemuanya berprofesi sebagai dokter.

Dia sempat masuk Jurusan Mesin Institut Teknologi Bandung (1970-1975). Impian menjadi enjiner seketika berbelok kala cucu Marah Roesli, sastrawan penggubah novel Siti Nurbaya, menengok dunia seni musik dan memutuskan menempuh studi Jurusan Komposisi pada Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ, atau kini dikenal IKJ) pada (1975-1977).

Meski, bukan pendidikan seni tersebut kali pertama pria kelahiran Bandung, 10 September 1951 tersebut memilih menekuni dunia seni musik. Paling tidak, Harry Roesli telah mengenal dunia rekaman ketika membuat album Philosophy in Rock (Philosophy Gang) bersama The Gang of Harry Roesli pada tahun 1971. Salah satu lagu andalannya, Malaria.

“Dalam penggarapan Philisophy in Rock, Harry mengaku banyak dipengaruhi berbagai jenis musik dari Brian Auger, Cannon Ball Adderly, Crusaders, War, dan Hampton Hawyes,” tulis pengamat musik Theodore KS, pada Kompas, Jumat, 1 April 2005.

Kang Harry, sapaan akrab suami Kania Perdani Hadiman, memang senang menggabungkan berbagai instrumen musik bahkan benda-benda tak lazim seperti tong, suara knalpot motor, bahkan memasukan ambient suara gemuruh air terjun. Tak heran bila dia dicap sebagai musisi seni musik kontemporer.

Nama Harry Roesli mulai mencuat ketika menggarap musik rock opera bertajuk Ken Arok, di Gedung Merdeka, Bandung, 12 April 1975. Berbagai media massa lantas mengulas keapikan juga keunikan pentas disebut sebagai Wayang Orang Kontemporer.

Konser Ken Arok memang menarik perhatian besar pecinta musik. Kesuksesan itu kemudian dibawa untuk kembali dipentaskan di ibu kota Jakarta, Balai Sidang, 2 Agustus 1975, lantas berniat pentas di Semarang pada Januari 1976, meski tak jadi lantaran mendapat cekalan pihak berwajib karena naskah pertunjukan terlambat hadir di meja pemberi ijin.

Bukan Harry Roesli kalau tak bandel. Dia tak mau pusing soal pencekalan. Kang Harry bisa main musik di mana saja, bisa di kafe dengan penonton lebih-kurang seratus orang, apalagi di lapangan terbuka dengan penonton ribuan.

Dia kembali naik panggung bersama musisi Leo Kristi pada malam Apresiasi Seni Mahasiswa, di Gelanggang Mahasiswa Kuningan, 3 Desember 1977. Lantas mencoba bereskperimen dengan suara raungan trail, skuter, dan motor 'bebek' pada konser musik Sikat Gigi, 1982.

Tak cuma itu, Kang Harry juga sering melakukan ekperimen lain, seperti menghasilkan suara remasan kertas, dan memasukan alat-alat musik pentatonik, seperti kenong (gamelan), dan alat-alat musik tradisional lainnya bersama Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB).

“Musik Harry bukan musik kontemporer yang ‘gimana gitu’, tetapi punya kedeatan juga dengan tradisi kita,” ungkap Suka Hardjana, pemusik dan budayawan, dikutip Kompas, Minggu 12 Desember 2004.

Kang Harry kembali membuat kejutan dengan tampil di pub memainkan musik disko bersama musisi Jazz, Bubi Chen, sepanjang tahun akhir tahun 1980 hingga awal tahun 1990. Meski sempat masuk rumah sakit akibat kelelahan, dia kembali tampil pada konser Over Dosis, 30April-1 Mei 1994, di Gedung Kesenian Akademi Seni Tari Indonesia, Bandung. Lalu, kembali konser pada Opera Tusuk Gigi (1995).

Tak sekadar aktif mentas, Kang Harry pun sangat produktif menelurkan album. Tercatat tak kurang dari 25 judul kaset telah dilahirkan. Tak ada musisi lain bisa meniru produktifitas Harry Roesli menelurkan album. (*)



Yudi Anugrah Nugroho

LAINNYA DARI MERAH PUTIH